Bisnis

Rizal Ramli: The Real Leader Diuji pada Masa Krisis

Oleh : very - Senin, 06/07/2020 15:55 WIB

Ekonom Senior Dr. Rizal Ramli. (Foto: Ist)

Jakarta, INDONEWS.ID – Ekonomi sebuah negara ibarat dengan tubuh atau badan manusia. Jika badannya sehat maka walaupun ada gangguan dari luar maka tubuhnya tetap sehat alias tidak sakit. Namun, jika badan tidak sehat maka sekecil apapun gangguan datang dari luar, niscaya tubuhnya juga akan terkena imbasnya.

Ekonom Senior Dr. Rizal Ramli mengibaratkan ekonomi sebuah negara dengan tubuh manusia. “Sudah lama saya katakan bahwa kalau badan kita sehat-kuat, negara lain flu/batuk, kita gak kena...,” ujarnya dalam sebuah dialog yang diunggah melalui Youtube.

Saat ini, katanya, orang baru sadar ketika diingatkan oleh Bank Dunia bahwa ekonomi akan terpengaruh akibat pandemi virus Corona-19.

Padahal, kata Mantan Menko Menko Ekuin Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu, hal tersebut sudah lama diingatkannya.

Maka di saat krisis, kata Menko Kemaritiman itu, yang harus dipompa adalah ekonomi rakyat, UMKM, bukan ekonomi yang dimiliki oleh orang dengan modal besar.

“Ketika krisis maka yang harus dipompa adalah  ekonomi rakyat sehingga ekonomi menjadi bergerak, karena rakyat ada uang sehingga daya beli rakyat meningkat. Kalau (yang dipompa adalah ekonomi, red.) yang besar-besar, maka mereka punya uang untuk diinvestasikan ke luar dll. Jadi, tidak berpengaruh ke ekonomi nasional,” ujar Dr. Rizal Ramli yang punya pengalaman membangkitkan ekonomi setelah krisis 1998 yaitu ketika menjabat Menko Ekuin Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Inilah yang disebut mantan aktivis ini dengan ekonomi yang berpihak pada rakyat kecil, seperti telah diamanatkan oleh para pendiri bangsa ini.

Bang RR mengatakan bahwa saat ini ekonom pemerintahan Presiden Joko Widodo terlalu banyak menolak fakta dengan mencari faktor dari luar untuk mencari pembenaran diri. Pada akhirnya pemerintahan kehilangan banyak waktu untuk memperbaiki diri.

“Terlalu banyak menolak fakta-fakta yang ada dengan mencari berbagai `pembenaran` faktor eksternal (self denial), akhirnya sering telat untuk buat strategi kebijakan untuk membalikkan keadaan,” ujarnya.

Sesungguhnya, di sinilah ujian kepemimpinan yang sebenarnya, yaitu antara pemimpin yang gemar menyalahkan pihak lain (pihak luar negeri) dan pemimpin yang sibuk memperbaiki dirinya sendiri.

"The real leader diuji pada masa krisis,” pungkasnya. (Very)

Loading...

Artikel Terkait