Nasional

Buka Seminar Pemuda Katolik, Bayu Samudro: Moderasi Beragama Tanggung Jawab Bersama

Oleh : Marsi Edon - Selasa, 08/09/2020 16:01 WIB

Dirjen Bimas Katolik Kementerian Agama RI, Yohanes Bayu Samodro hadir membuka acara sekaligus menjadi pembicara utama dalam acara Seminar dan Kursus Kepemimpinan Dasar (KKD) Pemuda Katolik DKI Jakarta Tahun 2020.(Foto:Istimewa)

Jakarta, INDONEWS.ID - Dirjen Bimas Katolik Kementerian Agama RI Yohanes Bayu Samodro, membuka Seminar dan Kursus Kepemimpinan Dasar (KKD) Pemuda Katolik DKI Jakarta Tahun 2020. Selain membuka secara resmi acara tersebut, Bayu Samodra juga menjadi pembicara utama dalam kegiatan ini.

Yohanes Bayu Samodro dalam kesempatan ini menerangkan tentang upaya penguatan moderasi beragama di Indonesia. Ini merupakan salah satu program yang telah dicanangkan oleh Kementerian Agama dan membutuhkan dukungan semua pihak termasuk Pemuda Katolik.

"Radikalisme bisa muncul dimana saja dan dari agama mana saja termasuk dari agama kita sendiri untuk itu penting bagaimana kita mampu berperan dalam membangun peradaban bangsa dan dalam hal ini pentingnya kita membangun penguatan moderasi beragama," kata Yohanes Bayu Samodro saat membuka Seminar dan Kursus Kepemimpinan Dasar (KKD) Pemuda Katolik DKI Jakarta Tahun 2020 yang bertema “Peran Pemuda Katolik dalam Membumikan Moderasi Beragama`, di Aula Jayakarta, Kanwil Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta, Minggu (6/09/2020) yang lalu.


Pada kesempatan tersebut, ia menyampaikan beberapa pokok gagasan penting untuk dapat dijadikan pemahaman bersama para peserta terkait dengan konsepsi Moderasi Beragama yang ditawarkan oleh Kementerian Agama untuk memguatkan komitmen bersama untuk menjaga keseimbangan yang paripurna.

Kementerian Agama juga telah memasukkan adanya penguatan Moderasi Beragama sebagai salah satu isu besar yang tertuang dalam RPJMN 2020 – 2024 dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari strategi kebudayaan dalam memajukan sumber daya manusia Indonesia.

Bayu memberikan apresiasi kepada Pemuda Katolik yang sedang memusatkan perhatian pada nasib bangsa yang majemuk melalui kaderisasi yang berkelanjutan dan secara cerdas mengambil tema Moderasi Beragama.

Pemuda Katolik saat ini diibaratkan sebagai orang muda sedang membangun peradaban bangsa dengan batu – batu semangat yang niscaya akan terangkai menjadi tembok menara kebangsaan yang kokoh.

Menurut Bayu, Moderasi Beragama masih abstrak dan masih pada tataran wacana dan sudah barang tentu musti dibumikan secara nyata.

Meski demikian subtansi Moderasi Beragama tidak lain menjaga kebersamaan dengan sikap tenggang rasa sedangkan sikap tenggang rasa itu sendiri merupakan warisan leluhur nenek moyang kita untuk saling memahami dan ikut merasakan satu sama lain yang berbeda.

Artinya Indonesia memiliki landasan dan modal kultural untuk mengembangkan gagasan Moderasi Beragama.

Bayu tidak memungkiri agama memang bisa menjadi sajian makanan yang dapat digoreng sana sini dan mampu menjadi semangat tersendiri namun terkadang semangat itu dapat menjadi hal yang negatif untuk menjatuhkan orang lain. Selain itu, perkembangan teknologi informasi yang serba digital dan adanya media sosial sering kali mengganggu benteng kebersamaan dan tenun kebangsaan.

Bayu berharap, Pemuda Katolik dengan spirit mudanya bergerak secara inklusif terlibat dalam penguatan Moderasi Beragama bersama dengan pihak – pihak yang lain yang tidak cukup sebagai gerakan struktural melainkan juga gerakan kultural masyarakat.

Bayu juga menyampaikan empat gagasan Bimas Katolik ini ke depan adalah pertama, terkait penyederhanaan layanan birokrasi sampai ke daerah. Kedua, penyadaran pola pikir masyarakat dalam memaknai keber-agama-an dimana agama bukan sebagai tujuan.

Ketiga, terkait dengan katekese kebangsaan secara online dengan maksud kita harus berdamai dengan maju dan pesatnya teknologi informasi dan nilai – nilai keagamaan tidak cukup hanya disampaikan dalam mimbar – mimbar gereja akan tetapi bagaimana diharapkan mampu menjangkau generasi milenial yang lekat dengan teknologi digital.

Keempat, pembelajaran agama Katolik sebagai katekese kontekstual dan holistik.

Terkait dengan isu sertifikasi penceramah yang beredar di media, Bayu menjelaskan secara gamblang bahwa yang dimaksudkan oleh Menteri Agama Fachrul Razi itu sebenarnya lebih pada standarisasi bukan pada sertifikasinya.

Kata yang paling pas adalah penceramah yang bersertifikat untuk mencegah masuknya kandungan ceramah yang bertentangan dengan nilai – nilai Pancasila.

Pembimas Katolik Kanwil Kemenag DKI Jakarta Salman Habeahan dalam sambutannya menaruh harapan sekaligus bangga kepada Pemuda Katolik yang saat ini terus melanjutkan kaderisasi untuk orang muda Katolik.

Salman menilai acara ini sebagai langkah awal yang baik dimulai dari kader – kader muda dan perlu mendapatkan dukungan terutama dari kalangan Gereja Katolik baik hirarki atau pun para awam.

Sementara itu, Ketua Pemuda Katolik Komda DKI Jakarta Bondan Wicaksono menerangkan latar belakang acara seminar dimana kemajemukan memang tak bisa dipungkiri mengandung potensi – potensi konflik.

Perlu disikapi dan dipersiapkan langkah – langkah maju terutama melakukan upaya preventif atau pencegahan sebelum terjadinya konflik. Maka penting dan perlu mendorong penguatan kerukunan antar umat beragama.

"Untuk itu, Pemuda Katolik mendorong adanya penguatan Moderasi Beragama sebagai hak strategis dalam memajukan sumber daya manusia Indonesia” imbuh Bondan.

Bondan mengucapkan terima kasih atas kehadiran Dirjen Bimas Katolik Yohanes Bayu Samodro yang berkenan membuka dan memberikan pemahaman bagaimana sesungguhnya konsepsi Moderasi Beragama sebagai upaya penguatan nilai – nilai inklusif dan toleransi secara khusus bagi Pemuda Katolik dan masyarakat pada umumnya.*

 

 

 

Loading...

Artikel Terkait