Bisnis

Proyeksi Ekonomi pada 2021, Rizal Ramli: Makin Jeblok

Oleh : very - Kamis, 07/01/2021 18:57 WIB

Rizal Ramli, ekonom senior. (Foto: ist)

 

Jakarta, INDONEWS.ID --  Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2021 belum terlalu menggembirakan. Itu karena Indonesia masih harus berjibaku dengan pandemi Virus Corona.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam Press Statement terkait Pertumbuhan Ekonomi pada Triwulan III yang diselenggarakan secara daring pada Kamis (05/11) menyebutkan bahwa perekonomian Indonesia menunjukkan perbaikan signifikan. Dia menyebutkan terjadi titik balik atau turning point pemulihan ekonomi pada triwulan III 2020. Hal itu tercermin dari data ekonomi yang menunjukkan adanya perbaikan di berbagai sektor.

“Pada triwulan III 2020, perekonomian Indonesia tumbuh sebesar -3,49% (YoY); membaik dari triwulan sebelumnya yang sebesar -5,32% (YoY). Hal ini menunjukkan proses pemulihan ekonomi dan pembalikan arah (turning point) dari aktivitas-aktivitas ekonomi nasional menunjukkan ke arah zona positif. Seluruh komponen pertumbuhan ekonomi, baik dari sisi pengeluaran mengalami peningkatan, maupun dari sisi produksi. Perbaikan kinerja perekonomian didorong oleh peran stimulus fiskal atau peran dari instrumen APBN di dalam penanganan pandemi Covid-19 dan program pemulihan ekonomi nasional,” ujar Menteri Keuangan itu.

Lantas bagaimana proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2021?

Ekonom Senior Rizal Ramli mengatakan, jika berbicara kondisi ekonomi Indonesia di tahun 2020, maka hal itu tak terlepas dari tahun sebelumnya.

Periode 2018 hingga 2019 misalnya, ekonomi Indonesia sudah mengalami perlambatan. Semua indikator makro ekonomi, misalnya neraca perdagangan, transaksi berjalan, ‘primary balance‘ anggaran, merosot secara bertahap.

“Ekonomi melambat. Ekonomi (periode 2018-2019) tidak tumbuh lebih dari 5,1 persen,” ujar mantan Menko Perekonomian ini di Jakarta, Kamis (7/1/2021).

Begitu Covid-19 melanda Wuhan pada Desember 2019, Indonesia seperti biasa menganggap enteng. Masih banyak turis dari Cina yang masuk ke Indonesia.

“Padahal saat itu, semua orang mulai tutup ‘airport‘-nya dari Cina. Sebut saja Jepang dan Singapura. Tapi kita sok jago, malah kita kasih insentif untuk turis asing termasuk Cina untuk masuk Indonesia,” ujar mantan Menko Kemaritiman ini.

Pemerintah malah membayar buzzer untuk membendung opini bahwa virus Covid-19 sudah memasuki Indonesia.

“Termasuk kita bayar ‘buzzer-buzzer‘ Rp720 miliar untuk menutupi permasalahan Covid-19 seolah ini tidak ada masalah,” ujarnya.

Jadi, menurut Rizal Ramli, hingga Maret 2020, kita telah kehilangan tiga bulan waktu yang berharga untuk bertindak tegas untuk mencegah masuknya Covid-19. Seharusnya kita mengambil langkah-langkah mengurangi risiko secara kesehatan maupun ekonomi.

Maka, begitu Covid-19 diberitakan masuk di Indonesia, maka permasalahan ekonomi kita semakin kompleks. Daya beli kita makin hancur, lapangan pekerjaan juga nyaris tidak ada. Tetapi yang juga penting, uang yang beredar di masyarakat itu berkurang.

“Dari Januari sampai Desember itu hanya 3 persen. Selama September-Oktober itu malah minus dan belum pernah terjadi dari 1998,” ujarnya.

Itu berarti, menurut Rizal Ramli, uang yang beredar di masyarakat tersedot untuk membeli surat utang negara, karena Indonesia berhutang terlalu banyak.

“Jadi boro-boro di masyarakat ada uang tambahan, yang berbedar malah dikurangi. Ini yang dijelaskan kenapa daya beli anjlok luar biasa. Sehingga hasilnya, ekonomi tahun 2020 itu anjlok,” kata Rizal.

Karena itu, mantan Kepala Bulog itu mengatakan ada dua versi proyeksi ekonomi Indonesia. Pertama yaitu versi yang sebenarnya. Kedua, versi “angin surga”.

“Nah 2021 bagaimana? Ada kemajuan tidak? Ada kemungkinan bangkit tidak? Nah ada dua versi, versi ‘angin surga’ oleh Menteri Keuangan terbalik (Sri Mulyani) bahwa tahun 2021 ini akan bakal tinggi 5,5 persen,” ujar Rizal Ramli.

Menurut Rizal Ramli, sebelum Covid-19 saja belum pernah ekonomi kita tumbuh sebesar 5,5 persen. Apalagi di tengah pandemi virus Corona seperti saat ini.

“Aduh ampun deh, sebelum Covid-19 saja belum pernah 5,5 persen, cuma 5,1 persen. Ini kok tahun 2021 Covid-19 masih banyak, sudah ngaku klaim 5,5 persen. Kalau ngibul itu jangan keterlaluan,” ujarnya.

Terkait daya beli masyarakat, katanya, juga tidak ada perbaikan yang berarti. Kredit juga mengalami pertumbuhan negatif. Selanjutnya, inflansi juga rendah yang menunjukan daya beli tidak ada.

Rizal Ramli mengatakan, ekspor komosidi juga terbatas, sementara terjadi gagal bayar pada perusahaan UMKM. Dan lebih dari 60 kasus gagal bayar pada perusahaan pembiayaan seperti Jiwasraya dan lain-lain.

“Kesimpulannya 2020 ekonomi anjlok, tahun 2021 ekonomi jeblok, ini makin sudah makin susah dari tahun 1998,” pungkasnya. (Very)

 

Loading...

Artikel Terkait