Bisnis

BPS Laporkan Ekonomi Terkontraksi, Rizal Ramli: Ditangani Secara Coba-coba dan Amatiran

Oleh : very - Minggu, 07/02/2021 16:45 WIB

Rizal Ramli, ekonom senior. (Foto: ist)

Jakarta, INDONEWS.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 secara keseluruhan tercatat mengalami kontraksi sebesar 2,07 persen.

Menurut Ketua BPS, Suhariyanto, pertumbuhan negatif tersebut secara kumulatif merupakan kali pertama terjadi dalam 20 tahun terakhir, sejak krisis moneter pada tahun 1998.

"Untuk pertama kalinya ekonomi Indonesia kontraksi sejak 1998. Tahun 1998 karena krisis moneter dan 2020 pandemi," ujar Suhariyanto dalam rilis BPS secara virtual, Jumat (5/2/21).

Menanggapi hal itu, ekonom senior Rizal Ramli menyebutkan bahwa ekonomi Indonesia mengalami kontraksi dan “nyungsep” karena ditangani secara amatiran, bukan secara profesionalitas. 

``Kok bisa sampai nyungsep? Itu karena penguasa menyelesaikan masalah bukan dgn science,, tapi berdasarkan `hearsay` (kata siini siitu). Krisis ekonomi ditangani secara coba-coba, amatiran oleh pelaku skandal keuangan, yg tidak punya track record `turn-around". Malah fakta fakta dikacaukan oleh buzzeRP bayaran,`` kata bang RR, sapaan Rizal Ramli, dalam Twitter pribadinya, @RamliRizal, yang diunggah beberapa hari lalu.

Mantan Menko Perekonomian itu mengatakan bahwa Indonesia telah mengalami krisis ekonomi saat ini. Namun penyelesaiannya dilakukan oleh orang yang tidak kredibel, para pelaku skandal keuangan, dan tidak punya track record melakukan putar balik (turn-around).

“Krisis ekonomi ditangani secara coba-coba, amatiran oleh pelaku skandal keuangan, yang tidak punya track record ‘turn-around’,” ujarnya.

Ironisnya, kataya, berita tersebut telah dikacaukan oleh para buzzer, para perusak demokrasi yang asal ‘bunyi’. “Fakta-fakta dikacaukan oleh buzzeRP. Yo ambyar,” ujar mantan Kepala Badan Urusan Logistik pada era Presiden Gus Dur ini.

Pada bagian lain, Rizal Ramli juga men-tuit personalia kabinet yang disebutnya sangat gemuk, tidak efisien, dan tidak efektif. Hal ini, katanya, berbeda sekali dengan janji pada masa kampanye Presiden Jokowi yang akan melakukan efisiensi. Hal itu menunjukkan bahwa pemerintahan Jokowi tidak konsisten pada visi dan misinya.

“Konsistensi thd visi misi tidak ada, hanya jadi alat kampanye, sehingga idak aneh penunjukkan personalia hanya soal bagi2 kekuasaan dan kesempatan. Sangat gemuk, tidak efisien & tidak efektif,” ujarnya.

Belum lagi, kata Rizal Ramli, banyak orang yang nafsu melakukan tidakan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Praktik inilah yang menjadikan pemerintahan menjadi terlihat serem dan yang pastinya akan membuat visi dan misi sang presiden menjadi buyar.

“Belum lagi banyak yang napsu KKN-nya serem. Yo visi dan misi buyaar. Kelihatan tondo2 TKO,” pungkasnya.

Sementara itu, Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Pengeluaran Negara Kunta Wibawa Dasa Nugraha mengakui bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 mengalami kontraksi sebesar 2,07 persen (yoy). Namun angka itu, katanya, masih berada di atas rata-rata global.

“Meskipun minus tapi kalau tingkat dunia itu minusnya 3,5 persen berarti kita jauh lebih baik daripada rata-rata dunia bahkan ada negara negara yang minusnya jauh di atas 3,5 persen,” katanya dalam Webinar Percepatan Ekonomi Sosial di Jakarta, Minggu (7/2).

Kunta menjelaskan puncak tertekannya perekonomian Indonesia adalah kuartal II-2020 sebesar minus 5,32 persen. Hal itu terjadi karena stimulus pemerintah belum terakselerasi secara optimal.

Di sisi lain, ekonomi Indonesia yang mulai membaik pada kuartal III yakni minus 3,49 persen dan kuartal IV minus 2,19 persen terealisasi akibat stimulus pemerintah terus menunjukkan hasil terutama kepada masyarakat.

Menurutnya, berbagai stimulus itu yang menjadi penggerak perekonomian Indonesia sehingga secara keseluruhan tahun 2020 mampu tumbuh minus 2,07 persen.

“Ini stimulus kita sudah berjalan, stimulus yang kita berikan oleh pemerintah itu telah menggerakkan perekonomian sehingga pertumbuhan ekonomi kita 2020 hanya minus 2,07 persen,” katanya.

Terlebih lagi, stimulus perlindungan sosial dalam program pemulihan ekonomi nasional (PEN) yang cakupannya semakin luas dan targetting semakin baik telah mampu menjangkau hampir semua 40 persen masyarakat berpenghasilan terendah.

Ia menuturkan stimulus perlindungan sosial merupakan intervensi dari pemerintah dalam mendorong konsumsi seluruh lapisan masyarakat.

“Semua desil bisa merasakan bantuan pemerintah bahkan desil satu dan dua justru positif,” ujarnya. (Very)

 

Loading...

Artikel Terkait