Opini

Moeldoko Sang Penyelamat Partai Demokrat

Oleh : indonews - Selasa, 09/02/2021 13:55 WIB

Intervensi kekuasaan dalam partai politik. (Foto: Ilustrasi)

Oleh: Saiful Huda Ems*)

INDONEWS.ID -- Sejak munculnya fenomena Jokowi effect menjelang Pemilu 2014 hingga Pemilu 2019 suara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan lawan tandingnya (Partai GERINDRA) terus melesat, sementara itu suara Partai Demokrat (PD) terus anjlok hingga nyaris tidak pernah diperhitungkan lagi dalam kontestasi pertarungan politik Indonesia. Keadaan PD seperti itu jauh lebih parah lagi ketika Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menjadi Ketum PD menggantikan ayahnya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Masyarakat Indonesia semakin hari semakin cerdas dan kritis untuk memilih partai dan figur mana yang layak untuk memperjuangkan aspirasinya, namun sayangnya Partai Demokrat yang dulu sempat menjadi harapan besar bagi rakyat itu tidak jua memperbaiki performa dan kinerjanya, melainkan malah terjebak pada kebanggaan nama besar SBY yang pernah dua periode menjadi Presiden RI. Hal itu mengakibatkan partai ini menjadi Partai Dinasti, dimana Ketua Umum dijabat putranya sendiri (AHY), Wakil Ketua dijabat adiknya sendiri Edy Baskoro Yudhoyono (Ibas), Ketua Majelis Tinggi atau Ketua Dewan Pembina dijabat ayahnya sendiri Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan posisi lainnya yang dijabat keluarganya sendiri.

Orang-orangpun semakin heran dan merasa "geli" dengan struktur Partai Demokrat yang seperti main-main itu, terlebih bagi para kader dan pengurus partainya dari pusat hingga daerah. AHY yang baru belajar berpolitik jadi Ketua Umum dan sikap-sikap politiknya kerap sekali menjadi bahan tertawaan masyarakat, khususnya para pengguna medsos (Netizen). Kepemimpinannya di Partai Demokrat bisa dibaratkan dengan anak Sekolah PAUD memimpin OSIS SMA, maka bersyukurlah para politisi senior Partai Demokrat yang dipimpinnya seperti Max Sopacua, Andi Arief, Marzuki Ali, Rachland Nashidik dll. tidak bunuh diri minum baygon manakala memperhatikan sikap-sikap Ketum partainya yang konyol seperti anak kecil itu.

Menjelang PILKADA serentak 2020 lalu, AHY selain terbukti gagap dan gagal memimpin partai untuk memenangkan para kader-kader atau calon-calonnya dalam pertarungan kontestasi Pilkada, juga dianggap oleh para pengurus partainya telah mengingkari janjinya sendiri, yakni mau membantu minimal 50 % dana pemenangan PILKADA. Selain itu AHY juga mereka katakan telah memutuskan para calon Kepala Daerah sesuai kemauannya sendiri atau setidaknya kemauan DPP dan tidak mengindahkan usulan dari DPD dan DPC-DPC di daerah masing-masing. Lebih parah dari itu, DPP juga meminta "upeti" atau "mahar" politik terlalu tinggi pada setiap calon Kepala Daerah yang akan diusung oleh PD, akibatnya para pengurus dan Kader PD mulai resah, berang dan diam-diam berencana melakukan perlawanan dari dalam !.

Mereka kemudian bertemu dalam satu pemikiran untuk mencari figur baru penyelamat Partai Demokrat. Mereka sangat sadar bahwa dahulu PD merupakan partai besar yang sangat diperhitungkan para lawan politiknya, namun mendadak turun bahkan anjlok suara dan reputasinya gara-gara dipimpin figur politisi pemula. Merekapun sadar, bahwa dari dulu SBY apalagi AHY bukanlah sosok utama pendongkrak suara partai, sebab SBY hanyalah pendatang baru yang sibuk dengan pencitraan, SBY hanyalah penuai "berkah" bekerjanya mesin politik PD yang digagas, didirikan dan dijalankan oleh para inisiator dan pekerja politiknya dengan penuh keseriusan. SBY bagi mereka hanyalah sopir sewaan yang di tengah jalan memaksa para pemiliknya turun dari kendaraan, dan menggantikan posisi sopir, kernet dll.nya ke anak-anaknya sendiri.

Muncullah kemudian gagagasan baru dari mereka untuk mengadakan Kongres Luar Biasa (KLB) yang diharapkan dapat menjadi sarana penggantian Ketua Umumnya, bahkan bisa jadi menjadi sarana pembersihan Dinasti SBY dari Partai Demokrat untuk diganti oleh figur-figur baru yang lebih cakap dan sesuai tuntutan zaman untuk memimpin Partai Demokrat. Beberapa kader dan faksi terbesar di Partai Demokrat tiba-tiba seperti mendapatkan "ilham", bahwa Moeldoko mantan Panglima TNI yang kini menjabat sebagai Kepala Staf Kepresidenan itulah sosok yang sangat tepat untuk menggantikan AHY sebagai Ketum Partai Demokrat !.

Moeldoko selama ini dikenal sebagai sosok pejabat yang sangat terbuka dan sanggup menjadi "bapak" bagi para politisi partai politik dan aktivis ORMAS. Trauma citra buruk Kongres Partai Demokrat yang membuang para pendirinya dan memaksakan anaknya menjadi Ketum, adiknya menjadi Waketum dan ayahnya menjadi Ketua Dewan Pembina akan terpupus dengan sendirinya jika mereka berhasil mengusung dan memenangkan Moeldoko menjadi Ketum Partai Demokrat, yang untuk selanjutnya bisa mereka usung untuk menjadi Capres RI 2024 dan bertanding dengan sosok Capres 2024 terkuat lainnya yakni Ganjar Pranowo. Jikapun peta politik 2024 berubah, pun bisa sangat memungkinkan bagi Partai Demokrat untuk menduetkan Moeldoko dengan Ganjar Pranowo, entah itu sebagai Capresnya ataukah sebagai Cawapresnya, atau bisa jadi menjadi lawan tandingnya. Bila sudah demikian, tidakkah suara Partai Demokrat akan kembali melesat seperti dalam Pemilu 2009?

Dukungan untuk Moeldoko sebagai Ketum Partai Demokrat saya dengar kian hari kian terus mengalir dari para pemilik suara sah Partai Demokrat, yakni dari para Ketua DPD dan DPC di berbagai pelosok tanah air. Saya pikir KLB Partai Demokrat itu akan benar-benar terjadi, dan Moeldoko akan tampil menjadi Sang Penyelamat Partai. Teman-temanpun bertanya ke saya, bagaimana dengan Gatot Nurmantyo yang ingin menjadi Ketum Partai Demokrat? Sayapun menjawab, Gatot terlalu kecil untuk berhadapan dengan Moeldoko, jangankan melawan Moeldoko melawan Edy Baskoro Yudhoyono saja Gatot akan kalah. Lagian fokusnya Gatot itu bukan di politik tapi di perburuan para perempuan, makanya Ormas Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) yang didirikannya bersama Din Syamsuddin hanya seumur jagung, dan yang muncul kemudian hanya isue-isue perempuan di sekitarnya. Benar tidak?

*) Saiful Huda Ems (SHE) adalah Lawyer dan Pemerhati Politik.

Loading...

Artikel Terkait