Bisnis

Sebut Nilai Tukar Rupiah Berpotensi Menguat, Rizal Ramli: Pernyataan BI Ngasal

Oleh : very - Rabu, 14/04/2021 09:59 WIB

Rizal Ramli, ekonom senior. (Foto: ist)

Jakarta, INDONEWS.ID -- Bank Indonesia menyebutkan bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini terlalu murah atau berada di bawah fundamentalnya. Karena itu, rupiah berpotensi menguat ditopang oleh tingkat inflasi yang masih rendah. 

Sebelumnya, Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo mengatakan rupiah masih berpotensi menguat lantaran nilainya saat ini masih berada di bawah fundamental. "Rendahnya inflasi di suatu negara seharusnya bisa menjadi fenomena pendorong nilai tukar," kata Dody dalam Webinar "Economic Policy in Dealing with COVID-19 Pandemic and Proper Exit Policy", Selasa (6/4) seperti dikutil Katadata.co.id.

Mengkritisi pernyataan Deputi Gubernur BI tersebut, Direktur Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan mengatakan pernyataan BI tersebut kurang mendidik. Menurutnya, posisi rupiah saat ini malah sebaliknya kemahalan, overvalued. Karena itu terjadi karena transaksi perjalan yang terus menerus mengalami defisit, dan fundamental ekonomi Indonesia lemah.

“Pernyataan BI kurang mendidik. Posisi Rupiah saat ini malah sebaliknya: kemahalan, overvalued. Krn transaksi berjalan defisit terus-menerus, fundamental ekonomi lemah. Fiskal rapuh. Kondisi begini kok mau rupiah berjaya. Rupiah masih bisa turun terus, seperti Goldman Sach bilang,” ujarnya dalam akun Twitternya, @AnthonyBudiawan yang dipantau pada Rabu (14/4).

Ekonom senior, Rizal Ramli pun menimpali pernyataan Anthony tersebut. Melalui akun Twitternya, mantan Menko Perekonomian era Presiden Gus Dur itu mengatakan, bahwa pernyataan BI tersebut asal-asalan.

“Ini pernyataan BI yg ngasal. Cadangan devisa hasil ‘dopping’ akumulasi pinjaman luar negeri, debt service ration semakin tinggi, dan BI beli terus surat utang di pasar perdana,” cuit Bang RR.

Mantan Menko Kemaritiman itu pun men-tweet berita Bisnis.com yang menyebutkan bahwa nilai rupiah turun ke level Rp14.631 per dollar AS pada Senin (12/4).

Disebutka bahwa tata uang rupiah masih rentan terkoreksi di tengah prospek penguatan dolar AS. Kurs rupiah menyentuh posisi Rp14.631 per dolar AS berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) pada Senin (12/4/2021).

Seperti dikutip Bisnis.com, nilai itu turun 51 poin atau 0,35 persen dari posisi Jumat (9/4/2021) Rp14.589 per dolar AS.

Di sisi lain, berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah pada Senin (12/4/2021) ditutup melemah 30 poin atau 0,21 persen ke level Rp14.595 per dolar AS. Pada pukul 15.00 WIB, indeks dolar AS naik 0,13 persen ke menjadi 92,281.

Direktur TRFX Berjangka Ibrahim Assuaibi menyampaikan penguatan dolar AS menekan nilai tukar rupiah. Mata uang dolar terdorong optimisme pasar terhadap proyeksi perekonomian Paman Sam, khususnya dari Federal Reserve.

Mengutip pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell, ekonomi AS berada di titik perubahan dengan adanya ekspektasi pertumbuhan. Fed juga menaikkan proyeksi ekonomi AS pada 2021 menjadi 6,5 persen dari estimasi sebelumnya 4,2 persen.

"Meskipun pemulihan ekonomi AS lebih cepat dari prediksi The Fed tidak akan mengubah kebijakan moneternya," paparnya dalam publikasi riset.

Ibrahim memprediksi mata uang rupiah dibuka berfluktuasi pada Senin, tetapi cenderung melemah dalam rentang Rp14.585-Rp14.610 per dolar AS. (Very)

 

 

Loading...

Artikel Terkait