Bisnis

BPS Sebut 11 Sektor Masih Tumbuh Negatif, Rizal Ramli: Muka Pejabat Sembunyi di Mana

Oleh : very - Kamis, 06/05/2021 20:35 WIB

Ekonom Senior Dr Rizal Ramli. (Foto: Ist)

Jakarta, INDONEWS.ID -- Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi di tanah air -0,74% secara year on year (yoy) dan -0,96% qtq.  Dengan demikian, Indonesia masih berada dalam jurang resesi pada kuartal I-2021.

"Dari 17 sektor, ada 6 tumbuh positif dan 11 sektor negatif tapi cenderung membaik," ujar Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers, Rabu (5/5/2021).

Sektor yang masih tumbuh positif, katanya, adalah informasi dan komunikasi sebesar 8,72%, pengadaan air 5,49% dan jasa kesehatan 3,64%, pertanian, pengadaan listrik dan gas dan real estate.

Sementara itu 11 sektor yang masih tumbuh negatif yaitu transportasi dan pergudangan dengan -13,12%, akomodasi dan makan minum -7,26%, dan jasa lainnya -5,15%.

Selain itu, jasa keuangan, administrasi pemerintahan, pertambangan, jasa pendidikan, industri, perdagangan dan konstruksi.

"Kontraksi terdalam dialami sektor transportasi dan pergudangan, kontraksi double digit dan makanan minuman -7,26%,” ujarnya.

Dia mengatakan, meski mengalami kontraksi, secara umum ekonomi membaik tidak sedalam kontraksi kuartal IV 2020. “Artinya seluruh sektor ke arah pemulihan," ujar Suhariyanto.

Menanggapi laporan BPS tersebut, ekonom senior Rizal Ramli mengatakan, banyak pejabat sesumbar dengan mengatakan bahwa ekonomi Indonesia pada akhir 2020 cepat pulih. Bahkan, pada tahun 2021 ini ekonomi akan meroket.

"Banyak pejabat yang sesumbar pada akhir 2020  ekonomi  akan cepat pulih  dan pada 2021 akan meroket. Itu muka sembunyikan dimana eui," ujar Rizal Ramli dalam akun Twitternya, @RamliRizal, yang dipantau pada Kamis (6/5).

Sebelumnya, mantan Menko Perekonomian di era Presiden Gus Dur ini mengatakan, vaksinisasi yang diharapkan akan mengurangi resiko dan kematian akibat pandemi kelihatannya baru akan mulai intensif setelah semester II tahun 2021. Hal itu, katanya, lantaran keterlambatan supply vaksin.

Menurut ekonom senior Dr Rizal Ramli, efektivitas vaksinasi paling tidak baru terasa pada akhir 2022. “Paling cepat, effektifitasnya (vaksinasi, red.) baru akan terasa di akhir 2022,” ujarnya di Jakarta belum lama.

Dengan tingkat vaksinasi yang rendah dan lambat tersebut, menurut tokoh yang telah malang melintang dalam dunia birokrasi maupun swasta itu, walaupun dibantu dengan mikro-lockdown, sulit diharapkan ekonomi akan cepat membaik di tahun 2021.

“Tidak semudah ‘angin sorga’ yang diucapkan oleh ‘Menkeu Terbalik’ bahwa ekonomi Indonesia akan melesat 5,5% tahun 2021 — wong sebelum covid saja rata-rata hanya 5,1%,” ujar mantan Menko Kemaritiman itu.

Selain masalah pandemik, pertumbuhan kredit saja sangat rendah, bahkan negatif (-1,39% November 2020). Bahkan terendah sejak krisis ekonomi 1998. Hal itu, katanya, karena likuiditas di masyarakat dan lembaga keuangan tersedot setiap kali pemerintah menerbitkan Surat utang Negara (SUN). Maka terjadilah apa yang disebut sebagai “crowding-out”.

“Jadi boro-boro nambah, likuiditas di masyarakat ‘disedot’ - itulah yang menyebabkan daya beli rakyat semakin merosot,” ujarnya.

Di bidang fiskal, keseimbangan primer negatifnya semakin besar. Artinya hanya untuk bisa membayar bunga utang. Itupun harus dilakukan dengan meminjam lebih besar lagi, dengan bunga lebih tinggi dari negara-negara yang ratingnya lebih rendah dari RI. “Kita ini sudah bagaikan ‘Menggali Lobang, Menutup Jurang’. Menunjukkan bahwa pengelolaan fiskal amburadul dan ugal2an – walaupun dengan muka tebal tetap bela diri bahwa ‘pengelolaan fiskal hati-hati (prudent),” ujar mantan Kepala Bulog ini. (Very)

Loading...

Artikel Terkait