Opini

"Setelah Ini", Kumpulan Puisi Gerard N. Bibang

Oleh : Rikard Djegadut - Kamis, 13/05/2021 20:30 WIB

Gerard N Bibang

SETELAH INI-03:

TITIK START

setelah ini, kuayunkan langkah dengan gagah
melantunkan doa tapi bukan untuk para arwah
adalah titik start-ku meniti jalan sunyi
suatu cara-berada mencintaimu, wahai kekasih
jadi, jalan sunyiku bukan karena aku sedang merasa menjadi sufi

aku tahu engkau meragukan jalan sunyiku
aku tahu engkau bertanya: bukankah jalan sunyi itu membuat seseorang merasa sah dan halal untuk melarikan diri dari kewajiban-kewajiban sosialnya?
hahahahaa, aku tahu, aku tahu...aku mohon jangan ragu

masih ingatkah engkau petuah Sang Guru-mu dan Guru-ku dari berabad-abad silam:
jalan sunyi hakekatnya adalah sebuah cara mencinta dengan melebur diri kepada kekasih; metodenya adalah peniadaan diri dan itu ditempuh dengan terus-menerus mengikis kepentingan diri sendiri, dengan menyalakan harapan bahwa kekasih pasti datang dan perjumpaan empat mata melampias rindu pasti terjadi!

maka, setelah ini, jalan sunyiku adalah jalan rindu
engkau pun sudah tahu
ialah jalan cinta sampai mati
akibat sebuah cinta nan sejati
**

SETELAH INI-04:

JAWABNYA SEDERHANA

setelah ini, jawabnya sederhana: di antara engkau dan aku sudah ada hubungan cinta yang mesra
berkesiur dedaunan boleh berisik dan berarah ke mana suka
kenyataan cinta tetap tinggal

cinta kita bukan makhluk yang tiba-tiba
ia bagaikan sahabat seperjalanan yang tak pernah minggat
hanya aku yang sering melupakannya

engkau memang telah pergi
namun setelah ini, aku tak pernah sendiri
kehangatan rindu tetap mekar

biarkan orang melihat kita seperti gelombang berdebur
ah, mereka tidak tahu, di kedalaman samudera dua manusia sedang melebur

biarlah di luar sana luar sana hujan mengguyur
mereka tidak tahu sebuah cinta sedang meniti jalan rindu
harapan untuk bertemu tidak semu

cinta kita tidak pernah mati
peristiwa setelah ini akan memberi bukti

***

SETELAH INI-05:

TAK TERTAHANKAN

setelah ini, aku hanya menyebut angka tiga
lambang kesempurnaan cinta

wuallaaaah...kesempurnaan, apa itu kesempurnaan?
begitulah orang-orang menyinyir sambil mentertawakan cinta kita

aku bilang, silahkan tertawa, silahkan!
orang-orang itu saja yang tidak tahu jumlah tiga itu adalah tritunggal
tiga jumlahnya, satu hakekat-nya
bentuknya boleh berupa-rupa
engkau dan aku tetap satu
dalam cinta tak perlu kasat-mata bagi mata mereka

maka, setelah ini, cinta kita akan aku buatkan sebuah REDEFINISI
ialah lebih dari kondisi batin tetapi mencintai adalah komitmen
adalah pembuktian dalam kerja serta ketulusan dan kesetiaan

maka jika engkau bergembira, aku meneteskan air mata bahagia
jika engkau menderita, sangat beratlah rasanya menusuk kalbu
dan seluruh jiwaku dipenuhi rasa tidak tega
jika engkau sakit, aku tak berani mengemukakannya, sebab khawatir membuatmu lebih terluka

wahai kekasihku, sudah tak tertahankan jiwa ini menggapai kesempurnaan cinta
biarlah kerinduan ini merembes ke jalan-jalan setelah ini
mengayunkan langkah hingga dinyatakan berakhirlah di sini

***

SETELAH INI-06:

TAK PERNAH SENDIRIAN

setelah ini, aku kelihatan saja sendiri tapi tidak pernah sendirian
membara di dalam dada api keperihan
cintaku kepadamu tak terbantahkan lagi

maka setelah ini akan kugaungkan ucapan terimakasih
terimakasih engkau telah pilihkan bagiku sebuah ruang
di relung terdalam hatimu
di dalam persemayaman jiwaku yang remuk redam
engkau datang tinggal, menyiang dan menyuluh
saban hari tiap waktu

setelah ini, kubakar rinduku dalam sunyi kesendirian
dengan perlahan bersama alunan lagu kerinduan
kubakar rinduku dalam senyummu yang berkilau cahaya bintang
sampai-sampai sunyimu dan sunyiku berubah menjadi ombak berdebur
secepat-cepatnya bergulung-gulung menuju bibir pantai
dengan bergetar-getar hingga ke kaki langit

***

(gnb:jkt:Mei 21)

*) Gerard N Bibang adalah dosen sekaligus penyair kelahiran Manggarai, Flores NTT. Ia adalah penyair yang menahbiskan dirinya sebagai petani humaniora. Gerard saat ini berdomisili di Jakarta.

Loading...

Artikel Terkait