Bisnis

Rizal Ramli: Garuda Indonesia Bisa Diselamatkan Asal Tidak Pakai Cara Konvensional

Oleh : very - Minggu, 30/05/2021 14:02 WIB

Ekonom Senior Dr. Rizal Ramli. (Foto: Ist)

Jakarta, INDONEWS.ID -- PT Garuda Indonesia Tbk saat ini mengalami guncangan gara-gara situasi pandemi Covid-19 yang membuat penumpang pesawat plat merah itu menurun drastis. Hal ini pun berdampak pada kondisi keuangan perusahaan tersebut.

Karena itu, perusahaan berusaha melakukan langkah penyesuaian aspek supply dan demand di tengah penurunan kinerja. Salah satunya adalah menawarkan pensiun dini kepada para karyawannya.

Mantan Menteri Perekonomian Dr Rizal Ramli mengaku merasa sedih dengan kondisi PT Garuda tersebut.

Ekonom senior itu mengatakan bahwa pada tahun 2000 lalu dirinya pernah menyelamatkan maskapai penerbangan terbesar di Indonesia itu.

"Sedih lihat nasib Garuda saat ini RR pernah selamatkan Garuda tahun 2000," ujar Bang RR –sapaan Rizal Ramli melalui laman Twitter dipantau di Jakarta, Minggu (30/5).

Dia mengatakan bahwa PT Garuda bisa diselamatkan tapi bukan dengan cara-cara konvensional.

"Bisa tidak sekarang diselamatkan lagi ? Bisa ! Tapi tidak pakai cara-cara konvensional," ujar mantan Menko Kemaritiman itu.

Putri Gus Dur, Yenny Wahid juga meminta semua pihak untuk menyelamat Garuda Indonesia dari kebangkrutan.

Hal itu disampaikan Yenny Wahid dalam akun twitternya, Sabtu (29/5/2021).

“Banyak yg soal Garuda. Saat ini kami sedang berjuang keras agar Garuda tdk dipailitkan,” kata Yenny.

Yenny mengatakan, problem warisan Garuda besar sekali, mulai dari kasus korupsi sampai biaya yang tidak efisien. “Namun Garuda adalah national flag carrier kita. Harus diselamatkan. Mhn support & doanya,” pinta Yenny.

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan telah menyiapkan empat opsi untuk menyelamatkan PT Garuda Indonesia (Persero). Dari keempat opsi, dua di antaranya, restrukturisasi kinerja keuangan atau melikuidasi maskapai penerbangan pelat merah.

Sementara itu, Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengungkapkan alasan Garuda Indonesia menawarkan program pensiun dini kepada karyawan.

Menurutnya, di tengah situasi pandemi yang masih terus berlangsung, mengharuskan perusahaan melakukan langkah penyesuaian aspek supply dan demand.

"Perlu kiranya kami sampaikan bahwa program pensiun dipercepat ini ditawarkan secara sukarela terhadap karyawan yang telah memenuhi kriteria," ujar Irfan, seperti dikutip Beritasatu.com, pada Jumat (21/5/2021).

Selain itu, pendapatan Garuda turun 68% dan rugi Rp15 triliun. Emiten dengan kode GIAA itu terakhir kali menyampaikan laporan keuangan kuartal III-2021 yang berakhir September. Sepanjang Januari-September 2021, perseroan membukukan pendapatan usaha US$ 1,14 miliar atau setara Rp16 triliun turun 68% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$ 3,54 miliar dolar AS.

Penurunan pendapatan terjadi pada penumpang dan kargo. Pendapatan dari penumpang turun 71% menjadi US$ 736 juta dan kargo turun 26% menjadi US$ 180 juta. Pendapatan Garuda dari penerbangan charter naik hampir 4 kali lipat menjadi US$ 47 juta. Sementara dari haji turun 100% alias 0 dari sebelumnya US$ 294 juta.

Garuda mencatatkan rugi bersih US$ 1,07 miliar atau Rp 15 triliun. Padahal pada periode yang sama 2019, perseroan membukukan laba bersih US$ 122 juta.

Selanjutnya, saham Garuda melonjak turun, akibat kondisi keuangan. Saham PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) tertekan pada perdagangan Selasa (25/5/2021). Saham Garuda anjlok 18 poin atau 6,12% ke level Rp276 per lembar saham.

Pada perdagangan Senin, 24 Mei 2021, saham Garuda ditutup di level Rp294 atau melemah 22,00 poin atau 6,96% dari sebelumnya Rp316. Sementara posisi yang lebih lemah ada di level 290,00 pada 29 Januari 2020 lalu. Sepanjang tahun 2021 ini, saham GIAA merosot 21,39%. (Very)

Loading...

Artikel Terkait