Bisnis

BPK Kuatir Pemerintah Tidak Mampu Bayar Utang, Rizal Ramli: "Nah lho... RR dkk Sudah Ingetin Jauh Hari

Oleh : very - Jum'at, 25/06/2021 11:32 WIB

Ketua BPK, Agung Firman Sampurna mengaku khawatir pemerintah tidak mampu untuk membayar utang. (Foto: Ist)

Jakarta, INDONEWS.ID – Pinjaman Indonesia setiap tahun bertambah besar. Jika diiringi kemampuan membayar yang baik, berutang sebenarnya biasa-biasa saja. Namun jika tanpa diesertai kemampuan membayar utang yang payah apalagi harus meminjam utang lagi untuk membayar utang atau “gali utang tutup gunung” itulah yang sangat membahayakan.

Hal itu diingatkan lagi oleh ekonom senior, DR. Rizal Ramli. Karena itu, sudah jauh-jauh hari mantan Menko Perekonomian itu bersuara keras. Namun hal itu dibatah keras oleh pejabat pemerintah.

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengungkapkan pada Selasa (22/6) bahwa tren penambahan utang pemerintah dan biaya bunga telah melampaui pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) dan penerimaan negara.

Melihat data tersebut, Ketua BPK, Agung Firman Sampurna mengaku khawatir pemerintah tidak mampu untuk membayarnya.

Pernyataan tokoh nasional itu kini terbukti kebenarannya. "Nah lho.. RR dkk sudah ingetin jauh hari!!" kata Rizal Ramli menanggapi lewat akun Twitter, yang diunggah pada Selasa malam.

Pada Juli tahun 2018 lalu, mantan Menko Kemaritiman itu sudah mengingatkan soal bahaya utang. Dia mengkritik cara pemerintah menyampaikan tentang kondisi utang kepada masyarakat.

"Indikator yang dipakai pejabat-pejabat bela utang hanya ratio Debt/GDP. Itu menyesatkan!! Indikator-indikator yang lebih penting: ratio Debt Service/Export, Debt Service/Penerimaan, Primary Balance," ujarnya.

Namun, lanjut Rizal Ramli, saat itu dia dibantah oleh para pejabat bidang ekonomi yang dikomandoi Menteri Keuangan, Sri Mulyani. "Pakai ratio Debt/GDP itu menyesatkan! Tapi, RR waktu itu dibantah-bantah oleh pejabat-pejabat ekonomi," ucapnya seperti dikutip RMOL.

Jauh hari, RR sudah mempersoalkan utang luar negeri Indonesia. Tahun 2018 itu, dia sudah wanti-wanti bahwa utang kita sudah lampu kuning.

BPK telah melaporkan realisasi pendapatan negara dan hibah tahun 2020 sebesar Rp 1.647,78 triliun atau mencapai 96,93 persen dari anggaran. Sementara itu, realisasi belanja negara sebesar Rp 2.595,48 triliun atau mencapai 94,75 persen dari anggaran.

Hal itu membuat defisit anggaran tahun 2020 dilaporkan sebesar Rp 947,70 triliun atau 6,14 persen dari PDB.

Utang pemerintah sudah mencapai Rp 6.074,56 triliun pada tahun 2020. Jumlah utang ini naik tajam dibandingkan dengan tahun sebelumnya 2019, yaitu Rp 4.778 triliun. (Very)

Loading...

Artikel Terkait