Penulis : Noryamin Aini
(Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
Saat kita sukses mencapai prestasi, menggapai harapan, hati kita berbunga-bunga. Senyum kegembiraan terukir di wajah yang berhati sukses, karena ia telah merasa mendapatkan hal-hal yang diimpikan. Kisah sukses selalu menghiasi ekspresi kegembiaraan. Di hati anda juga sekarang terukir rasa senang, karena anda sedang merenung makna sukses dan bahagia.
Sukses dan bahagia adalah entitas hati yang tidak terpisahkan. Keduanya saling melengkapi. Setiap orang pasti pernah merasakan kesuksesan walaupun terhenti di batas rasa bahagia. Hal yang membedakan capaian kesuksesan hanya kualitas dan kuantitasnya. Pembaca yang budiman pasti merupakan sosok yang berlimpah kisah sukses.
Sahabat! Ada kesuksesan yang biasa-biasa saja. Tetapi ia terus disyukuri. Namun, ada kesuksesan spektakuler yang pelakunya tenggelam dalam petualangan mencari segala hal yang lebih. *Satu terasa kurang, Lalu dua terus diburu*. Saat kita mendapat promosi jabatan, acara "selamatan-syukuran" lazim menjadi petanda kegembiraan. Karena, promosi jabatan identik dengan peningkatan penghasilan, dan fasilitas lebih lainnya.
Tetapi pernahkah kita menyadari bahwa peningkatan penghasilan, terutama, juga selalu diikuti dengan perubahan gaya hidup yang meroket (hedonic treadmills). *Masih ingat kisah lawas ini?* Setelah punya sepeda ontel, duit berlebih menyemangati kita untuk membeli sepeda motor. Setelah itu, kita terus berhasrat membeli mobil; dan gonta-ganti mobil yang dinilai lebih mewah dan dirasa lebih sesuai dengan jabatan baru.
Begitu seterusnya. *Batas capaian prestasi sering tidak membuat kita puas*, yaitu merasa cukup dengan capaian seadaannya; menyukuri apa-apa yang telah dikaruniakan Tuhan. *Rasa keinginan memiliki sesuatu yang lebih membuat kita terus memburu yang lain, sampai batas yang sejatinya tidak pernah kita dapat capai*. Kenapa? karena suatu yang terus kita buru adalah ilusi-fantasi hedonik, obsesi nafsu, yang tidak mengenal batas kepuasan.
Di celah renungan tentang kisah kesuksesan mencapai prestasi, saya justru menyimak pesan lain dari isi al-Quran. Kenapa al-Quran cukup banyak bercerita tentang kisah sukses melewati cobaan-ujian-musibah dibanding bertutur prestasi mencapai harapan, terutama sukses yang terukur secara kuantitatif. Bahkan al-Qur'an menyematkan atribut-predikat sukses melewati cobaan sebagai ciri orang-orang sabar yang dipuji (salawat) dan dikasihi (rahmat) Allah (QS. al-Baqarah : 156-7).
Sahabat! Sukses itu euforia atas basis menggapai harapan, yaitu prestasi mendapatkan hal-hal yang lebih. Tetapi, nafsu hedonik tidak mengenal batas kepuasaan dengan tumpukan jumlah prestasi dan kesuksesan yang telah dicapai. Ingat! *Kesuksesan, faktanya, hanya satu titik episode petualangan abadi yang melelahkan untuk terus memburu hal-hal yang lebih (hedonic treadmill)*. Kita akhirnya menjadi budak nafsu.
Banyak manusia yang mengorbankan hidup dan keluarganya untuk memburu prestasi tanpa dapat menikmati hidup sebagai manusia yang bertuhan; dan sebagai makhluk sosial. Rasa kasih Tuhan hilang di dalam kubangan keserakahan. Rasa penghambaan diri pada Tuhan dikorbankan atas nama mengejar impian. Aturan Tuhan dihujat karena ia menjadi penghambat untuk memuaskan keserakahan.
*Adakah kebahagian dalam petualangan memburu harapan hedonik?* Kata psikolog, kebahagiaan itu adalah qalbun saliim, yaitu kondisi hati yang dipenuhi oleh luapan emosi dengan karakter rasa empati, peduli, senang, penuh syukur, rasa dikasihi Tuhan, dan rasa terpuaskan walaupun dengan materi dalam jumlah yang sangat terbatas.
Dalam emosi seperti ini, jumlah sedikit terasa cukup, untuk kemudian disyukuri. Jumlah materi lebih yang dimiliki akan menjadi modal untuk dapat berbagi lebih banyak lagi pada sesama, karena berbagi adalah ekspresi kebahagiaan. Kesendirian tetap disyukuri karena kita diberi kesempatan lebih banyak untuk merenung, muhasabah, evaluasi diri. Saat terjebak dalam sedih, kita mengerti penderitaan saudara-saudara kita yang tidak bernasib sebaik kita.
Sahabat! Kesuksesan tanpa tantangan-cobaan, terasa hambar. Di dalamnya, tidak ada duka yang mengajarkan empati dan rasa syukur. Sebaliknya, kisah sukses melewati cobaan-musibah menghiasi lembaran dan ruang hati yang merasa dikasihi Tuhan. Kasih sayang Tuhan telah menyelamatkannya dari petaka-tragedi. Dalam kisah sukses melwati cobaan-musibah, kita belajar bahwa *tidak ada kesedihan yang abadi; tidak ada cobaan di atas batas kemampuan manusia*. Hanya perasaan hati yang tidak kuat akan menjadi pembenaran hati yang merasa cobaan Tuhan yang bertubi-tubi di atas kemampuannya.
*Hakikat kebahagiaan itu adalah kemampuan kita melewati cobaan-musibah*. Kebahagiaan itu bukan prestasi yang melambungkan fantasi euforia untuk memburu hal-hal yang lebih. Di dalam pergumulan melawan cobaan-musibah, dan keluar dari kesedihan, sungguh ada kesabaran; ada rasa tawakkal (menyerahkan semuanya) pada Allah saat kita menyadari batas kuasa manusia. Di dalamnya, ada syukur karena merasa diselamatkan oleh Allah. Di dalamnya, ada pelajaran tentang strategi-kiat sukses melewati cobaan-musibah.
Kisah sukses keluar dari musibah-cobaan adalah kualitas hati yang merasa dikasihi Allah. Dalam duka, ada kasih sayang, empati, kepedulian, dan kebersamaan yang membuat hidup kita lebih berwarna-warni. Dalam kesedihan, dalam musibah, ada Allah yang setia menemani dan menghiburkan kita. Perasaan seperti ini akan menghadirkan rasa bahagia; perasaan tidak pernah ditinggalkan oleh Allah dalam kesendirian; perasaan disayang-dikasihi oleh Allah; perasaan dipilih sebagai sosok yang dimuliakan oleh Allah. Perasaan seperti ini akan membebaskan kita dari jebakan perbudakan memburu fantasi hedonik yang tidak berbatas.
Sahabat! Kalau nafsu tidak mengenal batas kepuasaan, lalu kapan kebahagiaan dapat terpuaskan oleh hati yang terus dan selalu merasa kurang? Jika berbagi-memberi adalah ekspresi prinsip hidup yang memiliki materi yang lebih, lalu, akankah nafsu keserakahan memberi peluang bagi hati untuk dapat berbagi? untuk dapat merasakan kebahagiaan berbagi-memberi dalam keterbatasan materi yang kita miliki. Adakah rasa syukur di hati yang selalu merasa kurang? Adakah rasa kedamaian di hati yang merasa selalu ditinggal dan dibenci Tuhan? Adakah rasa ketenangan di hati yang selalu merasa orang lain adalah pesaing untuk dia memburu kepuasaan?
*Hidup ini nampaknya lebih dari sekedar memburu kepuasaan asa dan fantasi hedonik yang tidak berbatas*. Fantasi hedonik sungguh tidak akan pernah memberi kepuasaan. Di titik nadir ini, kisah sukses tidak identik dengan capaian kebahagiaan. Ingat! kesuksesan hanya media mencapai kebahagiaan. Ia bukan tujuan hidup.
Pamulang, 20 Dzul Qa‘idah 1442 H