by : Noryamin Aini
(Dosen UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta)
*"Hanya orang mati tanpa masalah. Itupun kalau di dalam kubur tidak ada siksa”*. Begitu bait pitutur sederhana seorang ustadz.
Covid-19 masih menebar duka, namun, tanpa kita boleh kehilangan harapan untuk terbebas darinya. Entah sudah berapa banyak keluarga-kerabat kita, saudara, belahan hati, kembaran jiwa yang direnggutnya. Pada puncaknya, angka kematian pasien covid-19 sempat mencapai 2.069 orang per hari pada 27 Juli 2021. Menurut catatan WHO, angka ini tertinggi di dunia, mengalahkan Brazil dan India. Angka penambahan kasus barunya juga pernah mencapai level kritis, 56.757 pada 15 Juli 2021. Tentu, ada duka dan kekhawatiran yang menggila dalam tragedi covid. Ada yang bertutur bahwa 1442 H adalah tahun duka. Biarlah. Pasti semuanya bisa berlalu.
Positifnya, tren angka pergerakan efek negatif covid memang sudah melandai. Belakangan, grafik perubahannya terus membaik. Dibanding angka penambahan pada 15 Juli 2021, jumlah kasus baru covid, pada 7 Agustus 2021, turun sampai 56%. Di sisi lain, jumlah pasien sembuh melampaui jumlah kasus baru. Semuanya patus disyukuri. Tetapi, trauma duka akibat kehilangan orang yang kita cintai, dan kesedihan warga yang kehilangan sumber kehidupan, terutama, menjadi catatan buruk dari petaka covid-19.
Sahabat! Hidup memiliki rumusnya sendiri; mempunyai ritme, arah, dan pola geraknya sendiri. Kita suka (طَوْعٌا) atau tidak suka (كَرْهًا) terhadapnya. Ia adalah qadar Allah (QS. Ali Imran : 83) sebagai kontrak hidup kita dengan Allah, Zat yang menghidupkan dan mematikan. Ia sulit untuk dapat diatur sesuai logika dan selera “suka-suka” kita (semau gue). Faktanya, saat kita berharap gembira, ketenangan batin kita, lazim, terusik oleh peristiwa duka.
Inilah hidup dan kehidupan. Keduanya bergerak dinamis, terus berjalan, berubah tanpa henti. Keduanya bergerak tanpa mempedulikan harapan dan gejolak letupan emosi dan perasaan kita. Kita dibuatnya terpuruk dalam ketidak-berdayaan menentang qadar Allah.
Terus kita mau berharap dan melakukan apa ketika terusik petaka? tenggelam dalam sedih? menyalahkan Allah? menyeret orang lain lebih lama dalam pusaran duka? atau berusaha menghibur diri untuk keluar dari duka dalam kepasrahan hakiki berharap kasih-sayang Allah? Pilihan terakhir ini membahagiakan dalam tuntunan ilahi. Ini kiat orang cerdas, bijak dan visioner untuk meretas kebekuan emosi dan kesedihan hati yang terlilit duka.
حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ، نِعْمَ الْمَوْلَي وَنِعْمَ النَّصِيرُ
Cukuplah Allah, bagi kami, sebagai sebaik-baiknya wakil, tempat tumpuan keberserahan diri, Pelindung; sebagai Tuan, Pangeran, dan Penolong; sebagai tempat kami berharap damai, keluar dari petaka panjang dan lama ini.
Sahabatku yang baik hati! Sungguh tidak bisa dipungkiri bahwa kehidupan ini tidak selamanya mudah, ramah dengan perasaan dan harapan kita. Bahkan, banyak peristiwa buruk membuat kita sering tenggelam dalam kesedihan, dan menggoreskan duka yang cukup lama untuk dilupakan. Banyak dan panjang daftar kesedihan yang dapat dijejer untuknya.
Kesedihan tersebut terkadang membuat kita sering galau, ragu untuk mencoba melangkah, atau membuat kita merasa lemah untuk mampu bertahan. Sadarlah! Ini perwujudan jiwa yang rapuh. Ia akan membunuh masa depan, mematikan spirit harapan bahagia, untuk kita kuat sampai ke titik akhir yang baik dan bahagia (khusnul khatimah) dunia-akhirat. Bukankah berhenti di satu titik perjalanan, ia akan menjadi akhir petualangan menuju kesempurnaan.
Sahabatku yang dicintai dan dikasihi Allah! Ini satu petuah bijak yang dapat menuntun kita bergerak yakin untuk keluar dari dilema duka. Semoga.
“Jiwa-qalbu yang bahagia dalam kepasrahan setelah mencoba adalah kekuatan yang super, dan perisai yang kokoh untuk kita mampu menggumuli dunia yang kejam ini dengan penuh optimisme”. Jiwa-qalbu ini akan dapat menguatkan imunitas tubuh kita saat meresponse gangguan fisiologis, terutama, saat ancaman covid masih terus menghantui pikiran kita.
“Jiwa dan qalbu yang tenang adalah samudera batin, seperti lautan teduh yang dalam dan luas”. Maa shaa Allah. Ia mampu meredam badai terpaan angin, alir deras arus air laut, atau gerak massa tektonik di dasarnya, yang akan memicu gelombang.
Ya Allah, dalam tenang, kurasakan kebahagiaan, walau banyak duka dalam beragam peristiwa. Dalam teduh jiwa-qalbu, tidak ada ujian-musibah yang kurasa menjadi duka dan nestapa, apalagi siksa atau 'azab derita. Indah, syahdu, dalam tafakkurku, ia telah berubah menjadi hikmah yang menyentuh batin terdalam untuk bangkit, seperti 'uzbah, rasa segar air penawar dahaga yang pekat di terik panas mentari.
Sahabatku! Seberat dan sedahsyat apapun gesekan keras hidup dan kehidupan, jiwa-qalbu kita akan mengubah dan menampungnya menjadi kesedihan atau kebahagiaan. Kita adalah mesin waktu yang menentukan arah dan wujudnya. Aku pilih jalan bahagia. Semoga dalam berkah dan ridlo Allah kujalani semua cobaan hidup ini.
Sebentar lagi kita akan menutup tahun 1442 H, episode waktu yang penuh duka. Di tahun ini, kita telah kehilangan banyak hal yang berharga dan orang-orang yang sangat berarti dalam hidup kita. Tetapi, biarlah semunya menjadi kenangan manis, spirit dan kekuatan untuk kita menatap hari esok, untuk kuat bertahan memperjuangkan harapan dan amanah yang mereka titip di pundak kita. Semoga semua musibah dan duka menjadi indah pada waktunya.
Biarkan kehadiran mereka tetap dalam rindu kita, dan dalam ingatan kita. Biarkan kebaikan mereka yang dikenang, terus menjadi kekuatan, asa, optimisme, arah, dan titik beranjak kita menuju qalbu yang penuh syukur, ikhlas dan ridlo menerima semua suratan hidup ini (qadarullah).
Biarlah semua peristiwa duka mengajarkan hikmah. Kusyukuri musibah penuh duka justru mengajarkan arti sabar. Linu dan liku kehidupan mengajarkan arti terjal medan perjuangan yang menuntut spirit dan aksi lebih. Kesulitan mengajarkan arti limit tidak berbatas maksimal usaha. Ketidak-berdayaan mengajarkan arti kepasrahan, keberserahan diri pada Zat yang maha kuasa. Desakan dan himpitan dalam kesendirian mengajarkan kepedulian untuk sebuah rangkulan dalam kehangatan. Keterbatasan mengajarkan arti berbagi walau dalam keterpaksaan, tetapi ia akan menjadi kekuatan cinta dan empati di hari tua.
Ya Allah! Tahun 1442 H memang tidak mudah. Banyak hal yang sudah kami coba, tetapi semunya terbentur oleh banyak kendala. Ia terhenti tanpa hasil yang kami duga, walau dalam jumlah yang sedikit. Dalam kesulitan ini, jumlah banyak terkadang terasa sedikit, bahkan terasa tidak cukup. Entah sampai kapan cobaan berat ini harus kami jalani. Kasih-sayang-Mu juga akan mengakhiri dan menuntaskan ini semua.
Namun, kami masih tetap harus bersyukur, faktanya, sedikit tidak berarti tidak ada, dan juga tidak harus berarti kurang. Sebaliknya, jumlah banyak sering tidak tersisa, ludes untuk memuaskan gejolak euphoria yang tidak berbatas. Kesedihan yang pekat di tahun ini juga sejatinya tidak mengajarkan kepada kamu duka dalam perjalanan batin orang-orang yang terus belajar sabar dan ikhlas menjalani cobaan.
Dalam duka, aku selalu menemukan mutiara hikmah untuk bahagia; hikmah untuk menatap hari esok yang masih panjang, atau saat-saat kita harus meninggalkan dunia yang fana ini. Selamat tinggal tahun 1442 H yang telah menorehkan daftar panjang duka. Esok masih banyak hal-hal yang lebih baik, dan penuh bahagia.
Pamulang, 28 Dzul Hijjah 1442 H.
#Aku_pilih_kuat_dalam_duka