Jakarta, INDONEWS.ID - Salah satu profesor Institut Pemerintahaan Dalam Negeri atau yang dikenal IPDN, Profesor Dr. H. Dahyar Daraba, M.Si menyampaikan ringkasan orasi ilmiah kepada media massa menjelang pengukuhannya sebagai guru besar IPDN bidang Ilmu Administrasi Publik pada bulan Agustus ini.
Profesor Dahyar Daraba merupakan dosen IPDN yang ditetapkan sebagai Guru Besar berdasarkan surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia (Mendikbudristek) nomor 34599/MPK.A/KP.05.01/2021.
Dalam surat keputusan tersebut tertulis bahwa berdasarkan penetapan angka Kredit Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 108/E4/KP/GB/2021 tanggal 30 April 2021, Prof Dahyar memperoleh angka kredit sebesar 876,70.
SK jabatan fungsional yang ditandatangani Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Nadiem Anwar Makarim, tertanggal 9 Juni 2021 tersebut resmi berlaku terhitung sejak 1 Mei 2021.
Saat ini, Prof Dahyar menjabat sebagai Kepala Pusat Lembaga Pengabdian Masyarakat Terluar Instutu Pemerintahan Dalam Negeri (LPM-IPDN) Pusat.
Dalam salinan yang diterima media ini, Prof. Dr. Ir. H. Dahyar Darada, M.Si menyampaikan orasi ilmiah berjudul "PUBLIC TRUST: Apa, Mengapa dan Bagaimana Penerapannya Dalam Menciptakan Pelayanan Prima".
Menurut Prof Dahyar Darada masyarakat saat ini berada dalam era MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN), era revolusi industri 4.0, atau era masyarakat 5.0 atau disebut era virtual governance.
Melalui New Public Governance (NPG) di era Society 5.0, kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI) akan mentransformasi big data pada segala sendi kehidupan organisasi serta the Internet of Things menjadi suatu keniscayaan dan kearifan baru yang dapat didedikasikan untuk meningkatkan kemampuan pemangku kepentingan dalam membuka ruang dan peluang guna perwujudan public trust.
Pemikiran transformatif ini membantu pemangku kepentingan dan kita semua dalam rangka menjalani kehidupan yang lebih etis, estetis dan bermakna dengan cara “saling memercayai” (mutual trust).
Dengan demikian, semakin jelas fokus dan lokus pengembangan public trust pada kecerdasan alamiah (natural intelligence/ NI) atau kecerdasan spiritual (spiritual intelligence/SI) oleh setiap aktor yang terfokus pada re-aktualisasi dan apresiasi terhadap hakikat penciptaan, harkat dan martabat manusia (human centered) kreatif, inovatif dan bernilai (bermartabat) bagi publik.
Hal ini, tambah Prof Dahyar Darada sebagaimana pesan Nabi Suci Muhammad SAW bahwa, manusia yang baik adalah yang bermanfaat bagi (atau dipercaya oleh) sesama manusia, bukan justru menjadi mahluk Tuhan yang paling serakah di muka bumi.
Sehingga, Prof Dahyar Darada menjelaskan, dalam mereaktualisasi kepercayaan publik berbasis kreativitas dan inovasi yang bernilai pada sektor publik, maka setiap warga negara, termasuk pemimpin diri sendiri, pemimpin kelompok atau pemimpin dalam organisasi publik, perlu mengaplikasikan model pemberdayaan kreasi pengetahuan.
"Maka setiap warga negara, termasuk pemimpin diri sendiri, pemimpin kelompok atau pemimpin dalam organisasi publik, perlu mengaplikasikan model pemberdayaan kreasi pengetahuan atau sering disebut dengan singkatan model SEKI dengan mensosialisasikan, mengeksternalisasikan, mengkombinasikan dan menginternalisasikan public trust (kepercayaan publik) dalam diri kita masing-masing," terangnya.
Sebagai penutup orasi ilmiahnya, Prof Dahyar juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada sejumlah tokoh yang telah berjasa dalam perjalanan hidup dan kariernya.
Terutama, terkait kesuksesan meraih gelar Guru Besar/Profesor dalam bidang Ilmu Administrasi Publik, salah satunya ditujukan kepada Pemimpin Redaksi Indonews.id selaku rekan dosen senior IPDN, Drs. Asri Hadi, MA.
"Terimakasih juga kami sampaikan kepada Pemred IndoNews.id. Bapak Asri Hadi, yang banyak mempublikasi pemikiran teman-teman dosen dan memberikan info-info yang menarik lainnya," kata Prof Dahyar.
Untuk diketahui, Prof. Dr. H. Dahyar Darada, M.Si merupakan seorang birokrat. Ia telah mendedikasi sepanjang karirnya di dunia birokrasi.
Jabatan stretagis terakhir yang dijabatnya sebelum berpindah haluan menjadi akademisi adalah Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.
Prof Dahyar Daraba lahir di Sungguminasa, kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan pada 15 April 1958 silam.
Dahyar memiliki jejak pendidikan yang cukup mentereng. Ia tercatat menempuh Pendidikan tinggi sebagai Sarjana Pertanian di Universitas Sam Ratulangi pada 1984.
Selanjutnya, pada 2000, Dahyar menyelesaikan pendidikan di Ryakoku University Japan mendalami Rural Development.
Tak sampai di situ, selang 3 tahun kemudian, tepatnya pada 2003, Dahyar kembali menempuh pendidikan di Sydney University Australia untuk mendalami bidang Land Management.
Pada tahun yang sama, Dahyar juga tercatat pernah mengikuti International Meeting di Perancis dan International City Country Management Association di California Amerika Serikat pada 2004.
Dahyar tercatat meraih gelar doktoral (S3) dari Universitas Negeri Makasar pada 2015.
Ia pernah mengikuti Training of Trainer (ToT) Orientasi DPRD pada 2014 dan Master of Trainer (MoT) Pelatihan Peningkatan Kapasitas Aparatur Pemerintahan Desa pada 2015.
Sosok yang pernah menjabat sebagai Sekda Kabupaten Takalar ini sudah menerima beberapa penghargaan dari pemerintah Indonesia atas dedikasi dan pengabdiannya.
Antara lain SatyaLancana Karya Satya 10 Tahun dari Presiden Republik Indonesia (1999), SatyaLancana Karya Satya 20 Tahun dari Presiden Republlk Indonesia (2006).
Ia juga merupakan penerima Lencana Pancawarsa 1V Pramuka dari Ketua Kwatir Nasional Gerakan Pramuka Sulawesi Selatan (2007), Tokoh Pamong Praja dari Bupati Takalar (2011) dan Satya Lancana Karya Satya 30 Tahun dari Presiden Republlk Indonesia (2017).
Prof Dahyar juga tercatat pernah menjadi Ketua Himpunan Indonesia Untuk Pengembangan Ilmu Ilmu Sosial (HIPIIS) Sulawesi Selatan.
Prof Dahyar juga diketahui aktif menulis karya ilmiah yang diterbitkan pada Jurnal nasional dan Internasional.
Pada tahun 2018 menulis artikel yang dipublikasi dalam jurnal Ad‘ministrare Vo1 5 No. 1 (terakreditasi RISTEKDIKTI) dengan judul “Kinerja Dinas Ketenagakerjaan dalam Meningkatkan Kualitas Tenaga Kerja di Kota Makassar".
Sedangkan artikel yang diterbikan pada jurnal internaional terindeks scopus pada lahun 2018 dalam jurnal: Academic of Strategy Management Journal Vol. 17 Issue 3 dengan judul: “Strategy of Government in Transportation: Case Study of Vus Rapid Transit (BRT) Program in Makasar City" dan Journal of Legal. Elichal and Regulation Issues. V01. 21 Issue 4 dengan judul: Basic Public Service Partnership Model Based on Gender Perspektive in Makasar City, Indonesia.
Saat ini Prof Dahyar menjabat sebagai Kepala Pusat Pengabdian Masyarakat Pesisir dan Perbatasan pada Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) IPDN.
Sebelum pada posisi ini, Prof Dahyar merupakan Direktur IPDN Kampus Makassar dengan jabatan sebagai Pembina Utama Madya IV/D atau Lektor Kepala sejak 1 Januari 2016.
Ia juga pernah menduduki jabatan prestisius di bidang birokrasi yakni sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Takalar sebelum berubah haluan menjadi akademisi dan terakhir dengan menyandang gelar profesor.*(Rikard Djegadut).
Berikut adalah teks lengkap orasi ilmiah yang disampaikan pada pengukuhan Guru Besar IPDN Prof. Dr. H. Dahyar Darada, M.Si dalam bidang Ilmu Administrasi Publik:
PUBLIC TRUST: Apa, Mengapa dan Bagaimana Penerapannya Dalam Menciptakan Pelayanan Prima
ORASI ILMIAH: Disampaikan pada Pengukuhan Guru Besar/ Professor Tetap
di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN)
Oleh: Dahyar Daraba
Komisi Guru Besar, Senat dan hadirin yang saya hormati.
Pertama-tama marilah kita memanjatkan Puji-Syukur ke Hadirat Allah Swt. Atas Kesehatan, Rahmat & Karuniah-Nya, sehingga kita dapat hadir, baik secara aktual/ luring maupun secara virtual/daring, yang diliputi suasana Corona Virus Disease (COVID)-19 saat ini. Salam dan sholawat kepada Nabi Besar Muhammad SAW, Nabi terakhir yang diutus oleh Allah SWT untuk mengajarkan perlunya membangun Kepercayaan (Trust) diri sebagai mahluk individu, mahluk sosial dan mahluk Allah.
Hadirin yang saya hormati. Pada kesempatan yang amat terhormat ini saya menyampaikan materi orasi ilmiah yang berjudul Public Trust: Apa, Mengapa dan Bagaimana Penerapannya Dalam Menciptakan Pelayanan Prima. Materi orasi saya ini telah dipublish di Jurnal PalArch’ Journal of Archaelogy of Egypt/Egyptology (Q3), Volume 18 issue 8, sebagai penulis tunggal dengan judul “Public Trust: What, Why, and How to Apply It in Creatting Excellent Service”. Harapan saya bahwa teman-teman yang tidak sempat mengikuti Orasi Imiah ini dapat membaca melalui link: https://archives.palarch.nl/index.php/jae/article/view/9361/8755 (Daraba, 2021), karena yang saya bacakan saat ini terjemahan dari artikel tersebut. Judul Orasi ini mengacu pada kata kunci pertanyaan menurut Rudyarl Kipling (Jinks, 2019) yang lengkapnya sesuai formula 5W1H (What/Apa, Why/Mengapa, Who/Siapa, Where/ Dimana, When/Kapan, How/Bagaimana).
***
Hadirin yang saya hormati. Mencermati latar depan, urgensi dan signifikansi serta esensi dan orientasi mereaktualisasi konsep Trust (Kepercayaan) oleh Francis Fukuyama (Bankowski, 1998; Clark, 1996) dalam lokus pelayanan publik di era indusri 4.0, era Society 5.0, era new normal (normal baru) yang oleh sejumlah penulis, termasuk oleh Bapak Prof. Dr. Tahir Haning, M.Si., dan kawan-kawan (Haning et al., 2020), sahabat saya, yang menyebutnya sebagai kepercayaan publik (public trust), maka pembahasan saya berdasarkan pada jawaban pertanyaan retoris sesuai kata kunci 5W1H (Jinks, 2019).
Pertama, what (apa) yang dimaksud Public Trust (kepercayaan publik) itu? Jawabannya adalah kemauan dan kesungguhan seluruh warga masyarakat atau kelompok masyarakat untuk percaya (trust) atas kewenangan atau kekuasaan yang dimiliki pemerintah untuk mewujudkan kebijakan yang telah ditetapkan sesuai dengan implementasinya (Haning et al, 2020). Definisi kepercayaan publik tersebut didasarkan pada pandangan Van de Walle & Bouckaert (2003) bahwa public trust adalah persepsi individu atau kelompok masyarakat (publik) terhadap individu penyelenggara dan institusi pemerintah dalam menyediakan pelayanan publik yang sesuai dengan preferensi dan kebutuhan masyarakat.
Kedua, why (mengapa) perlu mengkreasi dan mereaktualisasi public trust? Jawabannya eksplitis dalam pernyataan sejumlah pakar (Bok, 1992; Calnan & Sanford, 2004; Chanley et al., 2000; DiPiazza Jr & Eccles, 2002; Resnik, 2011; Thomas, 1998) pada bagian pendahuluan tulisannya bahwa public trust merupakan pendekatan kontemporer yang dapat diterapkan dalam organisasi publik, terutama yang berkaitan dengan kepercayaan dan keyakinan (trust and conficence), kesukarelaan dan kepatuhan publik. Kepercayaan publik sangat berperan penting dalam membangun kinerja birokrasi publik, terutama dalam penyelenggaraan pelayanan publik, implementasi kebijakan publik dan pencapaian hasil yang diharapkan. Kepercayaan publik dipandang sebagai panacea (obat segala penyakit) yang paling ampuh ketika pemerintah pusat dan daerah mengharapkan seluruh kebijakan yang diimplementasikan berhasil atau excellent, sebagaimana Model Bonoma dalam implementasi kebijakan (Salusu, 2015). Kepercayaan publik merupakan “bandul jam” yang sangat besar untuk mengungkit atau melejitkan kreativitas dan inovasi (Akib, 2014, 2019b), motivasi dan kepedulian warga Negara atas apa yang telah dan akan dicapai oleh pemerintah (Haning et al., 2020). Dengan kata lain, kepercayaan publik merupakan suatu keniscayaan, sebagai kata kunci dan sekaligus faktor kunci keberhasilan untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, akuntabel dan akseptabel (berterima).
Hadirin yang saya banggakan. Alasan lain yang mendasari penting dan menariknya mereaktualisasi konsep public trust adalah besarnya atensi pemerhati dan pakar adminisrasi publik, khususnya penganut paradigma kontemporer yaitu, New Public Governance (NPG) yang diinspirasi oleh karya monumental Stephem P Osborne (Osborne, 2006, 2010) dalam bukunya berjudul The New Public Governance, Emerging Perspectives on the Theory and Practice of Public Governance, Routledge. Intinya menyatakan bahwa kepercayaan publik merupakan bagian penting dalam dimensi jaringan kebijakan (policy network) dan tata pemerintahan berbasis jaringan (network governance).
Hadirin yang saya hormati. Sesungguhnya, perkembangan paradigma atau perspektif teori administrasi publik pasca pemikiran yang tertuang dalam buku Nicholash Henry, paradigma pertama sampai paradigma kelima – dikotomi politik-administrasi, prinsip administrasi publik, administrasi publik sebagai ilmu politik, administrasi publik sebagai ilmu administrasi, dan administrasi publik sebagai administrasi publik (Akib, 2009; Henry, 2015) telah berkembang dengan adanya perspektif kontemporer New Paradigms in Public Administration, yang meliputi antara lain Reinventing Government (RG), The New Public Management (NPM), Neo Weberian State/ NWS (Byrkjeflot et al., 2018), Neo Governance State (NGS), New Public Services (NPS), Post-Modern Public Administration, dan E-Governance, termasuk Neo Public Governance (NPG), sebagaimana yang dirujuk oleh sejumlah pakar dan penulis bertema public trust saat ini.
Ketiga, when (kapan) waktu yang tepat untuk mereaktualisasi public trust? Pada konteks Indonesia, dimensi waktu yang tepat adalah sejak dahulu ketika Bung Karno memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia (1945), namun karena Indonesia saat ini berada pada era industry 4.0, era society 5.0, era e-governance maka saat ini semakin terasa urgensi dan signifikansinya. Elemen publik dan masyarakat Indonesia, baik di pusat maupun di daerah saat ini mengharapkan terbangunnya kepercayaan publik sebagai konsekuensi logis penyediaan pelayanan dasar yang prima (excellent) dan berkelanjutan, bukan karena berbasis vested interest dan pencitraan semata, atau istilah saya “pseudo pubict trust” (kepercayaan publik semu), sebagaimana yang disinyalir mencirikan perilaku segelintir aktor karena hanya mengharapkan dukungan (suara) publik dalam proses transaksi politik pemilihan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan kepala daerah.
Keempat, where (dimana) lokus atau tempat yang tepat untuk mereaktualisasi public trust? Lokus bagi pengembangan dan penguatan kepercayaan publik adalah pada setiap organisasi yang melayani kepentingan publik atau di tempat kerja kita. Menurut pandangan pakar (Calnan & Sanford, 2004; Chanley et al., 2000; Goodsell, 2006; Thomas, 1998) bahwa, banyak penelitian melibatkan dan mengidentifikasi jawaban pertanyaan mengapa, bagaimana, dan dengan cara apa kepercayaan publik diintegrasikan ke dalam lokus institusi atau organisasi tertentu di pusat dan daerah. Menurut hemat saya bahwa, secara teoritis public trust hingga saat ini masih menjadi topik kajian penting dan menarik dalam disiplin ilmu administrasi publik (manajemen publik, governance network), sosiologi, dan ekonomi (ekonomi pembangunan).
Secara implisit, Haning et al., (2020) menyatakan bahwa, lokus pembelajaran publik trust adalah pada bidang administrasi publik, dengan mengutip pandangan Goodsell (2006) bahwa administrasi publik merupakan disiplin ilmu yang memiliki tujuan tertinggi untuk membangun kepercayaan publik dan membawa dampak signifikan terhadap keberhasilan membangun demokratisasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara menuju welfare state, atau istilah saya guna menciptakan negeri yang “Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghofur” (Qur’an Surah Saba’/34, ayat 15, dalam Fattah et al., 2021).
Lokus pembelajaran public trust yang berkualitas dan berkarakter (etis, estetis, kinestetis, beretos kerja) tentu saja pada semua organisasi/ institusi publik, organisasi privat/ bisnis dan organisasi nir-laba, termasuk secara khusus pada institusi keagamaan (Akib, 2011) serta pada setiap lokus institusi pendidikan atau sekolah atau universitas yaitu di sekolah pertama (pendidikan informal di rumah tangga) sebagai basisnya, di sekolah kedua (pendidikan formal) dan di sekolah ketiga (pendidikan non-formal di tempat ibadah dan di tengah masyarakat).
Kelima, who (siapa) aktor public trust itu? Jawabannya adalah individu atau institusi yang berperan sebagai pemangku kepentingan untuk melakukan perubahan pada lokus sektor publik. Jadi, public trustee adalah orang-orang atau individu warga Negara dan institusi yang memiliki kompetensi atau kapabilitas yang didedikasikan untuk memperjelas visi, misi dan tujuan atau nilai baik bagi kepentingan publik (value for public) secara tersturktur/ sistemik, sistematis, masif dan berkelanjutan. Pemahaman tersebut dikuatkan dengan pandangan sejumlah pakar yang dikutp oleh penulis bahwa individu dan institusi yang terlibat dalam proses pelayanan publik berbasis pada penerapan prinsip-prinsip tata kelola pemerintahan yang baik.
Keenam, how (bagaimana) cara atau strategi yang tepat untuk mereaktualisasi kepercayaan publik? Jawabannya adalah banyak cara tepat yang dapat dipilih dalam proses pembelajaran public trust, mulai dari cara yang radikal sampai pada cara halus dan samar. Pada prinsipnya, apapun strategi yang diterapkan memiliki arah dan tujuan yang sama agar perubahan, pembaruan atau penguatan kepercayaan publik dapat terjadi dalam diri individu (warga negara), kelompok, organisasi dan di masyarakat. Sejumlah pakar sepakat bahwa terdapat delapan strategi generik (disingkat 8-C) yang sejatinya dapat diaplikasikan oleh individu atau institusi agar tetap eksis, berkembang dan berdaya saing (Aras et al., 2017), yaitu culturalization (pembudayaan), communication (komunikasi) dan atau sosialisasi, connection (koneksi/jejaring), coopetition (persaingan yang membuahkan kerjasama), compromise (kompromi), collaboration (kolaborasi), critical (kritis), dan creativity (kreativitas). Mengapa kreativitas penting karena kata pakarnya no innovation without creativity (Akib, 2005; Ali Taha et al., 2016). Penguasaan dan penerapan strategi kreatif-inovatif inilah yang sekaligus menguatkan semboyan atau prinsip hidup trustee di era masyarakat 5.0, yaitu prinsip “Fastabiqul-Khaerat” atau berlomba dalam kebaikan (baca dalam Yunus, 2013) dan prinsip “Husnuzan” atau senantiasa berprasangka baik (baca dalam Pinandito, 2019) sebagai dasar membangun trust.
Cara tepat menanamkan kepercayan publik dalam konteks pelayanan publik oleh Haning et al (2020) didasarkan pada dimensi credible commitment, benevolence, honestly, competency, dan fairness. Hadirin yang saya hormati, apapun strategi pembelajaran public trust yang dipilih, jelas bahwa kita semua berada dalam era MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN), era revolusi industri 4.0, atau era masyarakat 5.0 atau disebut era virtual governance. Dengan demikian, sekiranya dipercaya bahwa perkembangan dan penerapan teknologi saat ini sudah sebegitu majunya, maka pertanyaan retorisnya adalah apalagi yang harus diperbaharui? Tentu jawabannya ada di dalam pikiran kita.
Hadirin yang saya hormati. Melalui New Public Governance (NPG) di era Society 5.0, kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI) akan mentransformasi big data pada segala sendi kehidupan organisasi serta the Internet of Things menjadi suatu keniscayaan dan kearifan baru yang dapat didedikasikan untuk meningkatkan kemampuan pemangku kepentingan dalam membuka ruang dan peluang guna perwujudan public trust. Pemikiran transformatif ini membantu pemangku kepentingan dan kita semua dalam rangka menjalani kehidupan yang lebih etis, estetis dan bermakna dengan cara “saling memercayai” (mutual trust). Dengan demikian, semakin jelas fokus dan lokus pengembangan public trust yang menurut Akib (2019b) perlu didasarkan pada kecerdasan alamiah (natural intelligence/ NI) atau kecerdasan spiritual (spiritual intelligence/SI) oleh setiap aktor yang terfokus pada re-aktualisasi dan apresiasi terhadap hakikat penciptaan, harkat dan martabat manusia (human centered) kreatif, inovatif dan bernilai (bermartabat) bagi publik, sebagaimana pesan Nabi Suci Muhammad SAW bahwa, manusia yang baik adalah yang bermanfaat bagi (atau dipercaya oleh) sesama manusia, bukan justru menjadi mahluk Tuhan yang paling serakah di muka bumi, sebagaimana sinyalemen Makmur (2012), Naudzubillah min dzalik.
***
Hadirin yang saya hormati. Agar materi orasi ilmiah ini bermakna sebagai acuan kita dalam mereaktualisasi kepercayaan publik berbasis kreativitas dan inovasi yang bernilai pada sektor publik maka setiap warga negara, termasuk kita selaku pemimpin diri sendiri, pemimpin kelompok atau pemimpin dalam organisasi publik, perlu mengaplikasikan model pemberdayaan kreasi pengetahuan, atau sering disebut dengan singkatan model SEKI (Nonaka & Takeuchi, 1995) dengan mensosialisasikan, mengeksternalisasikan, mengkombinasikan dan menginternalisasikan public trust (kepercayaan publik) dalam diri kita masing-masing.
UCAPAN TERIMAKASIH.
Hadirin yang saya hormati
Sebagai penutup orasi ilmiah ini, perkenankan saya mengucapkan rasa syukur dan terima kasih yang tulus untuk semua yang telah berjasa dalam perjalanan hidup dan karier saya hingga dapat meraih jabatan Guru Besar/Profesor dalam bidang Ilmu Administrasi Publik. Penghargaan dan terimakasih ini saya sampaikan terutama kepada yang terhormat :
• Menteri Dalam Negeri RI yang menjadi pengayom IPDN tempat kami mengabdi.
• Menteri Pendidikan,Kebudayaan,Riset, dan Teknologi RI yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk memangku jabatan Guru Besar di IPDN.
• Rektor sekaligus sebagai ketua senat IPDN Bapak Dr. Hadi Prabowo, MM, atas perkenannya dan persetujuan senat IPDN sehingga pengukuhan saya dapat terselenggara.
• Sekertaris senat Bapak Prof. Dr. Tjahya Supriatna, SU., yang banyak memfasilitasi kami sehingga acara ini dapat terselenggara.
• Dewan Guru Besar serta Majelis Senat IPDN.
• Para wakil Rektor yang memberikan dukungan kepada kami sehingga acara ini berjalan dengan lancar.
• Para Dekan yang banyak memberikan support kepada kami.
• Kepada Bapak Prof. Muchlis Hamdi, MPA., PhD, Bapak Prof. Dr. Wirman Syafri, M.Si, Bapak Prof. Dr. Sadu Wasistiono, MS, Bapak Prof. Dr. Muh. Ilham, M.Si, Ibu Prof. Dr. Nurliah Nurdin, S.Sos, MA, yang banyak memberikan masukan kepada saya.
• Direktur IPDN kampus Jakarta yang memberikan Fasilitas kepada kami.
• Serta rekan-rekan dosen IPDN yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.
• Terimakasih pula kami ucapkan atas diskusi secara intens dan input terhadap naskah Orasi ini, kepada Bapak Prof. Dr. Haerdar Akib, Bapak Prof. Dr. Tahir Haning dan adinda kami Candidat Doktor Rudi Salam, M.Pd.
• Terkhusus pula saya mengucapkan banyak terimakasih kepada Alm. Bapak Prof. Dr. Agus Dwiyanto dan Bapak Prof. Dr. Murtir Jeddawi,SH,M.Si, yang banyak memberikan bimbingan dalam penyelesaian Program Doktor saya.
• Tak lupa pula kami ucapkan banyak terimakasih kepada Bapak Dr. Hadi Prabowo, M.M, dan Bapak Prof. M Ryaas Rasyid, PhD, yang bersedia memberikan kata sambutan dalam buku biografi saya, juga kepada ibu Dr. Hj. Diah Anggraeni, SH, MM, Bapak Prof. Dr.Nurliah Nurdin, S.sos, MA, Bapak Dr. Drs, Mansyur,M.Si, Bapak Dr. Muhammad Faisal, M.Pd,, yang telah memberikan kesan dalam buku biografi saya dan Alhamdulilah hari ini kami luncurkan dengan judul: “DARI BIROKRAT KE AKADEMISI”.
• Terimakasih kepada Kepala LPM-IPDN dan seluruh staf LPM, yang banyak memberikan dukungan kepada saya.
• Terimakasih juga kami sampaikan kepada Pemred IndoNews.id. Bapak Asri Hadi, yang banyak mempublikasi pemikiran teman-teman dosen dan memberikan info-info yang menarik lainnya.
• Kepada kedua Orang Tua saya Alm. Bapak H. Daraba Dg. Kiyo dan Almh Ibu Hj. Sitti Aminah Dg. Te,ne, saya yakin bahwa hari ini mereka tersenyum menyaksikan putranya dikukuhkan sebagai Guru Besar, semoga mereka mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin YRA.
• Terimakasih pula kami ucapkan kepada isteri saya tercinta, Ibu Dra. Hj. Rosmiaty Narang, M.Pd, yang banyak memberikan dorongan & Doanya, sehingga cita-cita saya dapat tercapai, juga kepada anak-anak saya, Muhammad Dasysyara Dahyar, SE, dr. Ahmad Rais Dahyar dan dr. Nurul Damiaty Dahyar. Tak lupa pula kami sampaikan terimakasih kepada keluarga besar, terkhusus kepada paman saya tercinta, M. Arsyad Daud, SH (mantan sekda Provinsi Sulut), yang banyak membimbing saya pada saat kuliah di Manado, kakak, adik, kemanakan dan seluruh teman-teman yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, atas doa & motivasi yang diberikan kepada saya selama perjalanan karier saya.
Akhirnya dengan segala kerendahan hati, saya dan keluarga mengucapkan terimakasih kepada hadirin yang telah sudi meluangkan waktunya mengikuti acara pengukuhan ini, baik secara Luring maupun secara Daring. Semoga Allah SWT memberikan pahala sebesar-besarnya kepada Bapak, Ibu dan saudara sekalian.
Wabillahi Taufik wal hidayah,
Wassalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.