Opini

BRAVO KAPOLRI

Oleh : luska - Senin, 01/11/2021 16:36 WIB

Penulis : Luthfi A. Mutty (Ketua Bidang Hubungan Eksekutif DPP Partai NasDem)

Berbagai kritikan kepada institisi Polri muncul beberapa hari belakangan ini. Pedagang buah di Medan yg jadi korban penusukan preman malah jadi tersangka. Seorang mahasiwa di Banten harus dilarikan ke rumah sakit akibat dibanting oleh oknum anggota Polri saat berunjukrasa. Kasus pemerkosaan di Lutim memunculkan tagar percuma lapor polisi. Kasus rekayasa laporan penembakan buron di Luwu Utara. Itu sedikit contoh kasus dari lebih banyak kasus yg telah diberitakan terkait tindak kekerasan yg dilakukan oknum agt polri. Padahal polri sebagai pelaksana fungsi pemerintahan, seharusnya mengedepankan fungsi pelayanan, perlindungan dan pengayoman di samping penegakan hukum.
Bahwa banyak prestasi polri yg telah dicapai, tentu tak dapat dinafikan. Namun ekspektasi masyarakat kepada polri itulah yg membuat Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, tidak menutup mata dan telinga atas berbagai kritikan masyarakat. Kapolri merasa gerah dgn perilaku anggotanya lalu mengeluarkan ancaman. Pimpinan harus sungguh2 membersihkan anak buah yg bertindak merugikan institusi Polri. Jika tak mampu bersihkan ekor maka saya akan potong kepalanya.  Tegas Kapolri. Utk menjawab aneka kritikan itu, Kapolri lalu menggagas lomba mural. Acara yg dibuka langsung oleh Kapolri, dimaksudkan utk memberi ruang kepada para peserta menyampaikan kritik dan harapan kepada Polri. Yg gambarnya bagus, termasuk memberi kritikan keras dan pedas kepada Polri, akan menjadi sahabat Kapolri. Ucap Kapolri saat membuka lomba dimaksud. Kritikan memang diperlukan utk membuat Polri lebih baik ke depan. 
Lomba mural  dimenangkan La Ode Umar. Dia melukis pungli yg memang sering terjadi di tubuh Polri.
Gagasan Kapolri patut dicontoh oleh para pejabat yg alergi pada kritik. Kritik itu ibarat vaksin bagi tubuh. Dapat membuat tubuh meriang. Tetapi menjadikan tubuh tambah sehat. Pejabat yg menutup mata dan telinga pada kritikan, tanpa sadar telah membuat intitusi yg dipimpinnya dipenuhi virus jahat. Lemah dan sakit2an. 

Baca juga : Moral Hazard

Semoga gagasan lomba mural ini menjadi langkah awal melakukan reformasi kultural secara sungguh2 di tubuh Polri. Artinya, tidak sekedar berhenti di lomba mural. Setelah itu semua bermimpi. Polri telah lebih baik.

Loading...

Artikel Terkait