https://vinosdeabona.com/slot-gacor/ https://www.tpcd.org.tr/slot-deposit-pulsa/ https://healthcare.skho.moph.go.th/labor-care/uploads/slot-deposit-pulsa/ https://seoscaning.com/slot-deposit-dana/ http://www.info-secur.ru/old/slot-deposit-pulsa-tanpa-potongan/ http://academia.uniminuto.edu/becassp/notas/jasabola/

Nasional

Webinar Duta Baca Indonesia, Mengabdi di Jalan Literasi

Oleh : Marsi Edon - Senin, 29/11/2021 18:11 WIB

Webinar “Mengabdi di Jalan Literasi” bersama Duta Baca Indonesia.(Foto:Ist)

Jakarta, INDONEWS.ID - Literasi merupakan faktor esensial dalam upaya membangun fondasi yang kokoh dalam membangun masyarakat berpengetahuan.

Literasi saat ini sudah menjadi isu nasional. Pengabdian di jalan literasi memerlukan keseriusan, tidak bisa setengah hati. Budaya literasi harus menjadi budaya bersama.

"Literasi tidak hanya menyangkut baca-tulis-hitung (calistung), tetapi juga menyangkut struktur berpikir dan pembentukan kognitif. Seseorang yang berliterasi akan memiliki kemampuan menganalisa, memahami, dan mensitesakan,” ujar Kepala Pusat Analisis Perpustakaan dan Pengembamgan Budaya Baca Perpustakaan Nasional Adin Bondar ketika membuka Webinar “Mengabdi di Jalan Literasi” bersama Duta Baca Indonesia, Jakarta, Senin, (29/11/2021).

Ketika masyarakat telah menjadi masyarakat yang literat, Indonesia akan menjadi bangsa terdepan. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, pemerintah telah meletakkan dasar yang kuat dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia, yakni literasi.

Di masa mendatang, pertumbuhan ekonomi suatu negara didorong oleh pengetahuan yang berkembang, bukan lagi ditentukan oleh sumber daya alam.

"Sumber daya alam suatu saat akan habis,” lanjut Adin.

Senada dengan Adin Bondar, pegiat literasi sekaligus inisiator Perpustakaan Lorong dari Sulawesi Selatan, Bachtiar Adnan Kusuma, mengatakan literasi adalah alat yang fundamen dan esensi. Literasi sudah menjadi kebutuhan pokok (primer).

"Dalam teori budaya, membaca adalah gerakan kebiasaan yang dilakukan secara simultan dan berkelanjutan. Gerakan inilah yang melatarbelakangi saya yang pada akhirnya menjadikan literasi menjadi jalan pengabdian,” imbuh Bachtiar.

Bachtiar lantas berkisah ketika dirinya menggagas Gerakan TV Mati dari jam 6 – 10 malam yang ia anggap sebagai karpet merah bagi anak-anak untuk beraktivitas belajar dan membaca.

Ia berasumsi, ekosistem literasi untuk melakukan seruan, ajakan, atau kampanye harus dibangun dari dalam rumah (keluarga).

Lain lagi kisah ‘Mengabdi di Jalan Literasi” yang disampaikan pendiri Rumah Baca Anak Nagari, Sri Eka Handayani.

Menurutnya, latar belakang kenapa ia mendirikan rumah baca dikarenakan keresahan atas kondisi saat ini dimana generasi muda mulai kehilangan karakter akibat tergerus percepatan teknologi dan informasi, namun tidak didukung oleh fondasi yang kuat.

"Fondasi yang kuat lahir dari kemauan berpikir dalam menghadapi setiap perubahan. Maka itu, saya pun mengharapkan generasi emas pada 2045 mendatang adalah generasi yang berkarakter. Generasi yang sudah jadi,” ujar Sri Eka.

Sri Eka pun menjelaskan bahwa literasi bukanlah barang baru. Para founding father’s bangsa, seperti Soekarno, Hatta, Sutan Sjahrir, Agus Salim, Ki Hadjar Dewantara dan lainnya sudah menjadi contoh manusia yang literasi.

Hal ini ditunjukkan ketika ide-ide revolusioner mereka tuangkan ke dalam sebuah tulisan di surat kabar atau pun dijadikan buku.

"Saya sudah memilih mengabdi di jalan literasi. Harus serius. Tidak bisa setengah hati,” ungkapnya.

Meski demikian, tidak semua pegiat literasi mampu menelurkan program yang sanggup mengubah kondisi masyarakat.

Duta Baca Indonesia Gol A Gong mengatakan banyak program literasi yang akhirnya putus di tengah jalan, dikarenakan sejumlah kendala, seperti program yang ditawarkan kurang rekreatif (monoton), atau pun kondisi taman baca atau perpustakaan yang kurang support fasilitas internet.*

Loading...

Artikel Terkait