Nasional

Buku "Berawal dari Mimpi" Siap Beredar di Pasaran

Oleh : Rikard Djegadut - Minggu, 16/01/2022 15:45 WIB

Cover buku "Berawal dari Mimpi" (Foto: ist)

Jakarta, INDONEWS.ID - MENENGOK Machu Picchu, Acropolis, dan Persepolis, reruntuhan dari kebudayaan masa silam yang tersembunyi di sudut-sudut bumi tentu tidak semua orang beruntung dapat melakukannya.

Artsanti sejak masa remajanya sudah bermimpi menengok semua keajaiban dan keindahan alam yang tersaji di muka bumi itu. Namun ayahnya tidak berkenan: “Anak gadis yang baik, sebaiknya tinggal di rumah. Tidak kluyuran.”

Sangat menyayangi ayahnya, ia mengikuti saran itu. Namun ia terus mengingat pesan ayahnya yang lain: “Jika ingin menengok dunia, kamu harus pergi dengan uang kamu sendiri.”

Kata-kata ini yang menggerakkan semangatnya untuk bekerja mengumpulkan uang sendiri. Dengan upaya semacam itu, ia akhirnya berhasil menggapai mimpinya: Berkelana ke Lima Benua.

Di buku Berawal Dari Mimpi, Artsanti mengisahkan perjalanannya di Asia, Eropa, Amerika Serikat, Amerika Latin, Australia dan New Zealand, serta ke Benua Hitam: Afrika.

Sebagai perjalanan kontemplatif, ia tak hanya mengunjungi tempat-tempat wisata yang ramai dikunjungi wisatawan. Di Belanda ia menyusup ke balik pepohonan walnut, ke kafe-kafe yang tersembunyi di hutan, dan duduk di lapangan rumput menyaksikan anak-anak Belanda berlatih sepakbola.

Ia naik tinggi mendekati puncak Mount Blanc, Eiger, Matterhorn dan Mount Cook, dengan gondola atau helikopter, meskipun pernah pula mencoba mendaki Mount Kilimanjaro menggunakan dengkulnya sendiri.

Artsanti memang menikmati berkelana ke tempat-tempat yang tak banyak orang tertarik mengunjunginya. Saat diminta untuk memilih berkunjung ke New York atau ke Komunitas Amish di Pennsylvania, ia memilih yang terakhir.

Saat berkunjung ke Moscow, ia tidak meneruskan ke Saint Petersburg yang sangat terkenal, namun terbang ke Khanty Mansiysk di Siberia.

Artsanti menikmati berkunjung ke tempat-tempat out-off-the-beaten track, seperti ke Batumi, Georgia, di sisi Laut Hitam. Mengunjungi Monumen Jengis Khan di Mongolia atau ke Bandar Anzali di sisi Laut Kaspia.

Ia menikmati berdayung di Danau Titicaca di perbatasan Peru dan Bolivia, yang muka airnya sudah lebih tinggi dari puncak Gunung Semeru.

“Melakukan perjalanan itu ziarah kehidupan,” komentar Lestari Moerdijat, Wakil Ketua MPR.

“Melihat sisi lain dunia, menyelami hidup dengan memberi arti pada setiap pengalaman.”

Menurutnya, Artsanti telah melakukan suatu ziarah tentang arti kehidupan sesungguhnya. Kehidupan yang semestinya selalu dirayakan dalam setiap situasi. Karena hidup itu berarti.

Sedang Ketua Fraksi di DPR Utut Adianto berpendapat Artsanti telah berhasil mengekspresikan kisahnya di buku yang ditulisnya ini.

“Saya senang mengikuti ceritanya, seolah-olah Bu Arts ada di hadapan saya bercerita dengan penuh antusias, dalam suasana yang menggembirakan,” tutur GM Utut Adianto yang juga ketua umum Percasi itu.

Bagi yang tertarik memesan dapat menghubungi WA business 0812 1002 5046 atau langsung melalui olshop di Tokopedia dan shopee. Untuk keterangan lebih lanjut hubungi Hamdi Prakarsa-0856 9122 7928.

Loading...

Artikel Terkait