Nasional

Testimoni Bambang DH: Peran Rizal Ramli dalam Peristiwa 98

Oleh : very - Kamis, 20/01/2022 15:59 WIB

Reformasi tahun 1998. (Foto: Kompas.com)

Jakarta, INDONEWS.ID --- Ekonom senior Rizal Ramli merupakan tokoh yang memiliki kemampuan intelektual dan berani. Mantan Menko Perekonomian itu juga dikenal sebagai tokoh yang konsisten.

“Tiga hal inilah yang sangat menonjol. Selain itu Mas Rizal Ramli juga cukup luwes dalam membangun dan memelihara jaringan. Termasuk dengan para aktivis mahasiswa. Selalu menciptakan kehangatan dalam diskusi. Bahkan kadang-kadang panas,” ujar Bambang Dwi Hartono, dalam artikel berjudul “Testimoni: Peran Rizal Ramli dalam Peristiwa 98” yang ditayangkan esensinews.com/.

Mantan Wali Kota Surabaya  itu mengatakan, pada saat ‘98, menjelang kejatuhan Soeharto, semua pihak bersinergi. Siapa saja yang melawan rezim Soeharto ketika itu maka langsung bahu-membahu membangun jaringan dan terus menekan pemerintah.

Berbagai pihak terus menginisiasi gerakan dan masuk ke kampus-kampus dan berkomunikasi dengan tokoh organisasi buruh di berbagai wilayah.

Selain mantan Menko Kemaritiman, yang menonjol juga dalam gerakan itu yakni Heri Achmadi dan almarhum Arief Ariman. “Kami kerja hampir tidak mengenal waktu. Itu kerja politik yang paling mengesankan. Dimana semua bekerja saling mengisi dan menguatkan,” ujar aktivis mahasiswa 1998 itu.

Bambang DH mengatakan, saat penculikan terhadap para aktivis ramai dilakukan, gerakan mahasiswa juga tidak reda, tapi justru semakin memperbesar energi pertempuran.

“Saya kehilangan patner yang sehari-hari bekerja sebagai connector maupun pembangun jaringan. Yaitu Herman Hendrawan. Partner saya ini termasuk 13 aktivis yang diculik dan sampai dengan saat ini tidak jelas keberadaannya,” tuturnya.

Suatu saat aktivis 98 yang berposko di Jalan Tebet Barat Dalam, yaitu di kantornya Rizal Ramli, menerima keluhan dari kawan-kawan aktivis di sejumlah kampus. Mereka banyak tidak pulang selama berhari-hari. Baju, celana tidak pernah ganti. Malah celana dalam terpaksa harus dipakai dibolak-balik, side A, side B. Akibatnya gatal dan sangat risih, kata mereka.

“Saya langsung sampaikan ini ke Posko Tebet dan dalam waktu tidak lama kita bisa langsung drop (kirim) ke beberapa titik mahasiswa di Gedung DPR Senayan, dan sekitarnya. Selain celana dalam dan pakaian dalam lainnya, Posko Tebet secara berkala juga mengirimkan handuk kecil, pasta gigi, sikat gigi, air mineral, vitamin, nasi bungkus, dan beberapa keperluan lainnya untuk para mahasiswa di lapangan,” ujar Bambang DH.

Bambang DH sebenarnya punya tempat kost di Jalan Borobudur, Jakarta Pusat, bersama Herman Hendrawan (almarhum). Tapi kos tersbeut tidak pernah ditempati. Karena saat itu penggrebekan teman-teman gencar sekali, dan diisukan sebagai buronan kasus narkoba. Tempat di kawasan itu sebenarnya sangat strategis. Dekat dengan Kantor LBH. Enak untuk koordinasi dengan kawan-kawan disana.

“Saya nggak ingat persis berapa lama bertahan di Posko Tebet. Tapi lumayan lama juga. Kami bersama kawan-kawan berada di situ, tidur, mandi, makan, dan setiap hari bekerja bahu-membahu untuk pergerakan mahasiswa dalam menjatuhkan rezim otoriter Soeharto,” katanya.

Menurut Bambang DH, Jawa Timur, sebagai daerah asalnya, waktu itu dianggap sudah matang. Dirinya sempat bolak-balik, dan kembali ke Jakarta bersama Herman Hendrawan. Kami menganggap sebagus apapun gerakan di daerah, seperti di Jawa Timur, titik pukulnya adalah tetap di ibu kota, di Jakarta, dengan posko di Posko Tebet. Karena itu para aktivis tersebut memperkuat jaringan, gerakan, dan aksi-aksi di ibu kota.

Peran Posko Tebet cukup besar dan termasuk posko yang awal memberikan bantuan kepada gerakan mahasiswa yang menduduki Gedung DPR.

Bantuan rokok misalnya waktu itu melimpah, sehingga ditempatkan di berbagai titik di Gedung DPR Senayan. Siapa saja bebas mengambil rokok-rokok itu.

“Tentu saja masih banyak sekali kisah-kisah yang mengesankan dari peristiwa ‘98 itu. Kenangan yang tidak pernah terlupakan bagi saya sebagai aktivis mahasiswa ‘98 yang bersinergi dengan aktivis mahasiswa ‘78 seperti Mas Rizal Ramli,” pungkasnya. ***

 

Loading...

Artikel Terkait