Opini

Asimilasi Antar Etnis di Perkampungan Arab di Kota Surabaya

Oleh : Rikard Djegadut - Jum'at, 28/01/2022 13:22 WIB


Akademisi Dr. Anis Masluchah Dra., M.Si (Foto: ist)

Oleh: Dr. Anis Masluchah, M.Si -- Dosen Pasca Sarjana PTS di Surabaya-Sekarang

Opini, INDONEWS.ID - Mempelajari masyarakat sebagai suatu sistem sosial yang terpadu berarti mengakui bahwa masyarakat tidak hanya merupakan himpunan manusia yang tidak beraturan. Masyarakat mempunyai pola-pola hubungan tingkah laku tertentu di antara anggota-anggotanya selama masa interaksi yang panjang.

Pola-pola tingkah laku seperti ini yang biasanya turun menurun dalam beberapa generasi dan seringkali telah banyak diubah sesuai dengan orqanisasi atau struktur sosial masyarakat yang terlihat dalam pranata-pranata sosialnya (Koentjaraningrat, 1977 h.13).

Di samping itu, di dalam suatu masyarakat telah dikembangkan serentetan pola-pola budaya ideal dan pola-pola itu cenderung diperkuat dengan adanya pembatasan-pembatasan kebudayaan. Pola-pola budaya ideal tersebut memuat halhal yang oleh sebagian besar masyarakat diakui sebagai kewajiban yang harus dilakukan dalam keadaan-keadaan tertentu.

Menurut T.O Ihromi (1984:27) pola-pola budaya ideal tersebut seringkali disebut norma. Namun tidak semua orang akan berbuat sesuai patokan-patokan tersebut, tetapi pola-pola ideal itu merupakan pola kelakuan yang diikuti masyarakat dan karenanya menggambarkan masyarakat tersebut.

Karena berbagai perbedaan dalam kehidupan masyarakat terhadap pola-pola ideal dan pola kelakuan dalam tiap-tiap masyarakat, maka proses untuk mengembangkan hubungan yang selaras antar suku bangsa dan kebudayaan yang seringkali mengembangkan kesatuan tersebut merupakan masalah utamma di negaranegara tertentu.

Dimana suasana ketenangan, ketentraman dan keamanan dipengaruhi oleh tidak adanya kerjasama antar suku bangsa, agama, golongan karena perbedaan yang ada tersebut, perbedaan kebudayaan antar suku bangsa dan permusuhan bersumber pada alasan sosial ekonomi antar etnis ternyata bisa menjurus ke arah perang saudara.

Jika ditinjau dari berbagai ragam etnis yang mendiami wilavah Indonesia, keanekaragaman agama di Indonesia, yang kesemuanya terlihat dalam proses pembangunan, secara langsung maupun tidak langsung membutuhkan toleransi di segala sektor kehidupan masyarakat akan suatu nilai dan gagasan tertentu dalam masyarakatnya (Geertz,1981: h. V).

Struktur masyarakat Indonesia diungkapkan kembali oleh Hildred Geertz bahwa ciri khas Indonesia yang paling penting justru terletak pada perbedaan nilai, pandangan dan kemampuan bentuk-bentuk sosialnya untuk menyesuaikan diri. Faktor-faktor ini pulalah yang telah memberikan kepada masyarakat itu sebagai keseluruhan kekuatan dan ketahanannya yang terbesar.

Jika Indonesia akan hidup terus sebagai suatu wujud yang berdiri sendiri, maka ia harus menciptakan untuk dirinya sendiri suatu organisasi nasional yang baru, harus berdiri di atas keragaman bentuk dan identitas masyarakat setempat ( (Geertz,1981: h.96).

Indonesia seringkali dikatakan didiami oleh masyarakat yang majemuk. Kemajemukan masyarakat mempunyai 2 ciri, sebagaimana rumusan Furnivall tentang masyarakat majemuk, bahwa kemajemukan dilihat dari struktur horisontal, ditandai dengan adanya kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan perbedaan suku bangsa, agama, adat, kedaerahan.

Namun berdasarkan struktur vertikalnya yang ditandai dengan adanya perbedaan-perbedaan vertikal antara lapisan atas dan lapisan bawah yang cukup tajam (Nasikun,1986, h.3).

Tentu saja keberadaan masyarakat yang majemuk tidak akan lepas dari munculnya konflik ataupun menumbuhkan potensi toleransi. Sebagaimana oleh David Lockwood dikatakan bahwa kenyataan setiap sosial senantiasa mengandung dalam dirinya ada dua hal, yaitu stratum yang melahirkan konflik dan tata tertib yang bersifat normatif.

Konflik yang timbul dari hubungan antar etnis dapat dilihat berdasar latar belakang sejarahnya. Sedangkan proses untuk mengembangkan yang selaras seringkali tidak mudah, padahal masalah mengembangkan tersebut merupakan masalah utama bagi masyarakat heterogen di manapun ia berada, termasuk di Kota Surabaya.

Komposisi penduduk perkotaan, seperti halnya di Surabaya mempunyai ciri spesifik Heterogenitas ditunjukkan oleh adanya pertimbangan faktor-faktor pekerjaan dan kepentingan. Juga jika dikaitkan dengan letak perkampungan Arab di Ampel tersebut berada di pinggir kota dan unsur kesejarahannya sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam di Jawa khususnya atau ruang lingkup lebih luas yaitu Indonesia.

Di samping perhatian terhadap etnis “pribumi” yang mendiami wilayah Indonesia, maka studi tentang kehidupan etnis “asing” di Indonesia juga tak luput untuk dipelajari. Salah satu etnis asing yang mendapat perhatian tersebut adalah keberadaan etnis Arab di Indonesia.

Sebenarnya adanya perbedaan antara etnis Arab dan etnis lainnya di Indonesia, khususnya dewasa ini bukan lagi merupakan hal yang cukup serius untuk dipakai sebagai alasan dalam memilah-mlah masyarakat yang bersifat nasional, bahkan lebih luas dari itu yaitu masyarakat internasional telah makin mengikis sifatsifat masyarakat lokal yang masih kuat memegang kesukuan dan kedaerahannya.

Namun demikian salah satu tujuan studi antar etnis beserta assimilasinya dengan masyarakat sekitarnya ini, terutama berkaitan dengan adanya kebuthan untuk lebih mengenal keberadaan etnis di Indonesia.

Dimana usaha untuk mewujudkan sense of belonging (rasa kebersamaan, bertanah air, berkeluarga) dalam rangka mewujudkan tujuan pembangunan adalah dengan melakukan perhatian terhadap berbagai ragam etnis di Indonesia tanpa terkecuali.

Kenyataan tentang masyarakat di Kota Surabaya sebagai salah satu bagian plural society dari berbagai kelompok etnis yang lain akan makin terlihat lebih kompleks.

Banyak aspek yang mempengaruhi cara hidup kaum urban, dengan adanya kontak yang lebih besar, sebagaimana bentuk komunikasi luas, kondisi pendatang misalnya, telah menimbulkan suatu interaksi interpersonal sosial dan konflik pun akan semakin sulit dihindari.

Komposisi penduduk mempunyai ciri spesifik Heterogenitas ditunjukkan oleh adanya perbedaan rasial dan etnis yang bsar. Pertimbangan tersebut dikaitkan dengan faktor-faktor seperti pekerjaan dan interest, dimana telah terjadi demikian banyak orang dengan ciri-ciri yang berbeda dikumpulkan dan dipaksakan dalam kontak fisik yang begitu rapat. Seringkali dengan komunikasi yang sangat minim dan ketidak acuhan besar justru dapat menimbulkan konflik tajam (Wirth, 1988:43).

Membahas tentang bagaimana anggota-anggota masyarakat di perkampungan Arab ini berinteraksi akan menarik. Kita akan dibawa dalam perbincangan tentang bagaimana mereka beradaptasi terhadap lingkungan kehidupan perkotaan yang modern, bagaimana mereka mempertahankan ciri-ciri tradisi yang telah menjadi bagian kehidupan meeka sehubungan dengan proses sosial yang terjadi. Termasuk didalamnya adalah mata pencaharian, bahasa, pola pemukiman, religi, klas-klas dalam masyarakat serta berbagai norma yang ada dan berlaku dalam masyarakatnya.

Asimilasi Antar Etnis di Perkampungan Arab di Kota Surabaya

Lokasi permukiman Arab yang seringkali disebut sebagai “perkampungan” arab Ampel dalam penelitian ini terletak di Surabaya Utara dan dianggap mempunyai kultur tertentu bercorak Islam yang dimanifestasikan dalam berbagai kehidupan ekonomi, politik, sosial dan budaya. Kelurahan Ampel merupakan salah satu dari lima kelurahan yang terletak di Kecamatan Semampir, Kota Surabaya.

Dengan luas wilayah 38 Ha, daerah Ampel mempunyai batas di sebelah Utara adalah kelurahan Ujung, sebelah timur adalah kecamatan Simokerto dan di sebelah barat adalah kecamatan Pabean Cantikan. Kecamatan Semampir memiliki lima kelurahan, yaitu Ampel, Sidotopo, Pegirian, Wonokusumo dan Ujung.

Ketiga kelurahan yang disebut terakhir mayoritas didiami etnis Madura. Sedang kelurahan Ampel sendiri terbagi dalam 17 RW dan 86 RT dan banyak dihuni oleh etnis Arab, utamanya di wilayah RW 1, RW 2 dan RW 4. Kampung Ampel yang dihuni sekitar 6.558 KK atau sekitar 21.892 jiwa ini terletak ditanah seluas tiga setengah sampai empat hektar sehingga tentu saja permukiman ini dapat dikatakan padat.

Bangunan-bangunan berhimpit satu sama lain dan tidak mempunyai halaman atau dikatakan serambi depan rumah langsung berbatasan dengan jalan gang didepannya.
Permukiman Arab Ampel dihuni oleh berbagai etnis yaitu: etnis Arab, sebagian Madura Medalungan (peranakan Jawa-Madura), dan sebagian lagi Jawa, Bugis Makasar, dan Padang, disamping peranakan India, Pakistan, Bangladesh dan Cina.

Suasana permukiman sendiri merupakan suatu yang bersifat eksklusif sebagai bentukan yang disengaja oleh kolonial Belanda disamping berbagai perkampungan etnis lain. Walaupun kini eksklusifisme ini makin menghilang terutama dengan membaurnya Warga Negara Asing yang ada di daerah tersebut.

Masyarakat yang bermukim di daerah Ampel banyak memeluk Agama Islam. Agama telah mempengaruhi berbagai pola pikir, perilaku bagi masyarakat di daerah tersebut. Karena agama yang dianut relatif kuat maka mereka selalu mendasarkan norma, nilai, dan pe-rilaku sebagai suatu syariah yaitu norma yang didasarkan atas keyakinan (iman Islam).

Permukiman sebagai bentuk Assimilasi Lokal berdasarkan Tempat Tinggal

Etnis keturunan asing di Indonesia pada dasarnya memiliki pola kebudayaan yang berakar dari negara asal dan relatif berbeda dengan pola kebudayaan penduduk pribumi di Indonesia. Pada dasarnya tiap etnis di Ampel mempunyai rasa toleransi yang tinggi dan saling berusaha untuk berbuat atau melakukan sesuatu yang tidak menyinggung perasaan orang lain, sehingga mereka bisa bergaul secara akrab dengan orang-orang dari berbagai etnis lain tanpa membedakan atau membatasi pergaulan berdasarkan etnis tertentu saja.

Di samping dapat bergaul dengan berbagai warga masyarakat dalam berbagai golongan ekonomi. Mereka hanya akan merasa tersinggung dan menarik diri bila direndahkan harga dirinya atau saat sudah berusaha bersikap baik tapi tidak mendaparkan respons yang diharapkan.

Pemukiman sebagai suatu bentuk lingkungan tempat tinggal memang merupakan salah satu faktor yang mempunyai pengaruh dalam proses assimilasi etnis terhadap masyarakat sekitarnya. Walaupun relatif bersifat lokal, namun pemukiman Arab di Ampel mampu membentuk suatu solidaritas diantara sesama warganya dalam artian menunjang proses assimilasi antar etnis yang mendiami wilayah Ampel tersebut.

Sebenarnya jika dilihat dari etnis lain (non arab) yang bermukim di wilayah etnis Arab di Ampel, maka keakraban hubungan antar etnis dengan etnis lain yang ditunjukkan dan terlihat menonjol adalah keakraban huhungan antara etnis Arab dengan etnis Jawa.

Walaupun sebenarnya mayoritas penduduk yang ada di sekitar lingkungan etnis Arab adalah etnis madura, namun ternyata banyak dari warga Arab yang berpendapat bahwa mereka lebih suka bergaul dengan warga etnis Jawa dibandingkan dengan etnis Madura.

Etnis Madura di lingkungan masyarakat Arab di Ampel sebenarnya juga mempunyai peran penting bagi etnis Arab dalam kehidupan sehari-hari seperti halnya dapat diketahui bahwa hampir seluruh pedagang keliling (pedagang sayur dan belanja sehari-hari), penjaja makanan dll yang ada di sekitar kampung Arab mayoritas adalah etnis Madura.

Ternyata pentingnya peran etnis Madura yang mendiami lokasi sekitar Ampel tidak menunjukkan bahwa etnis Arab lebih menyukai bergaul dengan etnis Madura juga. Salah satu kemungkinan bahwa etnis Arab lebih suka bergaul dengan etnis Jawa dibandingkan dengan etnis Madura tersebut dilandasi juga dengan tingkat pendidikan yang relatif setara, karena dalam suatu pergaulan tentu saja dibutuhkan wawasan yang relatif sama untuk bisa saling berkomunikasi.

Secara tidak langsung perkembangan permukiman beralih fungsi dari permukiman berdasar etnis menjadi permukiman berdasar klas sosial yang menunjukkan arah vertikal yaitu berdasarkan perbedaan ekonomi maupun pendidikan.

Aspek kekerabatan sebagai Pengikat Hubungan Antar Etnis

Aspek kekerabatan ini merupakan salah satu hal yang menunjukkan keberadaan suatu etnis. Identitas etnis ini merupakan ciri khas dari suatu etnis yang disadari oleh dirinya dan dikenali oleh orang lain. Salah satu aspek yang menunjukkan hal tentang kekerabatan adalah nama fam yang ternyata sangat menunjang dalam mempertahankan identitas etnisnya.

Suatu etnis akan terbentuk jika seseorang atau sekelompok orang menggunakan identitas etnisnya dalam mengkategorikan dirinya dengan orang lain untuk tujuan interaksi. Kadar untuk membedakannya tersebut nampak dari segi fisik berupa pakaian, bahasa, gaya hidup secara umum, disamping standar moral yang dipergunakan dalam berprilaku.

Aspek Pendidikan dalam kehidupan bermasyarakat

Dalam menganalisa secara ilmiah gejala-gejala dan kejadian-kejadian sosial budaya manusia sebagai suatu proses yang sedang berjalan dan bergeser maka proses pembelajaran budaya yang meliputi internalisasi, sosialisasi dan enkulturasi tidak lepas di dalamnya. Proses internalisasi yang berlangsung sejak lahir sampai meninggal, menanamkan kepribadian dan segala perasaan, hasrat, nafsu serta emosi.

Kemampuan ini sangat dipengaruhi oleh berbagai macam stimulus yang ada di sekitar alam maupun lingkungan sosial budayanya. Internalisasi ini akan berlanjut menjadi sosialisasi, dimana individu belajar tentang pola-pola tindakan dalam interaksi dengan segala macam individu sekelilingnya yang menduduki beraneka macam peran sosial yang ada dalam kehidupan sehari-hari.

Sedangkan proses lanjut dari sosialisasi adalah enkulturasi, dimana seorang individu mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya dengan adat istiadat, sistem norma dan peraturan-peraturan yang hidup dalam kebudayaannya.

Kehidupan antar etnis di Ampel tidak lepas pula dalam berbagai proses pembelajaran budaya dalam kehidupan bermasyarakat. Dlam hal ini ada pengaruh lingkungan kehidupan perkotaan yang akan selalu menyesuaikan diri dengan kehidupan yang ada disekitarnya.

Tetapi masyarakat Ampel masih menjalankan adatistiadat yang adakalanya bertentangan satu sama lain, seperti misalnya perilaku tentang hubungan antar dua jenis kelamin yang mana adanya arus dan pengaruh gaya hidup urban secara umum menunjukkan bahwa pergaulan antara laki-laki dan perempuan dalam lingkungan di sekolah, berteman atau bertetangga merupakan hal yang wajar.

Sebaliknya syariah atau ajaran Islam yang dijalankan sebagai patokan ukuran perilaku masyarakat Ampel justru sangat membatasi perilaku hubungan antar dua jenis kelamin tersebut. Maka muncullah berbagai perilaku yang lain seperti pacaran backstreet atau pacaran tanpa sepengetahuan orang tua atau kerabat lainnya.

Pendidikan informal dalam keluarga diantaranya mengajarkan hubungan antara anak dan orang yang lebih tua maupun hubungan antara anak dengan teman sebaya. Di Permukiman Ampel yang terdiri dari beberapa ragam etnis, pendidikan tentang sikap toleransi sebagai anggota masyarakat merupakan hal penting untuk menghindari sikap etnosentrisme.

Pendidikan formal dan informal yang dimaksud sebagai penunjang assimilasi menyangkut proses terlaksananya assimilasi melalui lembaga-lembaga pendidikan. Aspek pendidikan sebagai penunjang assimilasi ditandai dengan tidak adanya pembatasan karena ke-suku-an atau golongan etnis untuk memasuki lembagalembaga pendidikan.

Di permukiman Ampel terdapat 3 (tiga) Perguruan Tinggi disamping beberapa akademi yang didirikan oleh masyarakat Arab bernaung dibawah Al Khairiyah dan Al Irsyad. Di lembaga pendidikan Al Irsyad yaitu SD, SLTP, dan SLTA masih terdapat pemisah antara murid perempuan dan laki-laki.

Pada dasarnya proses assimilasi melalui aspek pendidikan relatif sangat mudah. Keakraban pergaulan melalui sekolah-sekolah bagi etnis Arab dengan etnis non Arab merupakan salah satu hal yang menunjang terciptanya assimilasi melalui bidang pendidikan.

Pergaulan Sosial antar etnis Arab di Wilayah Ampel

Secara sosial budaya, penduduk kota-kota di Indonesia termasuk kota surabaya mengembangkan kebudayaan rangkap atau bicultural, yaitu satu sisi memegang kebudayaan tradisional dan disisi lain juga mempraktekkan budaya metropolitannya (old sosiety ke new state).

Unsur pengikat di Ampel yang menandakan old society mulai bergerak ke arah new state adalah adanya kesamaan hubungan darah, ras, bahasa, agama, daerah asal dan adat istiadat secara tidak langsung bergerak ke arah perubahan yang kian mengikis sifat semula.

Secara umum jika dilihat sebagai suatu kelompok masyarakat yang merupakan bagian budaya, maka penggambaran antar etnis di Ampel (kehidupan bertetangga, interaksi majikan-pembantu, interaksi berdasarkan tempat tinggal dan interaksi jual beli dipasar) dapat digambarkan sebagai suatu kesatuan, walaupun terdapat didalamnya beberapa perbedaan.

Partisipasi antar etnis pada dasarnya seringkali ditunjukkan dalam berbagai kegiatan pembangunan di daerah Ampel, kegiatan kemasyarakatan seperti kerja bakti dll dan juga partisipasi dalam kegiatan menghadiri kematian atau undangan yang punya hajat, yang tentunya akan mengikutsertakan seluruh warganya. Maka secara tidak langsung masyarakat dituntut untuk bergaul secara intensif terhadap warga sekitarnya.

Kerjasama bidang Perekonomian antar etnis di Ampel

Etnis Arab umumnya menguasai perdagangan dengan barang-barang usaha tertentu yaitu barang dagangan yang berkaitan dengan penunjang ibadah agama (Islam) yang banyak berbeda dengan perdagangan etnis cina di sekitar daerah Ampel.

Tidak tertutupnya kerjasama antar etnis dapat dilihat dari berbagai jenis perdagangan yang membutuhkan bantuan dari etnis lain, seperti halnya pembuatan kopyah yang sebelumnya banyak dikuasai etnis Jawa.

Dengan laju pertumbuhan ekonomi di Kota Surabaya, mengakibatkan terbukanya kesempatan kerja dengan pertimbangan pendidikan, keahlian, dan ketrampilan tanpa memandang perbedaan etnis. Di perkampungan Arab di Ampel banyak dari para warga yang mulai bekerja dan bekerjasama dalam pekerjaan dengan etnis lain.

Diketahui dari beberapa sekolah dan Perguruan Tinggi yang ada di daerah Ampel didirikan karena adanya kerjasama antar etnis. Namun untuk pekerjaan dalam bidang administrasi permintaan cenderung masih terdapat diskriminasi, contohnya dari beberapa pegawai Keluraan Ampel masih banyak yang berasal dari luar daerah Ampel (yang non PNS).

Pola Kehidupan yang muncul dalam proses Assimilasi

Proses assimilasi antar etnis di Indonesia diawali dengan datangnya para pedagang Arab ke Indonesia baik sebelum atau sesudah Islam lahir. Karena mereka pedagang maka unsur-unsur kebudayaan yang mereka bawa adalah terutama bendabenda kebudayaan jasmani, cara-cara berdagang dan segala hal yang berkaitan dengannya.

Dalam rangkaian proses assimilasi ini akan menimbulkan berbagai perubahan dalam pola kehidupan masyarakat. Perubahan masyarakat di Ampel terjadi melalui 2 hal yaitu : 1) perubahan dari dalam masyarakat sendiri dan 2) perubahan yang ditimbulkan dari luar lingkungan masyarakat.

Perubahan yang disebabkan pengaruh dari luar adalah bentuk simbiosis sosial. Dalam hal ini maka orang-orang dalam pergaulan etnis yang terbatas lama kelamaan akan hanyut mengikuti arus perubahan yang terjadi di sekelilingnya.

Reaksi masyarakat yang terkena pengaruh unsur-unsur kebudayaan asing dapat dikategorikan menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama adalah mereka yang berwatak “kolot” yaitu tidak suka dan lekas menolak hal-hal baru. Bentuk konsekuensi-konsekuensi sosial sebagai penolakan atau sikap bermusuhan ini tidak jarang menimbulkan konflik sosial dalam masyarakat.

Namun sebenarnya tidak sedikit etnis pribumi di Indonesia yang bersikap “progresif” artinya suka dan mudah menerima hal-hal baru dengan kedatangan maupun keberadaan etnis lain. Seperti penerimaan golongan etnis Madura dan etnis Jawa di Ampel yang banyak memberi penghormatan terhadap etnis Arab, lebih-lebih bagi keturunan Sayid yang dimuliakan oleh mereka.

Demikian situasi yang terjadi di lingkungan Ampel, disatu sisi mereka mengidentikkan diri dengan bangsa Indonesia secara mayoritas, disisi lain masyarakat di perkampungan Arab di Ampel juga mulai merasakan pembangunan masyarakatnya dalam berbagai aspek kehidupan sebagai masyarakat Indonesia dengan ketrampilan dan keahlian agar etnis-etnis tersebut dapat berperan langsung dalam kegiatan pembangunan yang ada tanpa melihat perbedaan etnis.

Akan halnya dengan penerimaan unsur budaya dalam kehidupan masyarakat Ampel yang relatif masih berusaha untuk mempertahankan tradisi asalnya, paling tidak masuknya berbagai informasi dan teknologi modern ternyata dimaknai sebagai suatu konsekuensi fungsional. Berbagai dampak yang tidak diinginkan dari pemasukan unsur baru akan tampak pada saat arena “ngobrol” malam hari diberbagai jalan daerah Ampel, seperti jalan sasak misalnya.

Adanya proses pemasukan unsur budaya yang relatif baru di kalangan masyarakat Ampel mungkin hanya menguntungkan beberapa individu, seperti halnya anggota masyarakat yang telah siap untuk mengambil keuntungan atau menghadapi masuknya informasi baru.

Pergaulan antar etnis dalam kehidupan masyarakat Kota
Berbagai usaha telah diupayakan agar proses assimilasi di perkampungan Arab di Ampel ii berhasil, baik yang diusahakan oleh masyarakat Ampel sendiri ataupun usaha yang didasarkan pada program pembangunan di Indonesia.

Karena stereotip etnis akan muncul jika masyarakat terkotak-kotak tanpa ada usaha partisipasi melalui proses assimilasi, sebaliknya keberadaan etnis yang variatif di daerah Ampel tidak lagi menjadi masalah jika faktor kebersamaan dalam kehidupan masyarakat telah tercipta.

Kehidupan masyarakat di Ampel, sebagai salah satu permukiman di daerah perkotaan tidak lepas dari tujuan dan harapan kelompok yang lebih besar. Imitasi dapat berlangsung dalam bentuk seperti cara berbahasa, tingkah laku tertentu, cara memberi hormat, mode berpakaian, dan adat istiadat.

Proses kelangsungan ini sendiri bisa positif atau negatif yang melalui kerjasama atau pertentangan dan persaingan. Jika ditilik dari kehidupan golongan etnis di Ampel, proses imitasi sendiri tidak lepas dari orientasi kehidupan kaum muda dengan keberadaannya sebagai bagian masyarakat perkotaan di Surabaya.

Pengaruh urbanism sebagai suatu gaya hidup kota makin terlihat di daerah Ampel. Sebagai suatu unit budaya yang akhirnya mengalami perubahan, kehidupan etnis di Ampel pada dasarnya dapat dikatakan sebagai bentuk kelompok etnis yang berusaha untuk tetap mempertahankan tradisi etnisnya, di samping adanya banyak faktor yang bisa mempengaruhi keberadaan, dalam arti timbul berbagai perubahan dalam suatu unit budaya tersebut.

Dengan adanya kontak budaya yang menimbulkan perubahan dalam kehidupan etnis di Ampel pada dasarnya bertujuan agar mereka dapat berpartisipasi dalam sistem sosial yang lebih luas. Maka kelompok etnis umumnya akan meilih suatu bentuk strategi dasar, misalnya: 1) mereka berusahan bergabung dan masuk, 2) mereka menerima status sebagai minoritas, 3) mereka menonjolkan identitas pada kegiatan yang selama ini belum terjamah dalam masyarakat itu.
Misalnya melalui segi perdagangan peralatan ibadah agama Islam.

Dengan beragamnya masyarakat di Ampel ini akan memungkinkan bentuk assimilasi dari kelompok minoritas dan mayoritas. Dalam hal ini proses assimilasi antar etnis di daerah tersebut makin lebur dalam suatu kesatuan masyarakat.  

Kesimpulan

Adanya perbedaan etnis di perkampungan Arab di Ampel Surabaya, mempunyai pengaruh dalam proses assimilasi jika dikaitkan dengan proses assimilasi antar etnis seperti etnis Jawa, Madura, Bugis-Makasar, Cina, India, Bangladesh dan Pakistan.

Berdasarkan pola permukiman yang sama bagi berbagai etnis yang mendiami daerah Ampel memang merupakan salah satu faktor penunjang dalam mempererat hubungan antar etnis. Keberadaan berbagai etnis di perkampungan Arab di Ampel ini tentu saja telah mengalami masa yang panjang dan lama dalam hal saling bergaul secara intensif.

Terutama jika ditelusuri berdasarkan sejarah mula pertama kedatangan etnis Arab serta awal pembukaan daerah Ampel menjadi suatu bentuk permukiman, tentu akhirnya memunculkan interaksi antar berbagai etnis yang kelak atau sebelumnya sudah banyak bermukim di sekitar lokasi Ampel.

Keterikatan suatu etnis terhadap permukiman di daerah Ampel dapat disebutkan sebagai keterikatan lokalitas dan kekerabatan. Keterikatan ini umumnya masih berlangsung sampai sekarang walau ada perubahan yang terjadi.

Ukuran keterikatan terhadap lokalitas dapat diketahui melalui: 1) keinginan sebagian warga di Ampel untuk tidak pindah dari permukiman Arab yang ada di Ampel, 2) Intensitas kunjungan kerabat di kampung Ampel bagi warga yang bermukim di tempat lain, 3) kebersamaan warga Ampel dalam menyelesaikan masalah/konflik pribadi dan konflik yang menyangkut kerukunan masyarakat setempat dengan tujuan keamanan wilayah Ampel.

Dalam kehidupan sehari-hari memang tampak keeratan hubungan antar etnis. Tapi bagi etnis di Ampel ternyata tidak sepenuhnya menunjukkan bahwa mereka telah mengalami proses assimilasi dalam berbagai bidang kehidupan lainnya, seperti perkawinan ataupun penerapan norma pergaulan dalam kehidupan sehari-hari.

Hubungan kemasyarakatan antar etnis misalnya dalam hal pergaulan sosial sangat dipengaruhi oleh situasi yang ada misalnya ruang lingkup sekolah, pekerjaan, maupun kegiatan masyarakat setempat.
Konflik yang muncul antara lain menyangkut keberadaan kolektivitas. Dan hal ini merupakan perwujudan dari perbedaan kepentingan, persaingan kerja, pemahaman agama, norma yang berlaku ataupun latar belakang sosial budaya.

Sebaliknya, adanya kerjasama dalam pekerjaan, persamaan dalam agama (Islam) serta perasaan sebagai kerabat antar etnis di Ampel merupakan faktor pendorong hubungan yang harmonis pada masyarakat Ampel, jika dikaitkan dengan proses assimilasi yang terjadi antar etnis di daerah Ampel.

Nilai agama (Islam) dan tradisi merupakan patokan dalam kehidupan sosial. Namun saat ini tidak sedikit perubahan yang telah terjadi (umumnya oleh kaum muda) baik dalam hal kehidupan keagamaan, kemasyarakatan sebagai bentuk penyimpangan kebiasaan.

Pengaruh budaya “kota” (Surabaya) di Perkampungan Arab di Ampel ternyata membawa dampak tertentu. Di satu pihak berbagai kemajuan, perkembangan dan pembangunan masyarakat dengan informasi dan komunikasi yang kian meluas menuju kesatuan masyarakat dalam ruang lingkup lebih luas dapat dirasakan. Seperti halnya meningkatnya pendidikan dan tingkat perekonomian keluarga, banyak keluarga yang mempertimbangkan untuk mencari permukiman dan lingkungan pendidikan yang dianggap lebih baik dibandingkan yang ada di Ampel saat ini.

Dampak yang dianggap tidak menguntungkan bagi kehidupan masyarakat dari berbagai etnis lain di Ampel adalah ketidaksiapan masyarakat yang masih bersifat “tradisional” dalam menghadapi arus “modern”. Contoh yang dapat dilihat adalah makin berubahnya sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari kalangan muda dan dianggap menjurus ke tindakan amoral bagi masyarakat lingkungan Ampel.

Daftar Pustaka:
Asyadi`ah, Mustofa., Islam tidak bermahzab, Jakarta Gema Insani Press, 1995.
Durkheim, Emile., The Elementary Forms of the Religious Life Glencoe Illinois: The Free Press, 1947.
Geertz, Hildred., Aneka Budaya dan Komunitas Indonesia, Jakarta: Yayasan Ilmu Sosial FIS-UI, 1981.
Graaf, H.J. De dan Th.G.Th.Pigeud., Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, Terjmh, Jakarta: Grafiti Press, 1984.
Ihromi,T.O.,editor, Pokok-pokok Antropologi Budaya, Jakarta: PT Gramedia, 1984.
Koentjaraningrat, Beberapa Pokok Antropoloqi Budaya Jakarta: PT Dian Rakyat, 1977.· Pengantar Ilmu antropologi, Jakarta: CV Rajawali, 1985.
Malinowski, Bronislaw., Magic, Science and Relegion Glencoe, Illinois: The Free Press, 1954.
Merton, R.K., Social Theory and Social Structure Glencoe, Illinois: The Free Press, 1949.
Ritzer, George., Sosioloqi Ilmu Penqetahuan Berparadigma Ganda, (Terjemahan), Jakarta : CV. Rajawali, 1992.

Artikel Lainnya