Jakarta, INDONEWS.ID – George Santayana (1863-1952), filsuf, penyair, dan esais asal Spanyol, dalam buku The Life of Reason: The Phases of Human Progress (1905) menulis "Those who cannot remember the past are condemned to repeat it". Mereka yang tidak dapat mengingat masa lalu terpaksa harus mengulanginya kembali.
Ungkapan ini menekankan betapa pentingnya belajar dari sejarah atau kesalahan masa lalu agar kita tidak kembali mengulanginya di masa sekarang dan masa depan.

Reuni adalah bagian dari upaya untuk mengenang masa lalu itu. Melalui reuni, seseorong dipaksa untuk mengingat hal-hal baik maupun kurang baik yang dilakukannya. Reuni adalah bagian dari pembelajaran agar kita tidak melakukan hal yang buruk, sembari terus berbuat baik yang telah dilakukan di masa lalu.
Bertempat di Resta Fogo Cipete, Jalan Cipete Raya, Jakarta Selatan, beberapa tokoh berkumpul bersama. Mereka sepakat melakukan reuni teman-teman saat duduk di bangku sekolah dasar, pada Rabu (13/5/2026).

(Bang Buyung bersama Agus Purnomo, pegiat masalah lingkungan. Foto: Ist)
”Ini adalah reuni SD Ora et Labora yang lulus tahun 1970,” ujar Pemimpin Redaksi INDONEWS.ID, yang hadir dalam kesempatan itu.
Satu demi satu datang memenuhi tempat tersebut. Ada sekitar belasan orang hadir dalam reuni tersebut yaitu Satria Hari Prasetya, Yoyok, Ade Samrit, Inneke, Asri Hadi, Emira, Rubi, Trisna, dan Agus Purnomo. Selain itu ada juga Nanda, Enturinah, Asri Saraswati dan Oche.
Walau mereka yang hadir bisa dihitung dengan jari, namun keseruannya selalu ada. Mereka membincangkan kenangan puluhan tahun lalu ketika sama-sama mengenakan pakaian ”merah-putih”.
Irjen Pol (Purn) Satria Hari Prasetya yang juga mantan Deputi Bidang Ekonomi Badan Intelijen Negara (BIN) ini merupakan inisiator pertemuan tersebut.

(Asri Hadi bersama Irjend Pol Purn Satria Hari Prasetya. Foto: Ist)
”Iseng iseng berhadiah, senang ketemu teman SD karena lebih polos dan bicaranya tentang Kebayoran Baru masa lalu, maklum mayoritas teman-teman SD Ora et Labora tinggalnya di sekitar sekolah,” ujarnya.
Asri Hadi atau lazim disapa Bang Buyung mengatakan, dulu, Irjen Pol (purn.) Satrya tinggal di Jalan Darmawangsa, Agus Purnomo di Jalan Melawai, sedangkan Rubi di Jalan Prapanca. ”Semuanya di Kebayoran baru,” ujarnya.
Bang Buyung menambahkan, ”acara reuni tersebut berlangsung penuh dengan cerita lucu tentang kita dulu waktu SD di ORA et Labora lebih dari 57 tahun yang lalu,” ucapnya.
Dia mengatakan, Agus Purnomo adalah Staf Khusus Menteri Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar selama lima tahun (2004–2009) dan Staf Khusus Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SB) di Bidang Perubahan Iklim (Februari 2010–Oktober 2014) dan berperan di Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI).

(Asri Hadi bersama Inneke. Foto: Ist)
”Agus Purnomo seorang pegiat masalah lingkungan, yang waktu SD dulu rumahnya dekat sekali dengan sekolah SD Ora et Labora di Blok M,” kenang Bang Buyung.
Sementara itu, Inneke mengatakan bahwa dirinya senang dengan reuni tersebut. ”Saya merasa sangat bahagia bisa ketemu dengan teman-teman waktu kecil,” ujarnya.
Bang Buyung mengatakan, kini, lengkap sudah dirinya menggelar reuni. ”Lengkap sudah reuni yang saya lakukan, mulai dari SD Ora et Labora, SMP 13 Jakarta Selatan, SMA 3 Teladan Jakarta, FEUI ’77 dan FISIP UI ’78,” kata mantan dosen IPDN itu.
Sekolah Ora et Labora ini dikelola oleh Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) yang didirikan pada tanggal 28 Mei 1966 oleh Benny Rob Arie Riupassa dan Johannes Boudewijn Riupassa.

(Asri saraswati,Rubi dan Asri Hadi, bukan hanya teman waktu kecil tapi sama sama di FEUI 77. Foto: Ist)
Sekolah tersebut berlokasi di Jalan Panglima Polim I blok N nomor 1 Jakarta Selatan. Gedung sekolah tersebut digunakan untuk kegiatan belajar mengajar dari TK, SD hingga SMP. Pada tahun 1980 dilakukan renovasi gedung sekolah yang masih semi permanen menjadi bangunan permanen yang kokoh berdiri hingga sekarang.
Ora et labora adalah ungkapan dari bahasa Latin yang berarti "berdoa dan bekerjalah". Prinsip ini berasal dari tradisi Kristiani (terutama Santo Benediktus dari Nursia) yang menekankan keseimbangan antara spiritualitas (doa) dan tindakan nyata (bekerja/berkarya). Moto ini populer di kalangan biarawan Benedictine untuk menyeimbangkan kehidupan spiritual dan kerja fisik.

Ora et Labora memiliki makna siswa tidak hanya berdoa tanpa bekerja (belajar), atau bekerja keras tanpa berdoa, tapi melakukan keduanya secara seimbang. *