Oleh : Dr. Zuhdi Zaini (Dosen UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta)
Hidup ini sementara. Tidak lama lagi kita akan berpisah dengan semua. Iya semua. Semua yang kita miliki dan semua yang kita cintai.
Semoga kita akan ketemu lagi di alam sana. Alam perhitungan dan hisab tanpa amal.
Dunia adalah ladang akhirat. Tempat bertaman dan bekerja keras. Inilah negeri beramal tanpa hisab.
Perjalanan masih panjang. Banyak terjal yang akan menghadang dan jurang curam yang dapat mencekakakan.
Amal baik adalah kendaraan indah yang akan mengantarkan hamba kepada negeri kebahagiaan dan menyenangkan.
Amal buruk akan menemani hamba dengan duka dan nestapa selama perjalanan hingga sampai tujuan kesengsaraan.
Menatap hari esok adalah kewajiban. Mengisinya dengan prestasi adalah kemauan dan pilihan.
Hari esok adalah hari setelah hari ini. Hamba tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Namun, merencanakan kebaikan untuk hari esok yang lebih baik adalah kewajiban hamba.
Hari esok adalah sepuluh atau dua puluh tahun ke depan. Saat usia muda dalam genggaman, maka usia tua menanti di depan.
Apabila hari ini, hamba tidak menimbun amal soleh, maka hari esok hanyalah penyesalan atas kelalaian dan kealpaan yang hamba lakukan sekarang.
Apabila kerja keras dengan semangat yang tinggi menjadi modal utama, maka sepuluh atau dua puluh tahun ke depan, hamba akan menikmati buah dari kerja keras di usia muda.
Hari esok adalah kehidupan setelah di dunia yang fana ini. Setelah ajal menjemput, hamba akan pindah dari alam fana menuju alam baqo.
Setelah kehidupan duniawi selesai, hamba akan mengalami kehidupan ukhrawi yang abadi. Perjalanan tanpa batas kecuali amal yang menjadi batasnya.
Amal baik adalah batas kebaikan. Semua amal baik akan menjelma menjadi makhluk yang indah yang setia menemani hamba selama perjalanan.
Amal buruk akan menjelma menjadi makhluk yang menjijikkan dan menakutkan serta menyiksa selama perjalanan bahkan sampai tujuan.
Pilihan hanya dua; yaitu, benar atau salah, baik atau buruk, selamat atau tidak selamat, bahagia atau sengsara. Pilihan bukan takdir, tapi ia adalah akibat sebuah perbuatan.
Menilik kedalaman hati yang paling dalam, hamba takut dengan hari esok, karena terlalu sedikit bekal perjalanan. Namun, terlalu banyak kelalain, kemaksiatan dan dosa yang menyelimuti badan. Sakit, derita dan air mata adalah akibat itu semua.
Nabi suci berpesan “sebesar cobaan dan ujian yang engkau terima, sebesar itu pula pahala dan kebahagiaan yang akan engkau rasakan”.
Usia telah senja. Amal hanya formalitas belaka. Semangat bertobat hanya dalam angan-angan. Kekhusyu`an semakin sulit dirasakan. Kehampaan menimpa jiwa. (Ya Allah, hamba malu bertemu dengan-Mu).
Usia telah senja. Malaikat maut akan segera datang menjemput hamba. Mamun mengapa hamba tetap terlena kagum dan bangga dengan dunia, bangkai yang tiada guna.
Allah Ta`ala memberikan harapan indah seraya berfirman, “kasih-Ku (sungguh) lebih luas dari murka-Ku. Datanglah ke dalam pangkuan-Ku wahai hamba yang penuh dosa dan maksiat. Aku menanti tobatmu setiap waktu, dan pintu ampunan berbuka selalu”.