Opini

Tentang Etimologi

Oleh : luska - Kamis, 10/03/2022 13:20 WIB


Saya termasuk orang yang iseng untuk mencari tafsir makna tentang kata dengan metode othak-athik gathuk ala Jawa yang lebih sering untuk tujuan yang humoristik  bahan candaan, walaupun tak sengaja sering pada tahapan "semu" yang dalam istilah bahasa Jawa disebut lelucon kelas tinggi yang bermakna  filosofis, yang tidak mudah ditangkap oleh orang ramai secara spontan serta jauh dari hal-hal yang slapstick. 

Secara tidak sadar guyonan bersama teman-teman sekadar cengengesan lebih 40 tahun silam bersama Benny Subianto dkk sebenarnya adalah kajian etimologi, atau etymology. Untuk konsumsi terbatas kami sering menafsirkan makna dari nama seseorang melalui kata. Bagi kami lucu, bagi yang lain sangat jadi tidak sama sekali. 

Dulu ada guru saya bernama Maruta  dalam bahasa Jawa berarti angin  kata lainnya yang bersinonim adalah bayu, samirana. Kami sering memanjangkannya menjadi maruta klapa atau parutlah kelapa yang hanya dipahami oleh mereka yang bertutur dengan mothertongue bahasa Jawa.

Untuk angin ribut ada kata khusus yakni lesus.  Dalam bahasa Indonesia puting beliung yang oleh redaksi berita edisi bahasa Jawa JTV Surabaya diterjemahkan sebagai angin penthil muter.. Kalau yang ini logika etimologi dipakai secara seranpangam karena sekadar menerjemahkan puting sama dengan penthil atau ujung payudara dan beliung berarti berputar-putar. Entah kenapa meski ada istilah spesifik dalam bahasa Jawa yakni lesus, tapi redaksi JTV tetap menggunakan angin penthil muter sampai kini.   

Bagi yang bersekolah di daerah, tentu mendapat pelajaran bahasa daerah. Saya mendapat pelajaran bahasa Jawa  selama sembilan tahun dari SD hingga SMP. Dulu ada bagian pelajaran tentang dasanama, tentang sinonim yang sering memerlukan penjelasan secara etimologis. Istilah untuk kamu dalam bahasa Jawa ngoko adalah kowe. Arti kowe adalah anak lutung. Dalam krama madya, atau bahasa menengah disebut sliramu atau dari kata salira atau badan. Badan juga berarti awak. Salira memang sebutan untuk reptil biawak, atau milawak  di pesisir Jatim disebut nyambik. Jika awakmu dalam Jawa adalah kata ganti orang kedua yang berarti kamu, engkau dalam bahasa Indonesia. Sementara dalam bahasa Melayu dialek Sumatera Timur  awak adalah kata ganti orang pertama, seperti aku atau saya. Saya  konon berasal dari kata sahaya yang berarti anak anjing alias kirik. 

Selain sliramu, juga ada sampeyan. Sampeyan artinya kaki. Sementara untuk memanggil raja menggunakan kata sampeyan dalem, jika diterjemahkan secara harfiah adalah kakimu.  Tentu aneh memanggil raja dengan kakimu. Sebutan lengkap sebetulnya adalah sahandhap sampeyan dalem, yang berarti di bawah kakimu. Artinya rakyat atau kawula memang berada di bawah kaki raja. Itulah prinsip feudal yang berlaku pada sistem monarki absolut. Kali ini sok ngetiomologi, yang berkerabat dengan semiologi atau semiotik, dan hermeunetik - yang satu ilmu tentang tanda, yang satunya lagi tentang makna. Keduanya membahas tentang tafsir. Jika Walikota Surakarta meninggalkan mobil dinasnya di tempat yang bermasalah dan menuntut penyeselesaian segera tanpa harus tergopoh-gopoh, artinya Gibran Rakabuming memang paham soal semiotik dan hermeunetik.

Tabik. Selamat pagi.

Rachmad  Bahari
Soloensis

Artikel Lainnya