Opini

IKN & Kesehatan

Oleh : luska - Minggu, 13/03/2022 11:16 WIB


Penulis : Prof Tjandra Yoga Aditama (Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI/Guru Besar FKUI, Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit & Kepala Badan Litbangkes Kemenkes RI)

Pmpinan otorita IKN sudah dilantik, dan presiden diberitakan akan berkemah di lokasi IKN besok. 

Khusus ttg aspek kesehatan di IKN maka diusulkan 8 aspek, 5 langkah dan 4 antisipasi penyakit menular.

Aspek pertama adalah sanitasi, yang menjamin ketersediaan air bersih dan pelaksanaan hygiene dan sanitasi. Disusul dengan aspek dua sarana aktifitas fisik, yang mempromosikan gaya hidup non-sedentari serta aspek ke tiga tentang harus tersedianya berbagai jenis makanan dengan kalori yang cukup dan kaya nutrient esensial yang memadai. Yang ke empat aspek istirahat secara berkala dan wajar, ke lima tentang ketahanan emosional (“emotionally resilience”) untuk meningkatkan kemampuan untuk menangani stress. Aspek ke enam tentang spiritualitas, baik tentang agama dan juga aspek sosial lain serta  ke tujuh tentang lingkungan hidup dan  harmoni yang baik antar warga dan dengan lingkungan sekitar. Aspek ke delapan tentang pekerjaan dan pendapatan finansial.

Lalu, langkah pertama di IKN adalah memilih energi bersih (“Choose Clean Energy”), ke dua  ketersediaan transportasi umum yang baik dan  ke tiga investasi pada kesehatan digital (“digital health”). Langkah  ke empat mengimplementasikan “Internet of Thing – IoT” yang akan amat berpengaruh pada bidang kesehatan, serta  ke lima adalah senantiasa memonitor derajat polusi udara di kota.

IKN dibangun di pulau Kalimantan, yang selain mempunyai pola epidemiologi tertentu maka juga terkenal dengan hutan dan kehidupannya. Untuk itu, dalam kaitannya dengan penyakit menular maka setidaknya ada 4 hal yang patut jadi perhatian pada IKN. Pertama tentang berbagai vektor yang sudah ada di habitat setempat, termasuk di hutan sekitarnya, termasuk antisipasi penyakit yang ditularkan vektor (“vector borne disease”). Antisipasi ke dua tentang perubahan lingkungan yang mungkin terjadi, yang dapat diantisipasi dengan kajian lingkungan dan dampaknya pada pola penyakit menular. Antisipasi ke tiga, tentu perlu dikaji tentang penyakit apa saja yang endemik di daerah IKN Nusantara serta daerah tetangganya, serta analisa retrospektif dan surveilans prospektifnya secara amat intensif, baik sampai kota mulai beroperasi dan juga sampai tahun-tahun kedepannya. Antisipasi ke empat,  IKN ini tentu akan dibangun dengan prinsip ketahanan terhadap pandemi di masa datang, “pandemic resilient city”.

 

Artikel Lainnya