Nasional

Top! Unika Atmajaya Perkenalkan Ergonomi dalam Workshop "Engineering Anthropometry"

Oleh : Rikard Djegadut - Rabu, 08/06/2022 18:30 WIB

Workshop bertema ”Engineering Anthropometry: The Measurement of Human Body Dimensions and Its Application for Design and National Standard” yang dihadiri para peneliti BRIN di Gedung 417, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kawasan Puspitek, Serpong, Tangerang Selatan pada Rabu (8/6/22).

Jakarta, INDONEWS.ID - Program Studi Teknik Industri Unika Atma Jaya Jakarta menggelar Workshop bertema "Engineering Anthropometry: The measurement of human body dimensions and its application for design and national standard" di Gedung 417, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kawasan Puspitek, Serpong, Tangerang Selatan pada Rabu (8/6/22).

Workshop ini digelar untuk memberikan wawasan mengenai teknik pengukuran dan aplikasinya dalam perancangan, termasuk dalam kaitannya dengan standar nasional (SNI).

Kegiatan workshop ini diawali dengan sambutan dari Dr. Ir. Wibawa Prasetya., MM selaku Sekretaris Program Studi Teknik Industri Unika Atma Jaya yang bertindak sebagai Ketua Panitia Workshop.

Sekretaris Program Studi Teknik Industri Unika Atma Jaya, Dr. Ir. Wibawa Prasetya (Foto: Rikard Djegadut/Indonews.id)

Dalam sambutannya, Dr. Ir. Wibawa Prasetya., MM mengatakan bahwa, hampir 80 persen aktivitas pelajar dari jam 07.00-13.00 adalah duduk di kursi.

Hal tersebut merupakan rutinitas yang tak dapat dihindari, sehingga terkadang tidak menyadari jika posisi duduk yang salah dapat menyebabkan nyeri di punggung, leher, dan bahu.

"Dalam kondisi ini, meja dan kursi merupakan salah satu yang harus diperhatikan. Apakah meja dan kursi yang digunakan pelajar ergonomis atau tidak, sehingga nyaman untuk digunakan selama mengikuti pelajaran," ujar Dr. Wibawa di sela-sela sambutannya.

Meja dan kursi ergonomis adalah meja dan kursi yang dirancang secara khusus agar memenuhi kebutuhan penggunanya. Meja dan kursi ergonomis dibuat agar penggunanya merasa nyaman, lebih sehat bahkan disebut-sebut mampu meningkatkan produktivitas dalam banyak hal.

"Kedepan diharapkan terbentuk kerjasama penelitian antara prodi Teknik Industri Unika Atma Jaya dengan BRIN dibidang ergonomi yang hasilnya dapat berupa evaluasi SNI, menghasilkan SNI standar yang baru serta berbagai bentuk lainya," kata Dr. Wibawa.

Sementara sambutan dari pihak BRIN diwakili oleh Ibu Nur Tjahyo Eka Darmayanti, MSi yang merupakan Kepala Pusat Riset Teknologi Pengujian dan Standar BRIN.

Dalam sambutannya, Nur Tjahyo Eka Darmayanti, MSi menyampaikan selaku Kepala Pusat Riset Teknologi Pengujian dan Standar BRIN, dirinya  bangga dan memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan workshop ini.

"Bangga dan suprise atas terselenggaranya kegiatan ini. Ternyata, usut punya usut, ini diawali dengan kegiatan ikon stand internasional yang dilangsungkan pada saat kita masih di BSM. Dan ternyata sejak saat itu pula, ada proposal dan kerja sama yang serius. Terima kasih kepada Pak Budi dan Pak Yanto terus berkomitmen sehingga kegiatan hari ini bisa dilaksanakan," kata Eka.

Eka juga mengaku, awalnya tidak memahami tema yang diangkat dalam workshop, tetapi setelah mendapat penjelasan, ia menyadari betapa pentingnya Workshop Engineering Anthropometry.

"Memang tema itu familiar, tetapi ternyata berisi tentang suhu tubuh manusia, gula, otot dan lemak yang punya kaitannya dengan fasilitasi kerja, keperluan-keperluan operasional stasiun kerja serta berorientasi pada penciptaan produk sesuai dengan ukuran yang diminati. Ini sangat menarik dan sesuatu yang baru bagi saya," terang Eka.

Eka lalu meminta kepada peserta yang hadir agar benar-benar memahami peran penting ergonomi sehingga dapat mencapai taraf hidup sehat.

"Berharap teman-teman yang hadir di sini, bisa mengerti ya, cara hidup sehat. Besar juga harapan saya agar kegiatan ini tidak berhenti sampai di sini, tetapi terus berlanjut dengan meningkatkan kerja sama di antara sesama kita," ungkapnya.

Kepala Pusat Riset Teknologi Pengujian dan Standar BRIN, Nur Tjahyo Eka Darmayanti, MS 

Sebagai informasi, melalui workshop ini, peserta diberikan pengetahuan mengenai standarisasi pengukuran antropometri, instrumen atau alat yang digunakan, serta bagaimana menerapkan dalam perancangan, termasuk studi kasus penerapan data untuk perancangan dan penggunaan dalam pengembangan standar nasional.

Dalam workshop ini, bertindak sebagai fasilitator adalah ST. MSc. PhD. Ia merupakan peneliti Ergonomi dengan kekhususan bidang kajian antropometri selama lebih dari 15 tahun.

Yanto, PhD banyak meneliti dimensi meja dan kursi sekolah, termasuk evaluasi SNI baik dari kriteria antropometri maupun dari sisi implementasi di sekolah-sekolah.

Disertasi Yanto juga mengambil topik antropometri petani di Indonesia dan memanfaatkan data tersebut untuk mengevaluasi dimensi peralatan pertanian pada SNI seperti cangkul, parang dan sabit.

Ergonomi merupakan ilmu yang sistematis memanfaatkan informasi mengenai sifat, keterbatasan dan kemampuan manusia untuk menghasilkan rancangan yang efektif, nyaman dan aman bagi pengguna.

Yanto, ST. MSc. PhD, salah satu peneliti ergonomi Indonesia dengan kekhususan di bidang antropometri

Dalam pemaparannya, Yanto menyampaikan, salah satu prinsip dasar dalam ergonomi adalah "fitting the product/task to the person” -- dimana produk, peralatan dan mesin dirancang dengan mempertimbangkan manusia sebagai pengguna.

Salah satu informasi dasar yang harus digunakan dalam perancangan produk yang digunakan oleh pengguna adalah dimensi produk harus sesuai (match) dengan dimensi penggunanya.

Informasi mengenai dimensi tubuh pengguna, dalam hal ini antropometri menjadi penting bagi perancang. Contoh sederhana, pakaian yang digunakan, meja kursi yang dipakai akan nyaman digunakan jika sesuai dengan dimensi tubuh dari penggunanya.

Ketidaksesuian antara dimensi tubuh si pemakai dengan peralatan atau benda yang dipakainya (disebut anthropometry mismatch) tidak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman bagi pemakainya tetapi lebih jauh lagi berdampak kepada kesehatan pemakainya.

Sebagai akibatnya bagi industri, pelanggan akan menjauhi produk-produk yang tidak dirancang secara ergonomis tersebut. Pemerintah sendiri mengatur dimensi produk yang digunakan dengan mengeluarkan SNI sebagai acuan.

Sebagai contoh, pemerintah mengeluarkan SNI 8518: 2018 dan SNI 8519: 2018 yang mengandung informasi dimensi meja dan kursi yang dapat menjadi acuan pihak sekolah.

Yanto telah melakukan banyak kajian dimensi produk di Indonesia yang dihubungkan dengan dimensi pengguna, termasuk beberapa SNI yang dikeluarkan oleh BSN.

Berdasarkan hasil penelitiannya, banyak ditemukan ketidaksesuaian (mismatch) dimensi alat/produk yang digunakan dengan dimensi antropometri pengguna.

Lebih jauh, dalam salah satu kajian yang dipublikasikan di Applied Ergonomics, salah satu jurnal top di dunia untuk bidang ergonomi, banyak siswa-siswi sekolah dasar yang menggunakan meja dan kursi sekolah dengan ukuran yang jauh lebih tinggi dari seharusnya – yang dapat berimplikasi terhadap kesehatan siswa dalam jangka panjang.

Dalam salah satu seminar internasional yang diadakan oleh Badan Standarisasi Nasional (BSN) yaitu ICONSTAM 2021, Yanto, PhD juga membagikan hasil penelitiannya dimana lebih dari 80% sekolah swasta dan 90% sekolah negeri tidak menggunakan ukuran meja dan kursi yang sesuai SNI.*

 

Loading...

Artikel Terkait