Opini

Renungan Singkat Tentang Etos Ibadahku

Oleh : luska - Kamis, 10/11/2022 17:45 WIB


Penulis :  Noryamin Aini 

Renungan ini, tiba-tiba terlintas di getar qalbuku. Lalu ia kutulis sebagai evaluasi diri. Ya Allah, hamba, selama ini sering lalai, bahkan tidak jarang alpa memaknai butir yang hamba tulis dan baca ini di setiap gerak hamba beribadah, juga menghambakan diri di keharibaan kemuliaan dan keagungan-Mu. 

Ya Allah kelalaianku untuk beribadah dengan qalbu yang ikhlas membuat hamba merasa malu berharap ampunan dan kasih sayang-Mu. Namun kelalaian hamba, semoga, masih lebih baik ketimbangan keangkuhanku untuk berusaha memperbaiki diri dalam tatap ridho dan kasih-Mu.

Sahabat!
Ini adalah ritme dan seni beragama. Kata sebuah petuah sufistik, pertama, beragama dengan "nafsu" hanya sebatas menambah frekuensi dan kuantitas bilangan kegiatan beribadah. Namun, ia bergerak datar, tawar, dan hampa, tanpa sentuhan lembut dalam gemuruh getar (khathar) qalbu.

Baca juga : UJI MIND-SET

Kedua, beragama dengan "akal-rasio", hanya sebatas rangkaian aktivitas intelektual untuk memahami keberadaan dan keagungan Tuhan. Di ujung simpulnya, doktrin agama hanya sebatas wacana keilmuan yang asyik untuk dibincang, tanpa kesejukan di bening dan lembut getar qalbu.

Ketiga, beragama dengan "qalbun salīm (bening) akan menghadirkan aura ilāhiah dan nabāwiyah dalam getaran dahsyat yang membuat qalbu orang beriman mudah melembut, dan tersungkur rindu dalam glamour simpuh sujud kerinduan dan penghambaan pada Tuhan. Beribadah dengan getaran qalbu akan menjelma dalam ketenangan dan kerinduan pada Allah swt dan Rasulullah saw.

Sahabat!
Kalau ibadah kita masih dominan dimotivasi, atau distimulasi oleh janji-janji indah yang terbayangkan secara nyata (tangible) dalam standar duniawi, nampaknya, kualitas ibadah kita masih memuja nafsu. 

Kalau ibadah kita masih sebatas mengejar (usaha memahami) arti setiap rangkaian bacaan dengan cara berdialog dengan pikiran-diri sendiri, ibadah seperti ini menjadi tanda kita masih sebatas seorang ilmuan agama yang belum menjadi praktisi agama yang hakiki, "mukhlish" dan "mukhlash."

Kalau ibadah kita sudah kuasa menggetarkan qalbu dalam perasaan sesal terhadap setiap keburukan yang kita lakukan, atau menggetarkan qalbu yang menuntun tetes air mata rindu pada Allah dan Rasulullah, kekasih-Nya, ibadah kita nampaknya sudah menelisik relung terdalam dari kulit ari qalbu orang yang beriman.

Bagian akhir ini adalah kisah indah getar qalbu para pencari ridlo Allah, walaupun tanpa pujian manusia, dan tanpa glamour duniawi. 

Cukup Allah sebagai target hidupku, dan ridlo-Nya adalah impianku.

Pamulang, 10 November 2022

TAGS : Noryamin aini

Artikel Lainnya