Pilpres di Tengah Krisis Ekonomi: Rizal Ramli Sebagai Kuda Hitam Pemimpin Alternatif

Oleh : very - Rabu, 23/11/2022 21:50 WIB

Rizal Ramli bersama Megawati Seokarnoputri dan Puan Maharani. (Foto: Konfrontasi.com)

Oleh:  Ishak Rafick*)

Jakarta, INDONEWS.ID – Tokoh-tokoh Islam dan nasionalis yang menginginkan masa depan yang adil, makmur dan nyaman, mestinya jeli melihat peluang membalik kekalahan yang menghinakan ini menjadi kemenangan.

Krisis ekonomi di bawah pemerintahan Presiden Jokowi sudah makin dalam dan menerabas tajam. Utang era Jokowi Rp7400 trilyun, rupiah ambruk, harga harga naik, pajak naik dan kemiskinan meluas. Karena itu, civil society tak boleh diam.

Untuk itu, ada beberapa cara yang bisa dilakukan:  

Pertama, dukunglah Rizal Ramli (RR), sang kuda hitam, sebagai RI-1 dengan cara menghapus electoral threshold. Atau menyandingkan RR dengan Puan Maharani atau Prabowo atau Anies Baswedan. RR adalah pemimpin alternatif mengatasi krisis ekonomi Jokowi yang menggilas negara bangsa ini menuju kehancuran.

Kedua, ikutlah bermain dalam pergesekan antara Jokowi, yang dimainkan Oligarki, melawan trah Soekarno. Gesekan itu sudah terbuka ke publik.

Sejauh ini Ketum PDIP Megawati menolak wacana 3 periode atau perpanjangan waktu.  Dia berpegang pada konstitusi. Jokowi menggunakan Ganjar Pranowo sebagai proxy.  Sedang bundo kanduang tegas  mengusung Puan Maharani.  

Ketiga, di sisi lain Jokowi coba menggandeng Prabowo untuk gambling 3 periode lewat akrobat politik utak-atik capres/cawapres. Kawasan Nusa Tenggara Timur, NTT sedang dipakai untuk menggoalkan referendum 3 periode.  Di sana ada Laiskodat. Gerakan kembali ke UUD 1945 juga bisa dimanfaatkan untuk periode ketiga, kalau tidak hati-hati.  Tapi semua itu nampak lesu kini.

Varian lainnya adalah istana minta tambahan waktu sampai 2027 kepada DPR yang sudah dilunakkan. Alasannya bisa dicari-cari, misalnya tak ada dana atau  karena krisis.  Yang di luar itu akan dilunakkan dengan cara lain. Namun lesu juga kini. Rakyat inginkan perubahan.

Keempat, begitulah kekuatan untuk mainkan ketiganya itu. Atau terimalah nasib, nerimo adalah strategi jitu para budak cari selamat. Maukah kita begitu? Tidak !

NB: Tulisan ini sudah ditayangkan oleh Konfrontasi.com dengan sedikit perubahan. 

*) Penulis adalah Senator ProDEM 

Artikel Terkait