Nasional

RR: Pemilu Seharusnya Bisa Mengubah Indonesia dari Bangsa Inlander Jadi Highlander

Oleh : very - Selasa, 11/07/2023 10:23 WIB


Rizal Ramli adalah mantan Menteri Koordinator Perekonomian Indonesia (2000-2001) dan mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman (2015-2016). (Foto: ist)

Jakarta, INDONEWS.ID - Tokoh Nasional DR Rizal Ramli mengatakan Indonesia akan menjadi negara hebat jika para elitnya diganti atau berubah dari orang bermental inlander menjadi bermental highlander.

“Indonesia bisa maju dan hebat kalau pejabat-pejabat inlander diganti dengan pahlawan-pahlawan highlander,” ujarnya.

Pertanyaannya adalah bisa tidak proses perubahan dari inlander ke highlander tersebut dilakukan melalui proses pemilu?

Menurut Bang RR – sapaan Rizal Ramli – seharusnya pemilu bisa menjadi ajang pergantian dan perubahan para elit dari yang hanya melayani diri sendiri dan keluarganya menjadi elit yang melayani masyarakat.

“Mohon maaf, tidak bisa karena pemilunya dari awal dirancang bukan untuk perubahan malah justru untuk  melanjutkan oligarki, dinasti, mental inlander. Mereka merancang calonnya hanya dua, Jokowi-man supaya bisa melanjutkan sikap inlander,” ungkap ekonom senior itu saat menerima komunitas seniman “Koloni Seni Ngopi Semeja” pimpinan Jimmy S. Johansyah di kediamannya di Jakarta, Rabu (5/7).

Karena itu, mantan Menko Perekonomian ini mengatakan, sudah saatnya kita tidak mengikuti cara pemilu inlander tersebut.

“Kita bisa menjadi bangsa yang makmur, sejahtera rakyatnya, karena kita negara Indonesia paling kaya dalam segala hal, sumber daya, matahari, hujan di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Tidak ada negara yang sesempurna Indonesia,” ujar Bang RR.

 

Berani Bela Rakyat dan Bangsanya

Mantan Menko Kemaritiman itu mengatakan, salah satu standar etika yang dimiliki oleh negara-negara higlander adalah pemerintahannya memiliki standar etika yang tinggi.

Tokoh kunci gerakan reformasi itu mencontohkan Jepang. Dia menceritakan bahwa Perdana Menteri Jepang suatu ketika mengundang teman-temannya makan malam. Namun dia lupa bahwa membayar makan malam itu seharusnya tidak menggunakan uang negara. “Kemudian dia sadar akan kekeliruannya, kemudian mengundurkan diri,” katanya.

Contoh lain, kata Rizal Ramli, yaitu Presiden Trump. Dia menggunakan dana kampanye politik senilai Rp4,5 miliar untuk tutup mulut selingkuhannya. Padahal, hal ini merupakan kejahatan. Dan akhirnya Trump diadili.

Selain itu, Borris, PM Inggris. Pada saat Covid merebak, dia mengeluarkan larangan berpesta, kumpul-kumpul, atau berkerumun. Tapi kemudian dia melanggar larangan tersebut ketika merayakan pesta ulang tahun di rumahnya yang dihadri oleh 25 orang. Borris diprotes dan kemudian dia memutuskan mundur.

“Itulah contoh negara yang highlander, melawan ketidakadilan, kecurangan, penyalahgunaan kekuasaan,” kata Rizal.

Rizal menyebutkan pula di Malaysia ada banyak sekali pekerja China. Ada proyek mahal di sana yaitu membangun kereta api cepat dari Kuala Lumpur ke Johor, proyek perumahan mewah seperti BSD di Johor.

Namun, begitu Mahathir kembali menjadi Perdana Menteri. Dia kemudian bernegosiasi dengan Jin Ping bahwa tenaga kerja China boleh bekerja di Malaysia namun hanya maksimum 5 % dari total tenaga kerja yang ada. Kemudian, Mahathir membatalkan proyek kereta api cepat dari Kuala Lumpur ke Johor. Namun itu tidak menjadi masalah.

“Mahathir menunjukkan kelas pemimpin highlander. Dia berani bersikap untuk bela rakyat dan bangsanya,” ujarnya. ***

Artikel Lainnya