Nasional

Dr. Djumala: Counter Narasi Intoleransi, Radikalisme dan Terorisme di Dunia Maya Perlu Partisipasi Masyarakat

Oleh : very - Minggu, 30/06/2024 18:13 WIB


Dr Darmansjah Djumala, anggota Kelompok Akhli BNPT Bidang Kerjasama Internasional. (Foto: Ist)

 

Jakarta, INDONEWS.ID - Dewasa ini penyebaran paham dan perilaku intoleransi, kekerasan dan radikalisme sudah merambah dunia maya. Perilaku intoleransi dan paham kekerasan/radikalisme, jika tidak ditangani dengan secara tegas namun terukur, bisa berkembang lebih serius menjadi tindakan terorisme.

Kepala BNPT, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI Komjen Pol. Mohammed Rycko Amelza Dahniel, memaparkan tiga strategi pencegahan dan pemberantasan terorisme di dunia maya dalam rapat kerja bersama Komisi III DPR, 27 Juni 2024.

Dia mengatakan, ketiga strategi itu mencakup langkah pre-emptive strike dengan melakukan patroli siber (cyber patrol), dihapus (take down), dan kontra narasi terhadap konten bermuatan intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme yang belum dibaca atau diakses oleh warga.

Langkah kedua, preventif strike dengan melakukan cyber patrol, take down, dan kontra narasi, yang dibarengi pula dengan upaya sosialisasi kepada kelompok rentan, perempuan, anak dan remaja secara masif jika konten tersebut sudah mulai dibaca dan mempengaruhi cara berpikir warga.

Ketiga adalah dengan tindakan restorative strike, dengan cara melatih dengan melakukan penegakan hukum dan proses deradikalisasi jika konten sudah mempengaruhi sikap dan tindakan warga.

Saat dimintai tanggapannya atas rapat kerja BNPT dan DPR itu, anggota Kelompok Akhli BNPT Bidang Kerjasama Internasional, Dr. Darmansjah Djumala, mengapresiasi inisiatif Kepala BNPT yang melibatkan 48 kementerian/lembaga dalam implementasi rencana aksi nasional pencegahan dan penanggulangan ekstremisme berbasis kekerasan yang mengarah pada terorisme. 

Dr. Djumala mengatakan, isu terorisme sejatinya tidak berdiri sendiri secara eksklusif sebagai masalah keamanan. Terorisme, katanya, berwajah multi-dimensi.

Terorisme adalah muara dari akumulasi perilaku menyimpang dari pakem kehidupan yang beradab. Dalam negara yang majemuk, menghargai perbedaan dan keberagaman mutlak perlu. Kemampuan untuk menghormati dan merayakan perbedaan inilah yang termanifestasi dalam sikap toleransi dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara,” ujar Dr Djumala.

Tanpa kesadaran dan perkhidmatan terhadap perbedaan, maka seseorang akan berperilaku intoleran. “Sikap intoleran adalah hulu dari segala hulu radikalisme yang akhirnya bermuara pada tindakan terorisme,” imbuhnya.

Pada bagian lain, Dr. Djumala, yang pernah menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Austria dan PBB itu mengingatkan bahwa upaya penanggulangan terorisme, termasuk propaganda paham intoleransi, kekerasan dan ekstrimisme di dunia maya, bukan hanya tugas 48 kementerian/lembaga yang dilibatkan BNPT dalam rencana aksi nasional pencegahan dan penanggulangan ekstremisme dan terorisme.

Seluruh lapisan masyarakat perlu untuk berpartisipasi dalam melakukan counter-narasi terhadap setiap konten yang berbau intoleransi dan radikalisme di dunia maya.

“Partisipasi untuk lakukan counter-narasi bisa dilakukan dengan cara sederhana. Misalnya, jika di Whatsapp Group atau medsos lainnya ada yang memposting atau menarasikan sikap yang berbau intoleran dan radikal, kita jangan pernah segan untuk lakukan counter narasi berdasarkan pengetahuan dan fakta. Di negara yang berideologi Pancasila dalam bentuk NKRI, sikap menghargai perbedaan, keberagaman, toleran dan moderasi beragama adalah panduan etik dan moral masyarakat agar Indonesia ini tetap utuh bersatu sebagai bangsa,” tutup Dr. Djumala. ***

 

 

 


 

Artikel Lainnya