Nasional

SBY Apresiasi Penguatan Rupiah dan IHSG, Sebut Awal Pertanda Baik bagi Ekonomi

Oleh : Rikard Djegadut - Kamis, 11/06/2026 09:42 WIB


Mantan Presiden Ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). (Foto : istimewa)

Jakarta, INDONEWS.ID – Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono, menyambut positif penguatan nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam dua hari terakhir. Menurutnya, kondisi tersebut dapat menjadi awal yang baik bagi pemulihan ekonomi nasional di tengah tekanan pasar.

Nilai tukar rupiah tercatat menguat dari Rp18.141 per dolar Amerika Serikat pada Selasa pagi menjadi Rp17.912 per dolar AS pada perdagangan Rabu pagi. Sementara itu, IHSG juga menunjukkan penguatan signifikan dengan naik 82,58 poin atau 1,44 persen ke level 5.829 pada awal perdagangan.

Melalui akun media sosial X miliknya, @SBYudhoyono, Rabu (10/6), SBY menyampaikan apresiasi terhadap langkah pemerintah dan otoritas ekonomi yang dinilai berhasil menahan tekanan terhadap pasar keuangan nasional.

“Selamat dan terima kasih untuk negara dan pemerintah. Semoga ini merupakan awal dan pertanda baik, a good beginning,” tulis SBY.

Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat itu menilai pemerintahan Presiden Prabowo Subianto masih memiliki sumber daya politik dan ekonomi yang memadai untuk menghadapi tekanan ekonomi yang terjadi saat ini.

Menurut SBY, koordinasi antara pemerintah dan otoritas moneter, khususnya Bank Indonesia, menjadi faktor penting dalam menghentikan pelemahan rupiah dan anjloknya IHSG yang sebelumnya terjadi secara beruntun.

“Itulah sebabnya kebijakan yang dijalankan oleh Bank Indonesia, tentunya bersinergi dengan pemerintah, menjadi salah satu faktor positif dalam menghentikan rontoknya Rupiah dan IHSG,” ujarnya.

SBY mengingatkan bahwa tanpa langkah cepat pemerintah, pelemahan nilai tukar dan pasar saham bisa berlangsung semakin dalam. Menurutnya, faktor ekonomi riil seperti kondisi fiskal, APBN, hingga beban utang negara saat ini saling berkaitan dengan persepsi negatif pasar.

“Kalau tidak, pelemahan saham dan mata uang kita bisa unstoppable. Pasalnya, sudah menjadi satu antara faktor real economy, utamanya situasi fiskal dan APBN kita termasuk beban utang yang melilit, dengan faktor psikologis dan persepsi pasar yang tidak positif,” kata dia.

SBY juga mendorong pemerintah untuk terus memperkuat langkah stabilisasi ekonomi. Ia menekankan pentingnya menjaga kesehatan APBN, mengendalikan jumlah utang pemerintah, serta mencegah kenaikan harga barang dan jasa yang berpotensi membebani masyarakat.

Selain itu, pemerintah diminta memulihkan kepercayaan investor dan memperbaiki komunikasi publik agar arah kebijakan ekonomi lebih dipahami masyarakat maupun pelaku pasar.

“Meningkatkan komunikasi yang lebih efektif sehingga kebijakan dan langkah pemerintah dimengerti oleh rakyat dan market. Menghentikan berbagai spekulasi dan ketidakpastian,” ujarnya.

SBY turut mengingatkan pentingnya perlindungan terhadap kelompok masyarakat yang paling terdampak situasi ekonomi, termasuk akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Ia mengaku memahami kompleksitas tekanan ekonomi karena pernah menghadapi situasi serupa selama memimpin Indonesia.

“Saya tahu, karena kenyang dalam menangani tekanan ekonomi seperti ini ketika memimpin Indonesia dulu, semua ikhtiar pemerintah ini tentu memerlukan waktu,” katanya.

Di akhir pernyataannya, SBY mengajak seluruh elemen bangsa memperkuat persatuan dan dialog konstruktif untuk membantu pemerintah melewati tekanan ekonomi.

“In crucial thing, unity. In important thing, dialogue,” kata SBY, seraya menegaskan pentingnya kebijakan rasional dan langkah nyata dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.*

Artikel Lainnya