Nasional

Tegas! NATO Sebut China Ancaman karena Sokong Rusia

Oleh : Rikard Djegadut - Kamis, 11/07/2024 14:44 WIB

Jakarta, INDONEWS.ID - Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) untuk pertama kalinya menyatakan secara tegas bahwa China merupakan ancaman nyata karena mendukung Rusia menginvasi Ukraina.

Dalam sebuah deklarasi yang disetujui oleh 32 pemimpin aliansi pada Rabu (10/7), NATO menuding Beijing menjadi "pendukung yang menentukan perang Rusia melawan Ukraina."

Aliansi pertahanan itu lantas menuntut agar China menghentikan pasokan senjata dan peralatan militer lain ke Rusia, serta berniat menjatuhkan sanksi jika dukungan itu terus berlanjut atau malah semakin besar.

Ini merupakan pertama kalinya NATO secara gamblang menyebut China sebagai ancaman. Hingga 2019, aliansi itu tak pernah secara resmi menyatakan demikian. NATO kerap menggunakan bahasa hambar untuk menggambarkan pandangannya terhadap China.

Kendati begitu, dalam deklarasi ini NATO tidak merinci apa sanksi yang akan dijatuhkan bagi China jika terus memasok senjata ke Kremlin.

Kemungkinan, langkah pertama yang dilakukan NATO yakni menjatuhkan sanksi ekonomi yang melarang China mendekati beberapa pasar global.

Sampai setahun lalu, para pemimpin Eropa sebetulnya masih ragu-ragu untuk menekan Beijing. Khususnya Jerman, negara itu memandang China sebagai pasar penting untuk mobil kelas atas dan barang-barang mewah.

Banyak pemimpin Eropa menolak untuk mengeluarkan deklarasi yang keras terhadap Beijing pada 2022, ketika invasi Rusia ke Ukraina dimulai.

Sampai akhirnya China dan Rusia semakin akrab, yang ditandai dengan penandatanganan kesepakatan kedua negara untuk "kemitraan tanpa batas."

"Deklarasi itu menunjukkan bahwa sekutu NATO sekarang secara kolektif memahami tantangan ini dan menyerukan RRC untuk menghentikan kegiatan ini," kata penasihat keamanan nasional Amerika Serikat, Jake Sullivan, seperti dikutip The New York Times.

AS sejak awal sudah menyatakan bahwa China merupakan ancaman bagi NATO. Washington kerap memberikan bukti-bukti intelijen kepada NATO mengenai kegiatan persekongkolan yang dilakukan China.

Upaya AS itu akhirnya berhasil setelah menerbitkan nama-nama perusahaan dan produsen China yang menyalurkan teknologi ke Rusia dalam daftar sanksi ekonomi Kementerian Keuangan AS.

"Jika dukungan RRC ini berlanjut, itu akan merusak hubungannya di seluruh Eropa, dan Amerika Serikat akan terus menjatuhkan sanksi pada entitas RRC yang terlibat dalam kegiatan ini, berkoordinasi dengan sekutu Eropa kami," kata Sullivan.

Selain soal pasokan terhadap Rusia, deklarasi NATO juga menyalahkan China atas "kegiatan siber dan hibrida berbahaya, termasuk disinformasi" yang ditujukan kepada AS dan Eropa.*

Artikel Terkait