Opini

Saat Teks Proklamasi Menjelma Tembang Puitik

Oleh : luska - Senin, 19/08/2024 20:28 WIB


Penulis : Emi Suy 

Konser bertajuk “Sajak dari Ruang Juang”
 Sabtu sore ini langit tampak cerah. Nampaknya semesta sangat mendukung saya untuk hadir memenuhi undangan pertunjukan konser yang bertajuk “Sajak dari Ruang Juang” di Galeri Indonesia Kaya yang digelar tepat pada tanggal 17 Agustus 2024 dalam rangka memperingati 79 Indonesia Merdeka oleh Ananda Sukarlan, Mariska Setiawan, Maudy Koesnaedi, featuring Oswin Wilke. “Sajak dari Ruang Juang” adalah karya yang menggambarkan bagaimana perjuangan dan dinamika 79 tahun kemerdekaan Indonesia melalui musik, puisi, dan sastra. 
Sesampainya di sana, saya menyapa teman-teman, dan tentu saja Ananda Sukarlan beserta para pemain yang akan menampilkan konser mereka. Saya memilih tempat duduk di bagian paling depan. Tidak lama acara pun dimulai. Kami mengumandangkan lagu Indonesia Raya bersama dengan khidmat. Lagu kebangsaan yang mengandung kekuatan untuk menggetarkan jiwa dan membangkitkan semangat juang. 
       Maudy Koesnaedi tampil anggun dan cantik dengan busana kebaya brokat putih yang elegan. Mariska dan Maudy mengenakan busana dari Oscar Lawalata, sedangkan Ananda Sukarlan mengenakan baju dari desainer Obin (Bin House). Maudy membuka konser dengan membacakan narasi "Diary Ibu Pertiwi”  yang begitu menyentuh hati. Suasana hening dan khusyuk. Tak hanya itu Maudy juga membacakan “Perjuangan Seorang Perempuan Bernama Auw Tjoei Lan” yang memerangi praktik penjualan perempuan. Penulis narasi adalah Teguh Abratama. Penonton begitu hikmat menyimak dalam keheningan. 


Disambut dengan denting piano Yamaha Ananda Sukarlan yang membuka pertunjukan dengan memainkan lagu Ibu Pertiwi. Setelah itu tenor Oswin Wilke muncul sebagai sosok Soekarno, yang menyanyikan Teks Proklamasi yang telah digubah menjadi musik oleh Ananda Sukarlan. Penampilan Oswin ini hanya dalam beberapa menit telah menggetarkan hati para penonton dengan kedalaman ekspresi yang luar biasa. 
Saat Teks Proklamasi ditampilkan dalam lagu tembang puitik terdengar lebih heroik dan ekspresif. Kekuatan Lirik memberikan pengaruh pada suasana hati  melalui musik, dan sebuah eksplorasi emosional baik oleh komposernya maupun penyanyinya. Saat kita mendengarkan musik, kita terhubung dengan lirik dan melodi yang mengalir bersama-sama, membentuk pengalaman mendalam yang mempengaruhi suasana hati kita. Angan melesat membayangkan sosok Soekarno membacakan teks Proklamasi yang sosoknya diwakili oleh karakter Oswin Wilke saat itu. Dengan kostum dan ekspresi yang mendukung pesan-pesan teks Proklamasi tersampaikan dengan baik penuh dengan refleksi. 
Tak hanya itu dentingan piano dan lengkingan sopranonya bikin kami terhanyut ke dalam gejolak suasana. Lagu yang dimainkan Ananda Sukarlan itu begitu merasuk menyentuh perasaan dan membuat kami terharu. Mariska sangat konsisten dengan totalitasnya berperan, ekspresi mukanya saat menderita, sedih dan tertekan yang berlangsung selama satu jam turut menyihir para penonton. Saya sendiri merinding menyaksikan perubahan-perubahan ekspresi Mariska dari sedih ke marah, sinis, sampai terbahak-bahak.
Penampilan Mariska disempurnakan oleh Mariska Febriyani, yang ikut menari didampingi penari Vincent Kodrata yang tariannya meliuk-liuk mengekspresikan suasana lagu yang sedang dinyanyikan. Perpaduan musik yang diekstrak dari teks puisi kemudian dinyanyikan dan diekspresikan dengan dahsyat oleh penyanyi dan koreografernya menjadikan fenomena itu begitu memikat dan dahsyat. Tak hanya itu, fenomena itu juga menjadi semacam katarsis, seolah-olah terbentuk sebuah lorong yang menyatukan dua dimensi masa lalu dan masa kini. Titik pertemuan antara komposer, penyanyi, penulis teks (puisi), tokoh-tokoh yang diperankan dan dinarasikan oleh narator, serta keterlibatan emosional para penonton penikmat seni menjadikan peristiwa menyatu dan sublim. Bagi saya itu sebuah pertunjukan yang sungguh spektakuler. 
Saya ucapkan terima kasih Mas Ananda Sukarlan, Mariska Setiawan, Maudy Koesnaedi, Oswin Wilke dan tim yang telah memeriahkan hari ini dalam rangka memperingati 79 Indonesia Merdeka, tepat pada 17 Agustus 2024 dengan sentuhan pertunjukan seni yang menggugah batin menyentuh sanubari.
Ananda Sukarlan telah diakui banyak negara sebagai komponis Indonesia yang merupakan tokoh kunci dalam genre Tembang Puitik, yaitu karya musik klasik yang tercipta berdasarkan karya sastra, terutama puisi yang ditulis oleh penyair atau sastrawan. Negara-negara seperti Spanyol, Ekuador, Australia, Peru dan lainnya telah memesan karyanya berdasarkan puisi-puisi penyair negara mereka, seperti Federico Garcia Lorca dan Miguel Cervantes (Spanyol), Jorge Carrera Andrade (Ecuador), Cesar Vallejo (Peru)s, Henry Lawson dan Judith Wright (Australia) dan masih banyak lagi. Lebih dari 500 karya untuk vokalis diiringi piano atau instrumen lain telah ia ciptakan dalam bahasa Spanyol, Inggris dan Indonesia.
Untuk merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-79, Ananda diundang oleh Galeri Indonesia Kaya (Grand Indonesia) untuk menampilkan beberapa tembang puitiknya yang berhubungan dengan situasi negara Indonesia saat ini, bersama dua vokalis klasik, yaitu Mariska Setiawan (soprano) dan Oswin Wilke (tenor). Mengingat minat yang besar terhadap berbagai tembang puitiknya, Indonesia Kaya menyelenggarakannya dalam dua sesi dengan program yang sama, yaitu pada pukul 15.00 dan 19.00, keduanya telah dipenuhi peminat yang sangat antusias.
Terlihat jelas bahwa Ananda menginginkan konser ini bukan hanya untuk glorifikasi 79 tahun Indonesia merdeka, tapi juga sebuah pernyataan kritis yang menggambarkan bahwa dalam banyak hal Indonesia berada dalam keadaan yang sedang tidak baik-baik saja. Ananda memfokuskannya ke dalam 3 hal, yaitu; korupsi (lewat puisi Effendi Kadarisman, "Di Halaman Indonesia"), radikalisme (lewat "Kapokmu Kapan", puisi Hilmi Faiq tentang teroris dan bom bunuh diri) dan nepotisme (3 puisi pendek Buset atau Budhi Setyawan), Dari Duka Masa Lalu, puisi Sihar Ramses Simatupang.
Ada juga karya istimewa yang dimainkan Ananda Sukarlan berhubungan dengan kaum disabilitas. Yang pertama adalah "Satu Tangan, Sepenuh Jiwa, Untuk Indonesia", untuk piano solo hanya dengan tangan kiri saja. Karya ini menggunakan melodi lagu Untuk Indonesia yang rilis awal tahun ini dinyanyikan oleh Once Mekel dan Yenny Wahid. Seorang penyair perempuan, Shantined, menyaksikan pertunjukan perdana karya tersebut, dan terinspirasi membuat puisi berjudul "Sepenuh Ini, Indonesia". 
Dari puisi itu, Ananda kembali membuat musik untuk vokalis klasik dan iringan piano, lagi-lagi dengan tangan kiri saja. Sehingga rantai itu menjadi semakin panjang: sebuah lagu pop menginspirasi karya piano untuk tangan kiri saja, karya piano solo itu juga menginspirasi penciptaan puisi, kemudian puisi menginspirasi karya baru untuk vokal dan piano. Saling merespon seperti ini menggambarkan betapa kesenian begitu kreatif dan dinamis dalam menyikapi berbagai peristiwa.
Dua karya yang khusus untuk disabilitas itu menjadi bagian dari deklarasi Ananda dan Mariska tentang refleksi 79 tahun kemerdekaan Republik Indonesia: bahwa kemerdekaan adalah hak seluruh rakyat, tanpa memandang (dis)abilitas, ras, agama dan suku. 
Selain itu, penonton juga mendapatkan "bocoran" berupa dua cuplikan Aria dari opera yang sedang dalam proses pembuatan oleh Ananda berjudul "I'm Not for Sale". Opera ini dikerjakan dengan libretto oleh Emi Suy, berkisah tentang tokoh Auw Tjoei Lan yang di awal abad 20 sampai pendudukan Jepang telah berhasil menyelamatkan ratusan, mungkin ribuan anak-anak korban perdagangan manusia dari daratan Cina yang dibawa dengan kapal menuju ke Batavia. 
Di konser kemarin dipagelarkan juga adegan saat suami tokoh utama Auw Tjoei Lan, yaitu Kapten Lie Tjian Tjoen yang tengah dipenjara. Aria pertama adalah sang Kapten yang diperankan oleh tenor Oswin Wilke, menyanyikan monolog penderitaannya di penjara. Sedangkan Aria kedua adalah sebuah duet imajiner, sang Kapten dan istrinya di rumah yang saling merindu menyanyikan lagu cinta yang sangat menyayat hati. 
"Puisi-puisi dan karakter penyairnya memperkaya bahasa musik saya," kata Ananda. "Misalnya, saya jadi sadar, musik saya dari puisi-puisi Hilmi Faiq itu tidak pernah indah. Ada harmoni dan ritme tersendiri yang lahir dari puisi-puisinya, yang menurut pendapat umum tidak indah. Tapi ya wajar, memang puisinya menggambarkan hal-hal yang tidak indah, walaupun puisinya sendiri menurut saya indah," lanjut musisi kelahiran 10 Juni 1968 yang bulan November 2023 lalu menjadi warga negara Indonesia pertama yang dianugerahi penghargaan kesatriaan Royal Order of Isabella the Catholic (Real Orden de Isabel la Católica), penghargaan tertinggi dari Kerajaan Spanyol yang diberikan kepada tokoh sipil atau lembaga sebagai pengakuan atas jasa luar biasa terhadap negara atau hubungan internasional dan kerja sama dengan negara lain. 
 Selain diganjar Real Orden de Isabel la Católica, Sukarlan juga pernah dianugerahi gelar kesatriaan "Cavaliere Ordine della Stella d'Italia" oleh Presiden Italia Sergio Mattarella pada tahun 2020. Selain itu, seniman Indonesia pertama yang diundang Portugal tepat setelah hubungan diplomatik Indonesia dan Portugal pada tahun 2000. Ananda Sukarlan juga telah dianugerahi banyak pengakuan swasta seperti Prix Nadia Boulanger dari Orleans, Prancis. 
Baru-baru ini Ananda Sukarlan menjadi salah satu dari 32 tokoh dalam buku "Heroes Amongst Us (Pahlawan di Antara Kita)", yang ditulis oleh Dr. Amit Nagpal yang diterbitkan di India. Ananda juga masuk sebagai salah satu dari 100 "Asia's Most Influential" atau "Orang Asia Paling Berpengaruh" di dunia seni tahun 2020 oleh Majalah Tatler Asia. Baru-baru ini ia juga diangkat menjadi Honorary Member dari Rotary Club International.
Bagi saya, konser bertajuk “Sajak dari Ruang Juang” telah merepresentasikan kembali apa yang penting untuk diingat bangsa ini, yaitu peran puisi dalam menemani langkah bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Kita tidak boleh melupakan bahwa lagu Indonesia Raya adalah juga sebentuk puisi soneta, juga teks Sumpah Pemuda yang jelas-jelas adalah sebuah puisi. 
Kita ingat pula puisi Chairil Anwar berjudul Persetujuan Dengan Bung Karno, yang di baris awal si penyair seolah berbicara dengan pemimpin besar revolusi; Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji/Aku sudah cukup lama dengar bicaramu/dipanggang atas apimu/digarami oleh lautmu//. Ini menggambarkan betapa sastra dan kemerdekaan suatu bangsa adalah dua hal yang tidak terpisahkan, keduanya seperti dua sisi mata uang. Saya kira begitulah yang terjadi pada bangsa-bangsa lain di mana sastrawan dan penyair tidak bisa dipisahkan dari tanah airnya.

Peran Perempuan dalam Perjuangan Kemerdekaan 
Selain penyair dengan sajak-sajaknya, perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia juga tidak bisa terlepas dari peran perempuan. Memang notabene tokoh penyair atau sastrawan dan pemimpin revolusi kita adalah laki-laki, bahkan puisi sakti yang dikenal dengan nama Sumpah Pemuda itu tidak ditulis juga “Pemudi” di samping kata “Pemuda”, misalnya. Tapi justru di sinilah menjadi penting untuk menyinggung peran perempuan. Sebab perjuangan menuju kemerdekaan Indonesia tidak hanya diwarnai oleh kontribusi kaum pria, tapi peran kaum perempuan juga vital walaupun tidak banyak diekspos. 
Dalam perjalanan panjang menuju kebebasan dan kesetaraan, wanita Indonesia memainkan peran krusial yang sering kali terlupakan dalam narasi sejarah arus utama. Sebagai contoh, RA Kartini, beliau sangat berperan dalam kelangsungan pendidikan bagi kaum perempuan. Zaman sebelum RA Kartini tidak ada perempuan bersekolah, tapi sekarang hampir semua perempuan mendapatkan kesempatan belajar yang sama sebagaimana laki-laki. Ini adalah satu bukti betapa peran perempuan mampu mengubah arah peradaban. Inilah sebabnya RA Kartini menjadi penanda zaman yang diperingati kelahirannya bukan kematiannya.
Begitu pula pada masa melawan kolonial, di balik setiap pertempuran, strategi politik, dan gerakan sosial, terdapat banyak perempuan tangguh yang berjuang tanpa kenal lelah demi tanah air tercinta. Misalnya, mereka menyiapkan makanan untuk kaum laki-laki yang tengah berjuang. Tidak hanya soal makanan, banyak hal yang sebenarnya diperankan sosok bernama perempuan di balik berbagai peristiwa perlawanan terhadap penjajah dan perjuangan kemerdekaan hanya saja tidak banyak ditulis. Mereka bukan sekadar pendamping atau pengikut, tapi mereka adalah pemimpin, penggerak, dan pelopor yang berani melawan kolonialisme dengan segala keterbatasan yang ada.
Wanita Indonesia, dengan segala keterampilannya, tidak hanya terlibat dalam aksi fisik dan diplomatik, tetapi juga dalam menjaga semangat juang bangsa. Mereka adalah ibu, istri, dan saudara yang menjadi tulang punggung keluarga; namun ketika panggilan tanah air bergema, mereka bertransformasi menjadi pejuang sejati yang tidak gentar melawan penjajah. Kita bisa mengenang sosok, misalnya Cut Nyak Dien, atau Laksamana Malahayati, mereka adalah sosok-sosok perempuan tangguh dan berani memimpin perjuangan. Keberanian mereka patut diacungi jempol, karena dalam budaya yang masih patriarkal, wanita harus berjuang dua kali lebih keras untuk membuktikan keberanian dan kemampuannya. 
Peran perempuan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia sangatlah penting dan beragam. Mereka tidak hanya berjuang di medan perang, tetapi juga di bidang pendidikan, sosial, dan politik. Keberanian dan keteguhan mereka menjadi inspirasi bagi generasi selanjutnya. Dengan mengenang dan menghargai kontribusi mereka, kita dapat memahami betapa besar peran perempuan dalam membentuk sejarah Indonesia.
Saya amat senang ketika menonton konser bertajuk “Sajak dari Ruang Juang”, di sana perempuan turut dilibatkan sebagai pemain yang mengekspresikan dengan begitu menyentuh tentang arti kebebasan dan kemerdekaan. Saya sebagai perempuan pun turut dilibatkan sebagai salah satu penulis teks puisi yang kemudian ditembangkan secara puitik oleh Ananda Sukarlan. Puisi yang saya buat ini menjadi salah satu dari sekian puisi yang akan ditampilkan dalam opera yang digarap oleh Mas Ananda Sukarlan berjudul “I'm Not for Sale: Menyelamatkan Kehidupan”. Puisi ini sebelumnya sudah pernah dinyanyikan oleh soprano Ratnaganadi Paramita dalam seminar “Justice and Mercy” tentang perdagangan manusia tahun lalu.

Dalam opera tersebut, Mariska Setiawan lah yang akan memerankan tokoh Ny. Auw Tjoei Lan yang tanggal 17 kemarin telah membuktikan kualitasnya sebagai seorang penyanyi sopran berbakat yang kini sedang naik daun. Ia adalah penerima beasiswa Djarum yang telah mengirimnya untuk ditempa secara musikal dan teatrikal ke Broadway, New York dan pementasan melibatkan Ananda Sukarlan sebagai Composer dan Casting Director. Stage Decor & Artistic Director oleh Rama Soeprapto, koreografi Hartati dan sutradara Chendra Panatan.
         Mariska telah  menyanyikan cuplikan opera ini untuk pertama kalinya tanggal 4 Juli 2024 lalu bersama Melbourne Symphony Orchestra saat kunjungan mereka ke Jakarta dalam rangka perayaan 75 tahun hubungan persahabatan antara Australia dan Indonesia. Ratna juga akan kembali memerankan seorang korban di opera yang rencananya akan diperdanakan pada April  2025
Auw Tjoei Lan (1889-1965) adalah seorang wanita kelahiran Majalengka sekaligus istri dari Kapitan Tiongkok, Lie Tjian Tjoen. la dikenal sebagai pahlawan keturunan Tionghoa yang memiliki peran besar dalam menyelamatkan ratusan anak-anak dan perempuan dari aksi kriminal perdagangan manusia pada abad ke-19. la menampung, melindungi dan membekali para korban dengan berbagai keterampilan di Roemah Ati Soetji yang memasangnya.
Perjuangan Auw Tjoei Lan tidak berjalan mulus. Para mucikari geram dengan aksinya hingga melakukan berbagai serangan hingga ancaman pembunuhan; namun, Auw Tjoei Lan tak gentar. la tetap pasang badan demi para korban hingga akhirnya perjuangannya berbekas dan masih terus berlanjut melalui eksistensi Rumah Hati Suci yang telah bertahan 109 tahun lamanya hingga sekarang.
Jasa Auw Tjoei Lan yang luar biasa dalam aksi kemanusiaan dirasa pantas disejajarkan dengan RA Kartini dan Dewi Sartika; namun, namanya tidak melambung tinggi sebagaimana dua sosok perempuan yang disebut belakangan, malah cenderung tidak dikenal. Opera ini akan menjadi anak tangga lainnya untuk mencatatkan dan melambungkan nama Auw Tjoei Lan sebagai salah satu pahlawan kemanusiaan abad-19, atau sekurang-kurangnya pahlawan nasional.
Menurut saya, Auw Tjoei Lan adalah pembawa obor nilai yang penting dan relevan dengan apa yang kita bicarakan sekarang, dan tentu saja kita harus banyak mengangkat perempuan-perempuan hebat lainnya, yang ikut membawa obor nilai yang sama, yang membawa kita dari kegelapan menuju ke “terbitnya terang”. Seperti sajak, perempuan juga turut menemani langkah sebuah bangsa mencapai kemerdekaannya. Keduanya berada dalam ruang juang yang sama, yaitu ingin menegakkan kebebasan dan kemerdekaan.
Jika Anda penasaran dengan kisah dramatis Auw Tjoei Lan dalam memperjuangkan hak-hak kemanusiaan yang dibalut dengan megahnya orkestra dari Ananda Sukarlan, saksikan opera “I'm Not For Sale”. Itulah sekilas tentang opera berjudul “Aku Tak Dijual: Menyelamatkan Kehidupan” yang pada tahun depan akan digelar secara lengkap.
Demikianlah, saya selalu percaya bahwa peran sajak dan perempuan akan senantiasa mengisi perjuangan kita mencapai peradaban yang maju, dan barangkali demokrasi yang sehat. Dan melalui orkestra Ananda Sukarlan, sajak dan perempuan kembali direpresentasikan dengan kesan yang lebih mendalam. Wassalam. 


 

TAGS : Erni sui

Artikel Lainnya