𝐎𝐥𝐞𝐡 𝐌𝐨𝐧𝐢𝐜𝐚 𝐉𝐑
Malam itu, akhir Agustus, saya gelisah. Tepat jam dua subuh, mata tak kunjung terpejam. Saya mengetik pesan ke partner saya, "Aku tak bisa tidur nyenyak. Perasaanku berkecamuk. Sudah lama tak merasakan ini."
Tak butuh waktu lama untuknya merespon. "Mengapa? Karena akan ada demo besar hari ini?"
"Ya," jawab saya singkat.
Perasaan ini seperti sesuatu yang tak bisa saya abaikan begitu saja. Sebelum mencoba tidur lagi, saya menarik napas panjang, hening sejenak, dan berdoa. Mungkin banyak dari kita merasakan hal yang sama—kegelisahan kolektif, dorongan batin yang menyerukan keadilan.
Saat itu, niat Badan Legislasi untuk menganulir keputusan Mahkamah Konstitusi menggerakkan nurani banyak orang. Sebuah seruan hati yang tak bisa diabaikan.
Tapi, seiring berjalannya waktu, hari-hari itu membaik. Legislatif akhirnya memutuskan untuk mengikuti keputusan MK. Meski ada yang masih kecewa, kita patut bersyukur bahwa suara rakyat, suara yang menggelegar dalam kemarahan dan frustrasi, masih didengar. Untuk itu, terima kasih, Pemerintah Indonesia.
𝗞𝗲𝘁𝗶𝗸𝗮 𝘀𝗲𝗺𝘂𝗮 𝗺𝘂𝗹𝗮𝗶 𝗺𝗲𝗿𝗲𝗱𝗮, 𝘀𝗮𝘆𝗮 𝗯𝗲𝗿𝗽𝗶𝗸𝗶𝗿. 𝗕𝗮𝗴𝗮𝗶𝗺𝗮𝗻𝗮 𝗯𝗶𝘀𝗮 𝗵𝗮𝗹 𝗶𝗻𝗶 𝘁𝗲𝗿𝗷𝗮𝗱𝗶?
Tiba-tiba saya teringat akan sesuatu yang relevan: The Lucifer Effect, sebuah teori dari psikolog ternama, Philip Zimbardo yang menjelaskan bagaimana orang yang awalnya baik bisa terjebak dalam sistem dan tekanan situasional hingga akhirnya melakukan keburukan. Zimbardo menjelaskan bahwa kondisi lingkungan yang buruk, tekanan kekuasaan, dan otoritas yang tidak terkendali dapat membuat orang biasa melakukan hal-hal yang tak terduga.
Cukup ironis, kita baru saja menyaksikan gelombang besar protes, ribuan rakyat turun ke jalan untuk menuntut perubahan. Dan siapa yang menjadi target kemarahan mereka? Seorang presiden yang awalnya dicintai karena latar belakangnya yang sederhana. Pemimpin yang dulunya dipandang sebagai harapan, sebagai seseorang yang benar-benar mengerti rakyat kecil.
Namun belakangan, narasi besar makin berkembang. Presiden yang dulu begitu dekat dengan rakyatnya kini dianggap terjebak dalam kebijakan yang otoriter. Bagaimana bisa seseorang yang datang dari latar belakang sederhana berubah menjadi pemimpin yang dianggap tidak adil?
The Lucifer Effect memberikan jawabannya. Menurut Zimbardo, siapa pun bisa terjerumus dalam keburukan, terutama ketika berada dalam posisi kekuasaan yang besar tanpa kontrol atau pengawasan yang ketat. Tidak ada yang kebal dari godaan kekuasaan.
Fenomena ini jelas terjadi di Indonesia. Presiden, sebagai pemegang otoritas tertinggi, dihadapkan pada tekanan politik yang besar. Jika tidak ada checks and balances yang memadai. Jika tidak ada pengawasan dari parlemen, media, dan rakyat, maka kekuasaan bisa dengan mudah melampaui batas. Seperti dalam Stanford Prison Experiment, kekuasaan tanpa kendali menciptakan tirani, bahkan di antara mereka yang mulanya baik.
Zimbardo menekankan pentingnya faktor situasional dalam mempengaruhi perilaku seseorang. Kita sering kali terlalu cepat menyalahkan karakter individu atas tindakan buruk, tanpa memperhatikan situasi dan lingkungan yang membentuk perilaku tersebut. Pada kasus pemimpin Indonesia, sistem politik, tekanan dari elite-elite politik, dan situasi sosial ekonomi yang rumit. Hal-hal itu mendorong keputusan-keputusan yang sepertinya bersifat otoriter bukan karena perubahan karakter, tetapi karena tekanan situasional yang kuat.
Ketika berada di posisi kekuasaan, seseorang sering kali didorong untuk mengikuti nasihat dari otoritas atau lingkungan yang mendukung keputusan-keputusan otoriter. Seperti yang diungkapkan Zimbardo dalam eksperimen Milgram, mayoritas peserta akan tetap menaati perintah, bahkan ketika mereka tahu bahwa tindakan tersebut menyakiti orang lain. Situasi, otoritas, dan lingkungan yang mendukung keputusan buruk memiliki dampak besar pada bagaimana seseorang bertindak.
𝗔𝗽𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗶𝘀𝗮 𝗸𝗶𝘁𝗮 𝗽𝗲𝗹𝗮𝗷𝗮𝗿𝗶 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗶𝗻𝗶 𝘀𝗲𝗺𝘂𝗮?
Satu hal yang pasti, pengawasan terhadap kekuasaan adalah kunci. Tanpa kontrol yang ketat, siapa pun—bahkan mereka yang datang dari akar paling sederhana—bisa terjebak dalam keburukan. Maka, penting bagi kita, sebagai rakyat, untuk terus mengingatkan para pemimpin bahwa mereka dipilih untuk melayani, bukan memerintah dengan tangan besi. Demonstrasi dan protes, selama dilakukan dengan damai, adalah cara kita menjaga otoritas agar tetap terkendali.
The Lucifer Effect adalah peringatan bagi kita semua. Tidak peduli seberapa rendah hati awal mula seseorang, tanpa kontrol yang ketat, kekuasaan bisa merusak. Yang diperlukan adalah kesadaran, kewaspadaan, dan keberanian untuk memastikan kekuasaan tetap berada di jalurnya.
Hal ini berlaku bagi semua orang, terutama kita sendiri.
***
𝗝𝗮𝗸𝗮𝗿𝘁𝗮, 𝟭𝟯 𝗦𝗲𝗽𝘁𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿 𝟮𝟬𝟮𝟰