Oleh Sr. Herdiana Randut, SSpS (Member of Woke Asia Feminist dan Komunitas Puandemik Indonesia)
Jakarta, INDONEWS.ID - Sri Paus sudah kembali ke kota abadi, Roma. Tapi pesan-pesannya, entah melalui kata-kata dan terutama melalui sikap dan perilakunya selama di Indonesia, tinggal abadi di sini. Penulis melihat dari segi perempuan bagaimana Sri Paus meng-address kaum perempuan dan ibu di tanah air.
Yang jelas, kedatangan Bapa Suci Paus Fransiskus ke Indonesia telah menjadi oase dan angin segar bagi Indonesia di saat bangsa ini sedang pusing berhadapan dengan kaum oligarki yang mengutak-atik sistem demokrasi, masalah gratifikasi, korupsi, nepotisme, dan berbagai persoalan lainnya.
Kehadiran Paus Fransiskus mampu menyejukkan hati masyarakat Indonesia. Terasa tenang dan penuh kedamaian. Situasi bangsa yang sedang kacau balau, sekejap berubah menjadi antusias dan semangat dan sejuk.
Hasil wawancara dengan salah satu media nasional, Paus Fransiskus mengatakan bahwa perjalanan apostoliknya kali ini adalah perjalanan panjang yang pernah dilakukannya. Ia memilih Indonesia sebagai negara pertama lawatannya di wilayah Asia-Oceania. Dalam setiap perjalanannya ke berbagai negara, ia mampu membawa pengaruh positif bagi banyak orang. Baik dari rakyat biasa sampai pejabat pemerintahan.
Demikian yang dapat kita tonton pada media-media Indonesia seperti TvOne, Kompas, dan lain-lain. Perjalanannya kali ini juga membawa banyak pesan yang dapat dipetik oleh setiap orang. Ia merangkul siapa saja tanpa memandang agama dan derajat sosial seseorang.
Pesan-pesannya tidak hanya mengandung nilai toleransi dan lain sebagainya. Tetapi juga nilai-nilai keadilan dan kesejahteraan bagi kaum perempuan. Bagaimana Paus melihat perempuan? Apa makna yang dapat diambil oleh negara ini untuk keadilan dan kesejahteraan bagi kaum perempuan dari kedatangan Paus?
Seperti diketahui bahwa Paus Fransiskus adalah paus ke tiga yang datang ke Indonesia setelah sebelumnya Paus Paulus VI pada 1970 dan Paus Yohanes Paulus II pada 1989. Paus adalah pemimpin tertinggi umat agama Katolik di dunia sekaligus menjadi presiden kota kecil Vatikan. Ia memiliki kuasa penuh untuk umat Katolik sedunia dan takhta suci Vatikan.
Paus adalah penerus rasul Petrus yang ditunjuk langsung oleh Yesus untuk memegang kunci kerajaan. Sekaligus bertanggungjawab atas pemenuhan iman orang-orang Katolik. Karena paus adalah wakil Isa Almasih maka ia harus terbuka terhadap dinamika kehidupan yang sering berubah-ubah sesuai zaman (www.tempo.co).
Kehadiran ke tiga paus menjadi moment yang bagus bagi Indonesia untuk mengubah bahkan menghilangkan banyak sekali polemik dan akan menjadi sejarah bagi bangsa ini. Kasus-kasus kekerasan, kesenjangan gender, dan masalah perempuan lainnya masih menjadi pekerjaan rumah di negara ini. Yang sampai sekarang belum terselesaikan malahan muncul masalah-masalah baru.
Makhluk Bermartabat
Di mata Paus Fransiskus, perempuan adalah makhluk yang bermartabat dan berharga. Hal ini juga yang diajarkan dalam iman Katolik. Bahwa sesungguhnya manusia, laki-laki dan perempuan adalah makhluk yang diciptakan Tuhan secara istimewa dari segala binatang dan alam semesta. Tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Karena keduanya sama di mata Sang Pencipta, demikian pun dimata sesama manusia.
Paus dalam ensikliknya Laudato Si menekankan pentingnya berelasi yang baik dengan makhluk lain sebagai ciptaan yang luhur. Secara mendalam ia mau mengatakan bahwa perlunya penghargaan dan penghormatan kepada perempuan dan tidak ada pemisahan.
Ia juga dikenal sebagai paus yang memiliki pemikiran terbuka dan peduli terhadap isu-isu sosial. Termasuk isu-isu perempuan dan kerusakan lingkungan. Sebagaimana paus sangat menghargai Maria Ibu Yesus dalam agama Katolik, pada beberapa kesempatan ia berpidato dan menulis agar pentingnya menghargai martabat perempuan, menghargai ibu sumber hidup.
Ia juga dalam ensiklik yang sama ingin menegaskan kepada kita bahwa manusia perlu berelasi dengan bumi tempat kita berpijak. Bumi menjadi ibu pertiwi yang memberikan sumber-sumber kehidupan. Sehingga penting menjalin relasi dengan sesama dan mahkluk lain. Namun yang terjadi malah sebaliknya, martabat perempuan tidak dihargai dan penghormatan kepada ibu bumi pun semakin menurun.
Proyek-proyek tambang, geothermal, dan nikel menjadi kemelut di negeri ini. Lahan masyarakat yang bisa dikelola menjadi makanan sayur, ubi-ubian, beras, dan jagung dirampas. Sumber air menjadi kering. Semua itu sangat dibutuhkan oleh ibu bumi untuk pertumbuhan dan perkembangan hidup manusia sendiri. Jika unsur-unsur itu mati, maka dampak yang terjadi akan sangat berpengaruh bagi kaum perempuan yang mengandung, membesarkan, dan memelihara manusia. Kerusakan lingkungan adalah sikap moral manusia yang merusak martabat perempuan dan khususnya ibu pertiwi.
Manusia Masa Depan
Pada tahun 2014 saat ia terpilih menjadi paus, ia sudah melihat pentingnya kehadiran perempuan. Kemudian ia memilih beberapa perempuan untuk bekerja di kepausan. Pada tahun 2023 ia menunjuk seorang biarawati menjadi dewan penasihat dan sekaligus ikut memilih (www.vatikannews.com). Hemat saya ia ingin agar suara kaum perempuan bisa didengar di tengah-tengah dominasi laki-laki.
Dalam bukunya yang berjudul More women’s leadership for a better world ia menulis: “pemikiran perempuan selalu berbeda adanya dengan laki-laki, tatapan mata mereka tidak jatuh pada masa lalu, melainkan ke masa depan.”
Kutipan singkat ini berjuta makna. Saya hanya mau mengatakan bahwa Sri Paus ingin menyebut perempuan itu manusia masa depan, visioner, dan bila hendak menuju masa depan, ya, berjalanlah bersama perempuan.
Ia ingin menegaskan bahwa peran perempuan sangat dibutuhkan dalam setiap bidang kehidupan. Apa jadinya jika dunia tanpa perempuan? Jika melihat wajah Indonesia sekarang, apa yang bisa diharapkan dari pemerintahan negara ini terhadap begitu banyak masalah perempuan?
Indonesia negara berkembang yang sedang dalam proses bertumbuh. Baik dari segi sistem dan tatanan-tatanan sosial yang berlaku. Budaya patriarki yang tinggi masih sulit untuk dirubah. Apalagi persepsi terhadap perempuan yang sekunder membuat banyak tempat belum equal antara laki-laki dan perempuan. Organisasi politik, lembaga pemerintahan, dan kelompok-kelompok lain masih kurang wajah perempuan.
Dalam pengamatan saya, kedatangan paus Fransiskus ke Indonesia sangat tepat. Ia tahu apa yang menjadi persoalan utama bangsa ini. Rangkaian kegiatan kunjungannya ke negara ini adalah suatu peluang mengingatkan kita akan penghormatan dan penghargaan terhadap perempuan. Mengingatkan kita agar segala bentuk tindakan kekerasan dan kebijakan-kebijakan yang dibuat untuk kaum perempuan mesti diubah sesuai fakta dan nilai-nilai kemanusiaan.
Saya tidak ingin menelaah lebih jauh tentang pertanyaan-pertanyaan ini karena melampaui kewenangan tulisan ini. Saya hanya ingin mengatakan bahwa dengan seluruh pesan yang tinggal, Sri Paus ingin berkata kepada semua kita, hei, perempuan itu bermartabat, punya visi dan naluri masa depan, dan dia bukan obyek melainkan subyek yang bersama kaum laki-laki berjalan bersama menjemput dan mengurai masa depan.