Opini

Marissa Haque - Gone Too Soon

Oleh : luska - Rabu, 02/10/2024 17:19 WIB


Penulis : Izharry Agusjaya Munzier

Ternyata pagi ini, di tengah senyum subuhku, aku harus menundukkan kepala juga. Si cantik bermata sayu itu sudah "pergi" dini hari tadi. Sulit untuk tidak mengenangnya ketika keakraban kami semasa remaja terputar ulang di benakku. 

Saat itu aku masih penyiar/Program Director di Radio Prambors. Pendatang baru Marissa mencercahkan langkah di blantika muik dan film Indonesia. Kami mengundangnya ke Prambors untuk wawancara singkat. 
Remaja putri ini memang mempesona banyak orang. Termasuk aku. Sehingga setelah berkenalan di studio jalan Borobudur, aku mengakrabkan diri dengan datang ke rumahnya. Jarak rumah kami tidak jauh, masih selingkungan. Aku yang tinggal di perumahan Pertamina Patra Kuningan mulai sering berkunjung ke rumahnya, dan berkenalan dengan orangtuanya. Agak mulus juga, karena Papanya adalah subordinate Oom-ku di Pertamina semasih mereka bertugas dan berdomisili di Pertamina Refinery unit III, Plaju, Palembang.  

Aku dan Icha kemudian jadi. Teman ngpbrol yang sengit. Kami saling berkisah tentang mimpi-mimpi remaja mengenai hari esok yang akan kami jelang. Aku sangat menikmati kecantikannya. Senyumnya yang melesungkan pipi, matanya yang seperti kucing anggora, keramahannya yang bebas, santai dan hangat, membuat aku sangat-sangat betah.  
Dalam siaranku setiap malam di Prambors, aku sering mengirim lagu-lagu kesayangan yang dia minta. Tentu tanpa menyebut nama aslinya. Segan rasanya menyebut nama cewek cantik itu secara terbuka di radio. Icha  is too beautiful for me, and I don't want to hear stupid di telinga para pendengar Prambors. 

Dia sahabatku. Kami punya kesamaan topik pembicaraan. Seru juga gaul di masa itu. Namun aku tahu, gaul model begitu tidak akan bisa berlangsung lama. Aku Anak Radio dengan masa depan yang belum tentu, dia artis muda yang memiliki masa depan terbuka lebar. 

Akhirnya perjalanan karir menjauhkan kami. Dia punya jalan sendiri, dan aku punya jalan pribadiku juga. Perbedaan pendapat tak lagi sama, apalagi setelah kami mulai jarang bercakap-cakap. Lantas, pagi ini, aku menundukkan kepala sesaat, menggambar wajahnya dalam pikiranku dan mengiang-ngiangkan kalimat-kalimat indah yang pernah diucapkannya. 

Sungguh, Marissa Haque sangat pantas untuk dikenang. Dia mewarnai masa renajaku, dan untuk itu aku harus berterimakasih dan menghargainya eksistensinya. Meski mulai saat ini, eksistensinya hilang, tetapi biarlah Icha menjadi ingatan lewat sebuah obituari, di antara diary miliknya yang masih kusimpan..   

Like a perfect flower that is just beyond your reach
Gone too soon
Born to amuse, to inspire, to delight
Here one day gone one night
Like a sunset dying with the rising of the moon
Gone too soon.....

TAGS : Marissa haque

Artikel Lainnya