Nasional

Kedaulatan Islam Tak Diukur dari Sistem Politik, Tapi dari Sejauh Mana Umat Menjalankan Ajaran Agama dengan Hikmah

Oleh : very - Rabu, 16/10/2024 20:19 WIB


Kepala Makara Art Center Universitas Indonesia (MAC UI) Dr. Ngatawi Al-Zastrouw, S.Ag., M.Si.. (Foto: Dok PMD BNPT)

 

Jakarta, INDONEWS.ID - Sebagian orang meyakini bahwa kedaulatan Islam bisa dicapai jika bingkai perpolitikan yang digunakan berdasarkan syariat Islam. Padahal, kedaulatan Islam sejatinya tidak diukur dari sistem politik tertentu, tetapi dari bagaimana umat Muslim dapat menjalankan ajaran agama dengan hikmah, memahami budaya lokal, dan memberikan kontribusi nyata di masyarakat.

Kepala Makara Art Center Universitas Indonesia (MAC UI) Dr. Ngatawi Al-Zastrouw, S.Ag., M.Si., menggarisbawahi pentingnya memahami Islam secara tepat.

Umat Islam harus memahami tradisi dan nilai-nilai lokalitas atau budaya Indonesia, sehingga bisa membedakan hal yang relevan atau tidak, sesuai dengan ajaran Islam. 

“Sebaliknya, kita harus mempelajari ajaran-ajaran Islam itu sesuai ilmunya. Kalau tidak sesuai ilmunya, maka akan terjebak pada formalisasi simbol-simbol keagamaan tanpa memahami substansi sebenarnya,” ujar Zastrouw di Jakarta, Rabu (16/10/2024).

Dr. Zastrouw mengatakan, mudahnya Islam masuk ke Nusantara karena ulama-ulama yang menyebarkan Islam kala itu mampu memahami ajaran agama sesuai dengan visi, misi dan substansinya. Sehingga ketika diterapkan dia tidak bertabrakan dengan kultur-kultur yang ada di Tanah Air. 

Ia juga menyoroti fenomena euforia budaya atau tampilan yang ke-arab-arab-an yang beberapa tahun belakangan ini makin marak.

Menurut Dr. Zastrouw, hal ini justru bersumber pada kedangkalan pemahaman terhadap ajaran Islam. Penggunaan atribut, istilah, ataupun simbol lainnya yang serba Arab, bukan berarti seseorang menjadi semakin islami. 

“Fenomena seperti ini sebenarnya mencerminkan kedangkalan dalam memahami ajaran-ajaran Islam yang kemudian diekspresikan dengan laku budaya yang Arab sentris,” tegasnya seperti dikutip dari siaran pers Pusat Media Damai (PMD) BNPT. 

Ketua Dewan Pembina Yayasan Jejaring Dunia Santri ini menjelaskan bahwa umat Islam sudah seharusnya memiliki kemampuan rekonstruksi terhadap tafsir ajaran Islam, sehingga mampu diamalkan di Indonesia tanpa bertabrakan dengan kultur setempat.

Orang yang gagal mengikuti ini, menurut Dr. Zastrouw, ditandai dengan sikap latah dan ikut-ikutan budaya lain. Mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki imunitas ideologi dan kultural.

Maka dari itu, jika seseorang memahami tradisi lokal dan substansi syariat Islam secara mendalam, akan sampai pada kesimpulan bahwa akar budaya Nusantara itu banyak bersesuaian dengan nilai dan semangat yang ada pada ajaran Islam. 

Sebagai umat beragama yang tinggal di Indonesia, Dr. Zastrouw mengerti pentingnya penempatan ajaran Islam dan budaya Nusantara sesuai dengan tempatnya.

Di dalam diri masyarakat Indonesia jangan sampai ada perasaan lebih rendah dari bangsa lainnya, atau yang sering disebut sebagai inferiority complex, termasuk dalam beragama.

“Menurut saya, Kiai-Kiai di Indonesia justru lebih Islami dan mahir dalam memahami Islam, meskipun dia hanya pakai sarung, kopiah atau pakaian kesehariannya. Melalui pemahaman keagamaan yang tepat dan related dengan tradisi-tradisi yang kita miliki, Islam malah lebih mudah diamalkan dan dipahami oleh seluruh suku dan bangsa di Nusantara,” tegasnya.

Lebih jauh dosen Pascasarjana UNUSIA Jakara ini mengungkapkan bahwa perpolitikan hanya salah satu cara menghadirkan Islam. Justru kejayaan dunia Islam itu dikenal bukan dari sistem politik atau kenegaraannya, melainkan dari perkembangan sains dan teknologi hasil temuan para ulama di zaman dulu.

“Kita ingat ketika umat Islam seperti Al-Khawarizmi, Ar-Razi, Ibnu Batuta, Al Idrisi, dan lain sebagainya mampu menemukan teknologi, mulai teknologi optik, teknologi kimia, teknologi ilmu sains matematika. Di situ Islam berkembang melalui pengetahuan dan peradaban, hingga didirikannya Baitul Hikmah sebagai pusat literatur di masa dinasti Abbasiyah,” terang Dr. Zastrouw.

Kejayaan Islam di masanya yang relatif lama, menurut Dr. Zastrouw, tidak bisa dilihat hanya dari aspek politik semata, apalagi politik praktis. Kebesaran Islam yang berusaha dikurung dalam wadah politik praktis hanya akan menimbulkan kekecewaan di banyak pihak. Mulai dari fitnah, caci-maki, hingga kebusukan intrik politik praktis tidak serta-merta hilang hanya dengan memasukkan syariat Islam ke dalam sistem politik.

Sejarah kejayaan Islam yang banyak berasal dari pengembangan sains membuat Dr. Zastrouw berkesimpulan bahwa untuk mewujudkannya kembali, maka umat Islam harus peduli terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebudayaan. ***

 

 

Artikel Lainnya