Oleh: Atmonobudi Soebagio*)
Jakarta, INDONEWS.ID - Keamanan energi secara fundamental adalah tersedianya energi secara berkelanjutan dalam berbagai wujud dalam jumlah yang cukup, serta harganya yang wajar - memiliki banyak aspek. Ini berarti ada kerentanan terbatas terhadap gangguan sementara atau jangka panjang terhadap pasokan impor.
Namun juga dapat berarti ketersediaan sumber daya lokal dan impor untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri, seiring waktu, dan dengan harga yang wajar, serta permintaan energi yang terus meningkat.
Tekad Presiden Prabowo untuk menjadikan Indonesia mampu menjadi lumbung pangan, khususnya dalam produksi beras, merupakan program yang senafas dengan peningkatan keamanan energi; yaitu dalam meningkatkan ketersediaan bahan pangan secara berkelanjutan.
Presiden bahkan bertekad agar Indonesia dapat meraih predikat “lumbung pangan dunia” dengan membuka jutaan hektar lahan menjadi sawah baru yang didukung oleh mekanisasi proses pertaniannya, serta sistem irigasi yang lancar agar mampu menghasilkan panen padi sekurang-kurangnya dua kali dalam setahun.
Disamping kemandirian pangan, sebuah negara juga memerlukan keamanan energi dalam wujud tersedianya energi listrik serta bahan bakar bagi sektor industri dan transportasi dengan harga yang terjangkau masyarakat secara berkelanjutan. Industrialisasi dalam wujud proses hilirisasi hasil tambang mineral maupun minyak bumi, merupakan wujud peningkatan nilai jual, dibandingkan kondisi sebelumnya yang hanya mengekspor dalam wujud bahan mentah.
Upaya membangun sistem keamanan energi yang tangguh dan berkelanjutan sangat memerlukan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan kompeten.
Bila kita memperhatikan visi nasional kita untuk membawa Indonesia menjadi negara maju pada tahun 2035, maka diperlukan penyempurnaan sistem pendidikan kita; dari tingkat sekolah dasar hinggi ke pergurun tinggi. Sistem pendidikan tersebut tidak cukup hanya dengan menyempurnakan kurikulumnya saja, melainkan juga disertai latihan kerja sebelum mereka menamatkan pendidikan mereka.
Generasi Z adalah generasi yang lahir di sekitar tahun 1995 sampai dengan 2010. Jumlah mereka sekitar 10% dari jumlah penduduk Indonesia. Merekalah yang akan menjadi pelaku utama dalam menuju “Indonesia Maju di tahun 2035” yang akan datang.
Ada sejumlah karakteristik yang dimiliki oleh Generasi Z, antara lain:
- Melek teknologi;
- Kreatif;
- Menerima perbedaan;
- Peduli terhadap sesama;
- Senang berekspresi;
- FOMO (rasa takut ketinggalan momen, informasi, atau tren);
- Kecemasan dan tingkat stress yang tinggi;
- Mudah mengeluh dan memproklamirkan diri.
Di sisi lain, Generasi Z lebih melihat nilai manfaat lewat kemampuan pemrograman komputer (36%) dan keterampilan AI (30%) sebagai modal/persiapan mereka untuk bekerja lebih baik. Mereka juga senang membangun keterampilan mereka, seperti komunikasi (30%) dan critical thinking/problem-solving (26%). Dari minat mereka, sangat kecil peluang kita dalam peroleh dukungan SDM generasi tersebut untuk menangani bidang teknologi yang terkait dengan program hilirisasi sektor tertentu, khususnya untuk meningkatkan kemandirian di bidang energi dan pangan.
Saat ini sumber pemasukan dana bagi negara masih dapat kita atasi lewat dukungan program hilirisasi hasil tambang dan minyak bumi, serta program pembukaan sawah dua juta hektar untuk membuat “Indonesia sebagai lumbung pangan dunia”.
Dari gambaran tentang minat Generasi Z, konsep kurikulum pendidikan menengah dan tinggi manakah yang harus kita susun dalam rangka menyiapkan SDM yang memiliki kemampuan dalam sektor industri, energi dan pangan secara tangguh?
Mungkin salah satu solusinya adalah dengan menawarkan program beasiswa bagi generasi tersebut di sejumlah bidang keilmuan yang penting dan strategis, namun selama ini kurang diminati oleh Generasi Z. Semoga.
*) Prof. Atmonobudi Soebagio, MSEE, Ph.D. adalah Guru Besar dan mantan Rektor (2000-2004) pada Universitas Kristen Indonesia serta pengamat Pembangunan Berkelanjutan.