Opini

Pahlawan: Padamu Kami Mengadu

Oleh : luska - Sabtu, 09/11/2024 15:09 WIB


Oleh; Jimmy H Siahaan.

Hang Tuah, adalah cerita prosa epik kepahlawanan, lebih dari 146.000 kata,  bahkan peranan dari 130 watak. Watak Wira - Tokoh Agung. Watak Melayu - rendah hati. Kebanggaan terhadap Hangtuah menjadi kekuatan dan inspirasi bangsa Melayu.

"Takkan Melayu hilang di dunia".
 
Tan Malaka menuliskan dalam buku Dari Penjara ke Penjara:  "Siapa ingin merdeka, harus bersedia dipenjara.." saat di Bajah, Banten. Bermula dari usulan membuat sandiwara dibawah naungan Kempei, tentara Jepang. Lakon kedua yang dia tuliskan karena belum juga timbul tenaga muda dan baru.

Lakon itu " Hikayat Hang Tuah". Walaupun imperialis yang dituju, tetapi si Jepang imperialis pun pasti merasa sakit hati: " memang yang luka akan merasa sakit hati"

Baca juga : Jakarta Satu

Wiracarita Gilgamesh ("Epik Gilgamesh"; "Epos Gilgamesh") adalah sebuah puisi epik dari Mesopotamia kuno, yang dianggap sebagai karya sastra signifikan terawal dan teks keagamaan tertua kedua yang selamat setelah Teks Piramida. Sejarah sastrawi mengenai Gilgamesh dimulai dengan 5 puisi berbahasa Sumeria yang ditulis sekitar tahun 2100 SM. 

Homers, penyair Yunani kuno yang hidup pada abad ke-8 SM, dikenal sebagai penulis dua karya epik yang menjadi landasan sastra Yunani kuno: Iliad dan Odyssey. Kedua puisi ini telah menempatkan namanya sebagai salah satu penulis paling dihormati dan berpengaruh sepanjang sejarah.

Selanjutnya zaman epik modern, Cerita Kepahlawanan Para Penjaga Hutan. Ditengah ramainya film aksi yang penuh  kehadiran film animasi, Epik memberikan alternatif yang menyegarkan. 

Dimulai dari datangnya Mary Katherina (MK) yang mendatangi rumah ayahnya, ayah yang tidak pernah dikenalnya karena berpisah dengan ibunya dan terobsesi meneliti mahluk-mahluk kecil yang hidup di hutan. Singkatnya, MK ( Amanda Seyfried ) tidak percaya dengan obsesi ayahnya, karena mahluk itu selama ini tidak pernah ada yang melihat.
Namun pada suatu saat, MK menemukan dirinya mengecil dan menemukan dunia kecil yang selama ini dicari-cari oleh ayahnya. Mereka adalah sejenis peri pelindung hutan, dan saat itu sedang menghadapi peperangan melawan mahluk-mahluk perusak dari bawah tanah yang akan menghancurkan hutan. 

MK pun terjebak dalam 
pertempuran sengit bersama panglima perang pelindung hutan, Ronan, pejuang yang tidak taat Nod dan Ratu Hutan melawan para mahluk jahat. Sebaliknya, sang ayah yang selama ini tidak pernah peduli dengan putrinya itu menjadi kuatir dan panik karena MK menghilang.

Ramayana dan Mahabrata, adalah cerita epik juga. Sementara baik-buruknya para tokoh di Ramayana nisbi tergantung versi India atau Sri Lanka, saya pribadi setuju tafsir Gus Dur yang menegaskan bahwa sebenarnya tidak ada yang jahat mau pun yang baik pada kisah Mahabharata mau pun Wayang Purwa.

Yang ada hanya kepentingan analog situasi kondisi politik perebutan kekuasaan di mana pun juga termasuk di Indonesia masa kini.

Di atas panggung politik perebutan kekuasaan memang baik-buruk bukan pedoman utama karena hanya kepentingan belaka lah yang menjadi pedoman utama para politisi sejati.

Bagi Kurawa, Sengkuni adalah pahlawan yang membela kepentingan Kurawa sementara4 Kresna adalah pengkhianat terhadap kepentingan Kurawa.

Sebaliknya Kresna adalah pahlawan bagi Pandawa sekaligus pengkhianat bagi Kurawa. Sama halnya Wibisana adalah pahlawan penegak kebenaran bagi Sri Rama sementara pengkhianat bagi Rahwana.

Dari cerita Epik kepahlawanan, berpindah pada sejarah masa lampau, seorang dokter bernama, Dr Soetomo (1908)  adalah pahlawan sebelum kemerdekaan. Beliau adalah Ketua Budi Utomo pada masa awal pergerakan perjuangan kemerdekaan. 

Dilanjutkan dengan sejarah pemuda pemberani. Dia adalah Bung Tomo adalah tokoh pahlawan saat mempertahankan kemerdekaan, tepatnya saat pertempuran di Surabaya pada bulan November 1945. 

Hari Pahlawan ditetapkan oleh negara, baru ada pengkukuhan 14 Tahun setelah peristiwa pertempuran, tahun 1959. 

Hal yang sama untuk Hari Sumpah Pemuda 1928, pengkukuhannya ditetapkan tahun 1959. Artinya setelah dikukuhkan 31 tahun. Ketetapan oleh Presiden Soekarno. 

Pada Kongres Pemuda Kedua, para pemuda dari berbagai latar belakang suku, budaya, dan agama melahirkan ikrar yang dikenal dengan IKRAR SUMPAH PEMUDA. 

Dari keprihatinan diatas nampak kurangnya perhatian untuk menghargai sejarah. Kita dapat menyimak, bahwa perjuangan besar oleh para pejuang bangsa, terabaikan dan mudah terlupakan oleh jalannya waktu.

Perjalanan waktu memang sangat cepat. Tentu realitas berubah. Tantangan zaman juga berubah. Ada gerakan ide,ada gerakan fisik, gerak tehnologi, ada gerakan global hingga saat kini yaitu bagaimana kompleksitas mengisi jalannya kemerdekaan. 

Kita kutip Tempo, co, 29 Januari, 2019, pandangan Rahman Toleng, tokoh pergerakan tentang " Surat Dari dan Untuk Pemimpin". 

Konstitusi menyebutkan negara ini berbentuk Republik. Anak muda sekarang tentu tidak tahu para pejuang dulu dijuluki kaum “Republikein”. Tapi kata republik kini seolah tak berarti apa-apa, kecuali bahwa Indonesia bukan kerajaan.

Resminya, bukan kerajaan memang --sungguh tingkah para pemimpin kerap lebih feodal, kalau tidak lebih zalim, dibandingkan dengan seorang monark di jaman sekarang. Bangsa ini pun kurang menyadari bahwa dalam kata Republik tersimpul makna filosofis yang dalam, yakni respublica atau kemaslahatan bersama dalam arti seluas-luasnya.

Frasa “cinta tanah air” juga mengalami penyimpangan makna. Konsep “patriotisme”, padanannya, seperti terpinggirkan dari kosakata perpolitikan Indonesia, dan sebagai gantinya justru lebih mengemuka konsep “nasionalisme”. Kedua konsep memang sama-sama menggugah sentimen nasional, dan keduanya sama-sama dapat membangkitkan kekuatan dahsyat. Tetapi di balik kesamaan itu ada garis tebal yang memisahkannya.

“Patriotisme” menuntut kebebasan warga negara atas dasar penghormatan hak-hak orang lain, sedangkan “nasionalisme” memuja kebesaran bangsa dan menjunjung tinggi apa yang disebut kepribadian nasional. Musuh masing-masing karenanya juga berbeda.

Musuh patriotisme adalah segala jenis tirani, ketidakadilan, dan korupsi, sementara bagi "nasionalisme” yang dimusuhi adalah pencemaran budaya, ketidakutuhan, serta segala sesuatu yang berbau asing.

Elan “cinta tanah air” dalam arti “patriotisme” itulah yang seharusnya selalu disenandungkan kaum muda, sebagaimana hal itu pernah diperagakan oleh para pejuang kemerdekaan. Tapi jangan salah pahami saya. Menjalankan “tugas patriotik” --meminjam istilah Carlo Rosselli, seorang martir antifasis Italia pada Perang Dunia II--tidaklah berarti dan harus selalu berupa tindakan heroik.

Patriotisme bukanlah “penyerahan” diri kepada tanah air, mengorbankan seluruh hidup bagi Republik. Tindakan yang demikian tidak diperlukan, terkecuali mungkin secara terbatas dalam situasi-situasi genting.

Patriotisme hanya menuntut agar Anda menjadi warga negara yang aktif, warga negara yang selalu peduli terhadap kehidupan bersama, peduli terhadap kemaslahatan bersama.

Ini mengimplikasikan bahwa kita selalu siaga untuk melibatkan diri, dan bukannya
bersikap acuh tak acuh, tatkala ada sesama warga negara yang menjadi korban ketidakadilan atau tindakan diskriminatif, ketika suatu peraturan perundang-undangan
yang reaksioner dipersiapkan atau disahkan, atau ketika pasal-pasal konstitusi dilecehkan.

Tugas-tugas itu sesungguhnya bisa dijalankan, sembari Anda bisa tetap bergembira, belajar, atau bekerja menghidupi keluarga. Pokoknya, Anda tak perlu meninggalkan 

Apa bunyi seruan itu? Sebagai penutup tulisan ini saya kutipkan di sini untuk dicamkan oleh kaum muda: “Your Country Needs You” --Negeri membutuhkan Anda. Jakarta 1 Oktober 2012.

Pada tanggal 28 Oktober 1997, ada IKRAR MAHASISWA, yang dipelopori oleh Dewan Mahasiswa seluruh Indonesia, gerakan mahasiswa atau Student Goverment. Peristiwa ketika itu bertempat di Bandung. Sejarah 47 tahun yang lalu.

Pada tanggal 28 Oktober 1997, ada IKRAR MAHASISWA, yang dipelopori oleh Dewan Mahasiswa seluruh Indonesia, gerakan mahasiswa atau Student Goverment. Peristiwa ketika itu bertempat di Bandung. Sejarah 47 tahun yang lalu.

Sekilas Napak Tilas Gerakan Mahasiswa 77/78. Selanjutnya, dua puluh tahun kemudian, 21 Mei 1998, Soeharto mundur sebagai Presiden ke 2. Lahirnya Reformasi. Kita mengawali masa Demokrasi.

Kita membutuhkan cakrawala baru. Benar, bahwa selalu ada Matahari di garis khatulistiwa di negara kita. Selalu bersinar untuk tetap Optismis. 

Judul diatas,  "Pahlawan : Kepadamu Kami Mengadu"  yang tertulis tertera dispanduk besar saat ribuan demonstras mahasiswa, di Jakarta, tanggal 10 November 1977, bertempat dijalan raya di depan Kampus UI Rawangun saat itu. 

Saatnya akan muncul para Patriot- patriot, para pahlawan baru, yang tentunya lebih manusiawi, berkomitmen pada konstitusi dan mampu untuk menatap kedepan dan tentunya lebih pro lingkungan, pro keadilan, pro kerakyatan.

TAGS : Jimmy siahaan

Artikel Lainnya