Jakarta, INDONEWS.ID - Mitra Seni Indonesia (MSI) kembali menggelar penggalangan dana bagi 80 perajin batik dan “Mbok Gendong” dalam acara seni budaya, serta menghadirkan produk usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) didukung Bank BNI dalam rangka memeriahkan Hari Batik Nasional 2024 serta menyongsong hari Ibu di Jakarta, Selasa (12/11/2024).
Dalam kegiatan Penggalangan dana ini dimeriahkan oleh peragaan busana yang menampilkan para tokoh diantaranya Cawagub Jawa Timur Emil Elestianto Dardak beserta istri Arumi Bachsin; Dede Yusuf, aktor dan sebagai Wakil Komisi X Bidang Pendidikan DPR RI dan istri : Sendy - Ketua Umum Yayasan Batik Jabar & Founder Perhimpuan Kebayaku; Artis senior & kawakan Widyawati Sophiaan dan Iwet Ramadhan penggiat budaya mewakili generasi muda, serta peragawati dari Mitra Seni Indonesia. Masing masing memperagakan koleksi Iwan Tirta Private Collection yang hingga saat ini masih mampu membina +/- 600 perajin batik di Jawa dan memiliki lebih dari 14.000 motif batik warisan Maestro Iwan Tirta menjadi salah satu pusat perhatian utama dalam acara ini.
Sementara itu dalam acara puncak yaitu lelang , ditampilkan 6 koleksi kain yang merupakan
kain koleksi sumbangan dari Susrinah Sastrowardoyo (salah satu Pendiri MSI) berupa batik tulis soga dari Jogjakarta yang telah berusia lebih dari 50 tahun, sumbangan Sri Hariswati Tobing berupa batik tulis lawas dari Surakarta serta sebuah batik tulis sumbangan dari Ira Bambang putri dari artisan Batik ibu Setiowati di era tahun 1970an, selain dari 3 kain pilihan lain dari koleksi Iwan Tirta.
Hasil penggalangan dana ini sebagian akan disalurkan kepada tokoh dibelakang layar yang mempunyai peran penting dalam proses pembuatan batik tulis, namun pengabdian mereka hampir tak terlihat. Mereka yang menerima adalah salah seorang dari tiga pembuat canting tulis halus batik yang masih tertinggal seantero Jawa bernama Moh. Dimyati dari desa Kuripan Lor, Pekalongan. Canting yang dibuat memerlukan keahlian dan jam terbang tinggi dibandrol hanya dengan harga lima ribu rupiah yang tidak pernah mengalami kenaikan dari masa ke masa. Parto Mulyono, 88 tahun, bekerja di pembatikan sejak usia 12 tahun, yang diawali sebagai tukang mengerok malam yang menempel pada mori, kerja ini memerlukan keahlian khusus dan tidak semua orang mau mengerjakan. Mata kiri Parto mengalami kebutaan akibat percikan rorot panas namun baktinya untuk proses pembatikan tidak pernah luluh. Ibu Martawi, 93 tahun, artisan batik yang dikenal dalam proses design pembatikan untuk karya-karya Iwan Tirta dan pengembangan motif pakem batik khusus Mangkunegaran sekarang dalam keadaan sakit, ibu Mariyem 79 tahun pembatik halus dengan motif langka. 75 Mbok-mbok Gendong dengan status janda usia lebih dari 65 tahun dari Pasar Legi SOLO yang biasa menggendong kain-kain batik untuk dijajakan ke Pasar Legi Solo, pendapatan harian sangat berkurang sejak konsumen lebih memilih membeli secara online, hanya berkisar Rp. 30.000,- - Rp. 50.000,-/hari cukup untuk biaya hidup kesehariannya.
Ketua Umum Mitra Seni Indonesia Sari Ramdani menjelaskan, kegiatan untuk memperingati Hari Batik Nasional dan Hari Ibu rutin dilakukan setiap tahun, namun tahun ini peringatan Hari Batik Nasional dan peringatan Hari Ibu 2024 digabung . Menurut Sari Ramdani, karena peran perempuan ada dalam setiap proses daur kehidupan manusia, mulai sejak lahir hingga kematian. Para perempuan memiliki posisi sentral dalam melindungi, menjaga serta memberikan makna bagi setiap proses kehidupan manusia melalui budaya yang beragam di Indonesia dan ini yang perlu dilestarikan. Karena itu peringatan kedua hari tersebut sangat relevan untuk disatukan.
Lebih jauh Sari Ramdani menjelaskan, perjuangan kaum perempuan dan pelestari terkait didalamnya sebagai penerus tradisi harus tetap eksis dan yang tidak dapat dihilangkan adalah ”roso” sebagai ritual dari setiap langkah untuk memulai sebuah karya kreasi khususnya dalam pembuatan sehelai karya batik.
Menurut Sari Ramdani, melalui visi dan misi yang diemban MSI, mengajak komponen, institus-institusi terkait dan komunitas-komunitas sejenis untuk turut serta aktif dalam kaitan Batik sebagai warisan budaya tak benda yang telah dicanangkan sejak tahun 2009 oleh UNESCO dan Peringatan Hari Ibu menjadikan Perempuan mempunyai peran penting untuk tetap berjuang sepanjang jaman dalam rangka peran sertanya mencapai keberlangsungan, penjaga & pelestari Seni Budaya Indonesia.
Ketua Umum MSI Sari Ramdani mengatakan, kami menggandeng Iwan Tirta , sekaligus guna memaknai kekayaan warisan budaya batik sebagai identitas budaya Indonesia. Selain itu juga sebagai platform kreatif bagi para desainer untuk menampilkan hasil karya inovatif seni batik khas Indonesia. Sari Ramdani berharap kegiatan ini benar benar bermanfaat bagi banyak orang yang berperan didalamnya.
Pada kesempatan itu, dalam acara bincang bincang menampilkan nara sumber Ketua Umum Kowani Dr. Ir Hj Giwo Rubianto Wiyogo M.Ph serta perancang busana Didi Budiarjo dipandu moderator Nurdiansyah Dalidjo mengambil tema Busana sebagai khasanah Jati Diri Bangsa.
Ketua umum KOWANI Dr. Ir Hj Giwo Rubianto Wiyogo M.Ph, mengatakan busana dapat menjadi petunjuk identitas diri pemakainya, bahkan menunjukan identias bangsa. Menurut Giwo Rubianto setiap negara memiliki budaya beraneka ragam sebagai ciri khasnya, tak terkecuali Indonesia yang kaya akan ragam budayanya dan peran Perempuan Indonesia sebagai pelestari & pengembang seni budaya sangat penting . Setiap daerah di Indonesia memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri yang memperkaya kebudayaan nasional, contohnya salah satu ikon kebudayan nasional Indonesia adalah berkebaya & berkain.
Acara yang didukung Bank Negara Indonesia (BNI) juga dimeriahkan dengan penampilan sendratari dari group penari MSI, vocal group MSI dan FlashBack Band.
--------------------------------------------------------------------------------------------------
Sekilas mengenai Mitra Seni Indonesia (MSI)
Mtra Seni Indonesia (MSI) adalah perkumpulan yang bersifat nirlaba dan non politik dan berbadan hukum. MSI didirikan pada tanggal 9 Agustus 2007.MSI merupakan wadah bagi pemerhati atau pencinta dan pelaku seni untuk bersama2 mengembangkan talenta dalam berkesenian.
Mitra Seni Indonesia didirikan oleh Ir.Sanyoto Sastrowardoyo (alm), ibu Susrinah Sanyoto dan Ibu Sri Harmoko. Saat ini anggota MSI berjumlah hampir 896 orang.
Mitra Seni Indonesia memiliki berbagai kelompok pelatihan diantaranya angklung,arumba, kolintang dan tangklung, paduan suara, seni lukis, karawitan, tari tradisional, line dance olah vokal dan terbuka bagi masyarakat yang mencintai seni