Jakarta, INDONEWS.ID - Tahun 2025, tepatnya pada 25 Maret mendatang, Suster-suster yang bergabung dalam Kongregasi Pengikut Jesus (CIJ) akan merayakan usia ke-90 tahun. Biara ini didirikan pada 25 Maret 1935 oleh Apostolik Sunda Kecil, Uskup Henricus Leven SVD.
Sebagai ungkapan syukur atas peristiwa berahmat itu, Kongregasi CIJ akan menyelenggarakan sejumlah kegiatan, antara lain Misa Syukur di Jopu, tempat karya ini dimulai, serta menerbitkan buku yang berjudul “Tindakan Profetik dalam Aktualisasi Misi: Refleksi 90 Tahun CIJ”.
Di Jakarta juga akan digelar acara yaitu berupa peluncuran buku dengan menampilkan sejumlah pembicara.
Kata salah satu panitia acara, Dion Pare mengatakan, tujuan kegiatan ini adalah untuk menyoroti kehadiran CIJ dalam sudut pandang yang lebih luas dalam rangka pelaksanaan visi, misi dan kharisma kongregasi ini ke depan.
“Pembicara yang ditampilkan adalah pejabat Gereja dan teolog, sejarahwan Gereja, Sosiolog dan para pejabat pemerintah. Semua pembicara bukanlah anggota Kongregasi. Mereka akan menjadi mitra dari Kongregasi. Setelah 90 tahun berkiprah, apa yang mungkin bisa lebih dioptimalkan lagi,” ujarnya melalui siaran pers di Jakarta, Rabu (12/2).
Diskusi tersebut, kata Dion, akan menghadirkan Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, Dosen Sejarah STF Driyarkara, Prof. Eddy Kristiyanto, OFM, Guru Besar Sosiologi UI, Prof. Dra. Francisia SS Ery Seda, MA, PhD, Gubernur NTT, Melkiades Lakalena dan Bupati Ende, Joseph Benediktus Badeoda, SH, MH.
Kegiatan di Jakarta, katanya, akan dilanjutkan dengan Misa Syukur yang akan dilangsungkan di Gereja St. Joseph Matraman. Misa akan dipimpin oleh Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD.
“Acara Bedah Buku dan Misa Syukur ini akan diselenggarakan pada Hari Jumat, 28 Februari 2025,” ujarnya.
Seperti diketahui, rintisan CIJ di Flores sudah dimulai oleh Mgr. Arnoldus Vestralen, yang meninggal karena kecelakaan dalam perjalanan untuk mewujudkan misi biara pribumi itu.
Setelah melewati beberapa pertimbangan, konsultasi dan doa, Mgr. Henricus Leven memutuskan untuk memulai satu karya baru yaitu pembentukan satu tarekat yang membimbing para gadis pribumi untuk menjalani hidup dalam kesalehan, doa dan pelayanan. Di bekas tangsi militer Belanda di Jopu, pedalaman Flores Tengah, karya itu mulai disemai.
CIJ merupakan biara pribumi kedua setelah Tarekat Maria Mediatrix (TMM) yang didirikan di Langgur Tual, pada 1 Mei 1927.
Kini, 90 tahun sudah berlalu. Kongregasi Pengikut Jesus (CIJ) berkarya di bidang pendidikan, kesehatan, pelatihan dan pelayanan kepada mereka kurang mendapat perhatian, terutama perempuan dan anak-anak.
Sejak tahun 2003, CIJ juga sudah berkarya di luar negeri yaitu Italia, Jepang, Jerman, Taiwan, dan Timor Leste - sebetulnya mereka sudah berada Timor Leste, sejak negara itu masih menjadi propinsi ke-27 dari Indonesia.
“CIJ pernah berkarya di Jepang. Tetapi sekarang mereka sudah tidak berada di sana lagi,” kata SR. Theresila CIJ, Wakil Provinsial Provinsi CIJ Jawa.
Tempat perutusan CIJ tersebar di 21 Keuskupan dan di tempat tersebut mereka membentuk banyak Komunitas atau Biara. Di Indonesia, CIJ ada di 21 Keuskupan dan 51 Komunitas di 15 Keuskupan; Timor Leste, ada 5 Komunitas di 2 Keuskupan; dan Italia: 5 Komunitas di 3 Keuskupan.
Sebagaimana disampaikan oleh SR. Theresila, CIJ, jumlah anggota yang tergabung dalam Kongregasi ini saat mencapai 400 orang lebih. Mereka terbagi dalam empat provinsi, yaitu Provinsi Flores bagian Barat, Provinsi Flores Bagian Timur, Provinsi Timor, dan Provinsi Jawa. Sementara untuk para suster yang berada di luar negeri, mereka masih membentuk semacam regio. *