Bukittinggi, INDONEWS.ID – Busana adat Baju Milik khas Nagari Padang Magek, Kecamatan Rambatan, Kabupaten Tanah Datar, tampil memukau dalam Festival 1.000 Perempuan Berbusana Minang yang menjadi bagian dari rangkaian perayaan 100 Tahun Jam Gadang (1926–2026) di Kota Bukittinggi
Rombongan dari Nagari Padang Magek bersama ratusan peserta lainnya turut memeriahkan perayaan satu abad ikon kebanggaan masyarakat Sumatera Barat tersebut.
Kehadiran Baju Milik dengan ciri khas dan filosofi yang kuat menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung yang memadati kawasan Jam Gadang.
Wali Nagari Padang Magek, Syafril Jamal, mengatakan ditampilkannya Baju Milik pada festival tersebut merupakan bentuk komitmen masyarakat dalam melestarikan sekaligus memperkenalkan identitas budaya khas nagari kepada khalayak luas.
"Keikutsertaan pada festival ini, selain ada undangan khusus dari Pemko Bukittinggi, juga mendapatkan dukungan dari perantau melalui KKTD Jakarta. Maka sebanyak 120 peserta diberangkatkan untuk mengikuti perayaan bersejarah tersebut," ujarnya.
Menurut Syafril, keikutsertaan dalam festival ini juga menjadi momentum penting untuk memperkenalkan Baju Milik yang telah memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dari Kementerian Hukum dan HAM pada tahun 2023.
"Status HKI yang telah dimiliki itu membuat Baju Milik khas Padang Magek semakin dikenal sebagai salah satu kekayaan budaya yang menjadi identitas masyarakat Nagari Padang Magek," ungkapnya.
Ia menjelaskan, Baju Milik bukan sekadar pakaian adat, melainkan warisan budaya yang sarat makna dan filosofi. Salah satu simbol yang menonjol adalah penggunaan tengkuluk pada perempuan yang melambangkan kehormatan, kebijaksanaan, serta tingginya kedudukan perempuan dalam adat Minangkabau.
Syafril menegaskan bahwa pihaknya memiliki komitmen untuk terus menampilkan peragaan Baju Milik dalam berbagai kegiatan budaya sebagai upaya menjaga dan memperkenalkan warisan leluhur kepada generasi muda.
"Pada setiap event atau pergelaran, kita selalu diberikan tawaran oleh panitia penyelenggara untuk menampilkan peragaan Baju Milik khas nagari ini, termasuk pada Festival Pagaruyung bulan Agustus mendatang," katanya.
Ia juga menyebutkan, keikutsertaan rombongan Padang Magek dalam festival tersebut merupakan hasil gotong royong masyarakat serta dukungan para perantau dan pemerintah daerah.
"Kebutuhan biaya selama mengikuti event ini, mulai dari transportasi, konsumsi, dan akomodasi dibiayai secara mandiri dan bantuan dari perantau, tanpa menggunakan dana nagari," sebutnya.
Pada kesempatan itu, Syafril Jamal secara khusus menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh perantau Padang Magek yang telah memberikan dukungan moril maupun materil sehingga rombongan dapat ambil bagian dalam perayaan bersejarah tersebut.
"Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh perantau Padang Magek, Dukungan yang diberikan sangat berarti sehingga masyarakat Nagari Padang Magek dapat ikut serta dalam perayaan 100 Tahun Jam Gadang. Semangat kebersamaan dan gotong royong seperti inilah yang terus memperkuat hubungan antara ranah dan rantau," ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan menampilkan Baju Milik di hadapan ribuan masyarakat dan wisatawan merupakan bukti nyata kuatnya kepedulian perantau terhadap kampung halaman serta pelestarian budaya Minangkabau.
Syafril juga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kota Bukittinggi dan seluruh pihak yang telah memberikan kesempatan kepada Nagari Padang Magek untuk menjadi bagian dari perayaan satu abad Jam Gadang.
"Kehadiran kami di sini bukan hanya untuk memeriahkan acara, tetapi juga sebagai bentuk kebanggaan terhadap budaya Minangkabau yang harus terus dijaga, dilestarikan, dan diwariskan kepada generasi mendatang," tuturnya.
Festival 1.000 Perempuan Berbusana Minang menjadi salah satu agenda utama dalam perayaan 100 Tahun Jam Gadang. Bagi masyarakat Padang Magek, keikutsertaan dalam kegiatan tersebut bukan hanya menjadi ajang promosi budaya, tetapi juga momentum memperkuat jalinan kebersamaan antara masyarakat di kampung halaman dan para perantau dalam menjaga warisan adat yang menjadi kebanggaan bersama. (M.Datuk)