Jakarta, INDONEWS.ID – Gempa dahsyat berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang Myanmar telah menyebabkan kerusakan parah dan menelan korban jiwa yang signifikan.
Hingga kini, sedikitnya 1.644 orang dilaporkan tewas, sementara lebih dari 3.400 lainnya mengalami luka-luka. Tim penyelamat terus berjuang keras untuk menemukan korban selamat meskipun terbatasnya peralatan dan infrastruktur yang rusak.
Di antara tragedi ini, terdapat momen harapan yang muncul ketika seorang wanita berusia 30 tahun, Phyu Lay Khaing, berhasil diselamatkan setelah lebih dari 30 jam terjebak di bawah reruntuhan Sky Villa Condominium di Mandalay.
Suaminya, Ye Aung, langsung membawanya ke rumah sakit. "Kami sangat bersyukur dia masih hidup," kata Ye Aung dalam wawancaranya dengan Guardian.
Upaya penyelamatan terus dilaksanakan, dengan petugas menggunakan alat berat seperti derek dan ekskavator, serta menerjunkan drone dan anjing pelacak untuk mendeteksi tanda-tanda kehidupan.
Di Bangkok, Thailand, gubernur Chadchart Sittipunt mengonfirmasi bahwa pencarian korban di gedung 30 lantai yang runtuh masih berlanjut. “Kami yakin masih ada korban selamat. Kami akan melakukan segala cara untuk menyelamatkan mereka,” ujarnya.
Bantuan Internasional Tiba
Pihak berwenang di Myanmar telah meminta bantuan internasional untuk mendukung upaya pemulihan. Negara-negara seperti Rusia, Cina, dan India telah mengirimkan tim penyelamat serta pasokan bantuan.
Malaysia juga berencana mengirimkan 50 relawan pada Minggu (31/3). Namun, tantangan besar muncul karena infrastruktur yang rusak, jaringan komunikasi yang terputus, dan konflik internal yang masih berlangsung sejak kudeta militer 2021.
Badan Pangan Dunia (WFP) menyebutkan respons terhadap bencana ini sangat menantang. "Butuh waktu berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu untuk memahami sepenuhnya dampak gempa ini," kata Direktur WFP untuk Myanmar Michael Dunford.
Laporan dari Kantor PBB untuk Koordinasi Kemanusiaan (UNOCHA) juga menyebutkan banyak rumah sakit dan fasilitas kesehatan yang mengalami kerusakan parah, dengan kekurangan pasokan medis yang sangat kritis.
Beberapa negara dan organisasi internasional, termasuk Inggris dan Uni Eropa, telah mengalokasikan dana bantuan untuk membantu upaya pemulihan. PBB juga telah menyiapkan dana awal sebesar $5 juta untuk membantu penanganan bencana ini. Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) siap meningkatkan dukungan untuk mengatasi ancaman besar bagi kehidupan dan kesehatan masyarakat.
Kehidupan Warga Terganggu
Banyak warga yang memilih tidur di luar ruangan karena rumah mereka hancur atau khawatir akan gempa susulan. Dalam kondisi darurat ini, kelompok bantuan kemanusiaan seperti Norwegian Refugee Council mendesak junta untuk mengizinkan akses tanpa hambatan bagi para pekerja kemanusiaan guna mempercepat distribusi bantuan.
Tragedi ini terjadi di tengah situasi yang semakin sulit di Myanmar, di mana banyak lembaga bantuan menghadapi kendala akibat pemangkasan dana oleh pemerintahan Donald Trump terhadap Badan Pembangunan Internasional AS (USAID). Meskipun demikian, Trump menyatakan bahwa AS akan memberikan bantuan kepada Myanmar, meskipun belum ada komitmen konkret yang diumumkan.
Saat ini, situasi di Myanmar masih sangat genting, dengan tim penyelamat bekerja tanpa henti meskipun menghadapi keterbatasan besar. Dunia internasional kini menghadapi tantangan besar dalam memberikan bantuan kepada masyarakat Myanmar yang tengah berjuang untuk bertahan hidup di tengah dampak bencana ini.