Jakarta, INDONEWS.ID - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, memberikan tanggapan mengenai kabar terbaru terkait kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang akan menetapkan tarif impor terbaru untuk banyak negara di dunia. Rencananya, Gedung Putih akan mengumumkan detail kebijakan ini pada hari ini, Rabu (2/4/2025).
Faisal menilai kebijakan Trump kali ini lebih menyasar beberapa negara besar lainnya seperti China, Meksiko, Kanada, dan Vietnam. "Artinya, Indonesia bukan sasaran utama," kata Faisal, yang juga merupakan peneliti CORE, dalam wawancaranya dengan Republika.co.id, Rabu (2/4/2025).
Negara-negara yang disebutkan tersebut, menurut Faisal, merupakan kompetitor utama Indonesia dalam hal ekspor ke pasar AS. Dampaknya, kebijakan ini tidak hanya mempengaruhi persaingan kualitas produk di pasar Amerika, tetapi juga memengaruhi persaingan harga. Dalam konteks ini, Faisal melihat kebijakan Trump dapat memberikan peluang bagi Indonesia.
"Sebetulnya ini peluang bagi Indonesia, artinya secara harga daya saing kita turun dibandingkan dengan produk serupa yang diproduksi AS, tapi dengan negara lain, kita menjadi lebih kuat kalau negara-negara itu dikenakan tarif tinggi," ungkap Faisal.
Menurutnya, kebijakan baru ini kemungkinan akan membuat AS mengenakan tarif tinggi terhadap negara-negara yang dianggap menyumbang defisit perdagangan terbesar bagi Amerika Serikat.
Faisal mencatat bahwa banyak produk Indonesia memiliki kemiripan dengan produk-produk yang diekspor dari Vietnam ke AS. Dengan adanya kebijakan tarif ini, Indonesia berpotensi memiliki daya saing harga yang lebih baik dibandingkan dengan Vietnam dan China.
Faisal juga mengungkapkan bahwa potensi pasar AS untuk produk Indonesia dapat berkembang lebih besar dibandingkan negara-negara lain yang terkena tarif impor tinggi. Indonesia sendiri mengekspor sejumlah komoditas ke AS, dengan tekstil dan produk sepatu menjadi salah satu ekspor terbesar.
Namun, ketika ditanya apakah pangsa pasar Indonesia di AS untuk beberapa komoditas ekspor akan berkurang secara keseluruhan, Faisal menjelaskan bahwa hal ini sangat bergantung pada seberapa besar margin harga yang terjadi. Ia menjelaskan bahwa upah buruh di AS cukup tinggi, sehingga produk yang diproduksi oleh industri domestik cenderung dijual lebih mahal dibandingkan dengan produk dari negara-negara pemasok seperti China, Vietnam, Indonesia, dan Bangladesh.
"Jadi walaupun dikenakan tarif (baru) yang membuat produk impor jadi lebih mahal, tetap daya saingnya masih cukup kuat dibandingkan dengan produk-produk sejenis buatan Amerika (Serikat)," tambah Faisal.
Dengan kata lain, meski tarif impor naik, produk Indonesia tetap memiliki daya saing, terutama pada industri padat karya, dan ini membuka peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspornya ke AS. Kebijakan ini juga membuat produk luar negeri, termasuk dari Indonesia, menjadi lebih mahal di pasar AS, yang berpotensi menguntungkan bagi produk-produk yang juga diproduksi oleh industri domestik AS.
Kebijakan tarif impor baru ini tentunya akan terus menjadi perhatian bagi para pelaku industri dan pengusaha Indonesia yang berharap bisa memanfaatkan peluang tersebut untuk meningkatkan ekspor ke pasar terbesar dunia, Amerika Serikat.