Jakarta, INDONEWS.ID – Di sebuah rumah kayu sederhana yang berdiri di pinggir rel aktif di sudut Kota Medan, hidup seorang perempuan tangguh bernama Ibu Tiar. Dengan semangat luar biasa, ia membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan alasan untuk menyerah pada keadaan.
Mengidap penyakit tulang yang membatasi geraknya, Ibu Tiar tetap bekerja setiap hari: mengumpulkan, memilah, dan menjual barang-barang bekas bersama suaminya. Bermodal karung bekas, mereka memulai usaha pengepulan rongsokan demi menyambung hidup.
Awalnya, kesulitan modal dan kurangnya wawasan menjadi kendala besar. Namun titik balik datang ketika Ibu Tiar mengenal program PNM Mekaar, layanan pembiayaan dan pendampingan usaha ultra mikro dari PT Permodalan Nasional Madani (PNM).
Dengan pinjaman awal sebesar Rp2 juta, ia membeli bak besar untuk menampung barang bekas dan memulai usaha tambahan menjual pulsa serta gas elpiji 3kg.
Seiring waktu, bukan hanya bisnisnya yang berkembang, tapi juga peran sosialnya. Ibu Tiar dipercaya menjadi Ketua Kelompok Bahari, aktif mengikuti pelatihan kewirausahaan dan manajemen keuangan dari PNM.
Kini, enam tahun berlalu, rumah yang dulu hanya tempat berlindung kini menjadi pusat pengepulan barang bekas di lingkungan sekitarnya. Dari pinjaman awal, Ibu Tiar kini mengelola pembiayaan usaha hingga Rp11 juta, dan terus menjadi nasabah binaan aktif PNM Mekaar.
“Usaha yang sungguh-sungguh, dibekali doa dan kesabaran, pasti akan berbuah hasil. Tapi saat berhasil, jangan lupa dari mana kita memulainya,” ujar Ibu Tiar dengan penuh makna, Senin (21/4).
Benny Satria, Pemimpin Cabang PNM Medan, menyatakan bahwa kisah seperti Ibu Tiar adalah bukti nyata bahwa perempuan bisa menjadi agen perubahan.
“Hebatnya perempuan, mereka bisa menjadi pilar ekonomi keluarga, bahkan motor perubahan sosial di lingkungannya. Inilah yang menjadi semangat PNM untuk terus mendampingi dan membangun Indonesia dari akar rumput,” ungkap Benny.
Kini, Ibu Tiar tak hanya menafkahi keluarga dari usaha rongsokan, tapi juga menginspirasi ibu-ibu di sekitarnya untuk berani memulai usaha sendiri. Ia menjadi simbol bahwa harapan bisa lahir dari tempat paling sederhana—bahkan dari tumpukan rongsokan di halaman rumah.