Jakarta, INDONEWS.ID--Penggagas Esoterika Forum Spiritualitas, Denny JA menjadi salah satu pembicara dalam Workshop Esoterika Fellowship, hari ketiga, 23 April 2025
Dalam pemaparannya, Denny JA mengaitkan misi Esoterika dengan refleksi mendalam atas ranking universitas global versi QS World University Ranking. Dia mengajak peserta workshop agar belajar pada spiritualitas dan rangking global National University of Singapore (NUS).
Yang mencuri perhatian Denny, NUS kini menempati 10 besar dunia. Pada 2025, peringkat ini mencakup 1.500 universitas dari 105 negara. Menariknya, pada 1950-an hingga 1960-an, NUS justru masih di bawah Universitas Indonesia (UI).
Sejarah mencatat bahwa NUS berawal tahun 1905 sebagai sekolah kedokteran kolonial, tak jauh dari UI yang bermula sebagai STOVIA pada 1902.
"Apa yang membuat NUS melesat? Jawabannya adalah: inovasi, riset, dan keberanian masuk ke wilayah teknologi mutakhir seperti AI, digital governance, dan bioteknologi," ujar Denny.
Dukungan negara dan visi panjang Lee Kuan Yew menjadi kunci transformasi tersebut. "Salah satu indikator yang dinilai tinggi dalam ranking global adalah kemampuan institusi menghasilkan kurikulum baru yang mencerminkan perkembangan zaman," beber dia.
Dalam semangat itu, lanjutnya, Esoterika Forum memperkenalkan kurikulum baru: Agama Sebagai Warisan Kultural Milik Bersama di Era AI. "Ini sebuah inovasi yang merekam denyut zaman dan memenuhi indikator tersebut," pungkasnya.
Teknologi dan Teologi Pembebasan
Denny menyandingkan upaya ini dengan semangat Teologi Pembebasan dari Amerika Latin, sebuah gerakan teologis abad ke-20 yang tidak hanya mengakar di ruang kuliah, tetapi juga mekar di tengah rakyat yang tertindas.
Teologi itu tak sekadar menjelaskan Tuhan, tetapi juga membela mereka yang dilukai sejarah.
“Teologi Pembebasan lahir dari penderitaan. Dan spiritualitas era AI juga lahir dari kesadaran bahwa dunia modern memerlukan tafsir baru atas makna, iman, dan kemanusiaan. Kita ingin membawa tafsir spiritual ini ke dua ruang: kelas dan masyarakat,” ujar Denny.
Luka Sosial, Peluang Spiritual
Spiritualitas, bagi Denny, tidak boleh berhenti di langit ide. Ia harus menjejak tanah konflik, luka, dan realitas sosial. Denny mengingatkan data riset LSI yang mencatat lima tragedi besar akibat politik identitas dan agama.
Yakni konflik Islam–Kristen di Ambon (1999–2001), kerusuhan etnik dan agama di Jakarta (Mei 1998), konflik Dayak–Madura di Kalimantan Tengah (2001), ketegangan etnik di Lampung antara pendatang Bali dan warga lokal (2001–2002), dan konflik antar paham Islam di Mataram, NTB (2000an)
“Luka-luka itu belum benar-benar sembuh,” ujarnya lirih. “Tapi di tengah luka, selalu ada celah untuk cahaya,” imbuhnya.
Dan di situlah spiritualitas baru harus bekerja—bukan untuk menggantikan iman lama, melainkan untuk menyalakan kembali esensinya yang universal: kasih, pengertian, dan keadilan.
“Yang kita lakukan ini baru langkah kecil. Tapi ia berada di jalan yang benar. Kita sedang membentuk kurikulum baru, membuka forum lintas iman, dan memulai gerakan akademik dan sosial yang punya kedalaman spiritual,” benernya.
“Apakah berhasil? Itu urusan masa depan. Tapi kita telah memulainya hari ini. Dan sejarah, kerap berpihak pada mereka yang berani memulai".
Diketahui, Esoterika Fellowship Masuk Kampus merupakan bagian dari gerakan Forum Esoterika.
Program yang dipimpin oleh Ahmad Gaus AF dan Dr. Budhy Munawar Rachman ini membawa spirit pesan universal agama yang merupakan warisan kultural milik kita bersama.