Nasional

Wisuda Mahasiswa YARSI, Wamen Stella: Lulusan Sarjana Tidak Diganti oleh AI

Oleh : very - Sabtu, 26/04/2025 16:01 WIB


Universitas YARSI kembali melakukan wisuda Sarjana dan Pascasarjana untuk semester ganjil tahun 2024/2025 pada Sabtu (26/4). (Foto: Ist)

 

Jakarta, INDONEWS.ID - Universitas YARSI kembali melakukan wisuda Sarjana dan Pascasarjana untuk semester ganjil tahun 2024/2025 pada Sabtu (26/4).

Jumlah mahasiswa yang diwisuda kali ini mencapai 416 yang terdiri dari 337 Sarjana dan 79 Pascasarjana.

Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan bahwa lulusan Pascasarjana kali ini meningkat lebih dari tujuh kali bila dibanding tahun 2021.

”Ketika saya mulai ikut bergabung, yang ketika itu lulusannya adalah 11 orang. Tentu makin meningkatnya jumlah mahasiswa dan lulusan ini membuat Sekolah Pascasarjana (SPS) harus terus meningkatkan kinerjanya, apalagi dalam beberapa bulan ini SPS baru saja menyelesaikan 7 akreditasi secara berturut-turut, baik nasional maupun intenasional,” ujarnya.

Adjunct Professor Griffith University Australia ini mengatakan dari 79 lulusan Pascasarjana kali ini, sebanyak 20 orang adalah Magister Manajemen, 27 Magister Kenotariatan, 6 Magister Biomedik dan 26 Magister Administrasi Rumah Sakit.

Dalam waktu tidak terlalu lama lagi diharapkan juga akan ada lulusan program studi Doktor Biomedik dan SPS Universitas YARSI ini. Program Studi juga akan diperluas dengan rencana pendirian Magister Hukum Kesehatan dan Magister Akuntansi.

Orasi ilmiah wisuda kali ini disampaikan oleh Prof Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Prof Stella menyampaikan tentang tugas utama dalam hal ekosistem sains dan teknologi di negara ini.

Prof Stella kemudian membahas dua hal yang sering dipikirkan komunitas Perguruan Tinggi (PT), yaitu Ekonomi dan Artificial Intelligence.

”Untuk yang ekonomi maka disampaikan kaitan antara lapangan pekerjaan dengan ketersediaan dan kemampuan lulusan PT, dan ditekankan bahwa yang utama dan awalnya adalah ’manusia’-nya. Disebutkan ada dua aspek penting pembentukan SDM, yaitu ‘research mindset’ dan ‘specialized and adaptable workforce’,” ujarnya.

Sedangkan terkait Artificial Intelligence, Wamen Stella menekankan agar profesi para lulusan tidak diganti oleh AI, atau tegasnya bagaimana pendidikan harus dilakukan di era AI.

”Ada 3 jawabannya. Pertama, ’literasi AI’ secara lengkap dengan pemahaman sistem algoritme data, termasuk sumber datanya, dan secara kritis menganalisanya. Kedua, kemampuan membuat keputusan dan pengecualian, dan ketiga pentingnya pengertian pemikiran manusia, dimana kita masih harus menjamin ’aspek manusia’ dalam setiap kegiatan kehidupan,” ujarnya. *

 

Artikel Lainnya