Nasional

Ketegangan Memuncak! China dan Filipina Pamer Bendera Nasional di Pulau Sengketa di Laut China Selatan

Oleh : Rikard Djegadut - Senin, 28/04/2025 12:42 WIB


Jakarta, INDONEWS.ID - China dan Filipina kembali memperlihatkan ketegangan mereka di Laut China Selatan dengan saling memamerkan bendera nasional dalam kesempatan foto yang saling bersaing di sebuah gosong pasir yang disengketakan, menambah panas konflik lama antara kedua negara.

Insiden ini terjadi di Sandy Cay, bagian dari Kepulauan Spratly yang menjadi sengketa. Ketegangan ini muncul hanya beberapa hari setelah Amerika Serikat dan Filipina memulai latihan militer gabungan tahunan mereka yang dikenal sebagai “Balikatan” (yang berarti "bahu membahu"). Tahun ini, latihan tersebut untuk pertama kalinya mencakup simulasi sistem pertahanan udara dan rudal yang terintegrasi.

Konfrontasi terbaru ini tampaknya dimulai pada hari Kamis, ketika media pemerintah China melaporkan bahwa Penjaga Pantai China telah mendarat di gosong pasir tersebut, mengibarkan bendera, dan “melaksanakan yurisdiksi kedaulatan”. Pada hari Minggu, Penjaga Pantai China menuduh enam personel Filipina telah “secara ilegal menaiki” Sandy Cay – yang oleh Beijing disebut Tiexian Reef – meskipun telah diberikan “peringatan dan pencegahan”.

Juru bicara Penjaga Pantai China, Liu Dejun, mengatakan bahwa personel mereka kemudian “menaiki gosong dan menangani situasi sesuai hukum yang berlaku”.

“Kami mendesak Filipina untuk segera menghentikan pelanggarannya,” kata Liu, seraya menambahkan bahwa tindakan tersebut “melanggar kedaulatan teritorial China”.

Belum ada indikasi bahwa China secara permanen menduduki atau membangun struktur di gosong pasir tersebut.

Siaran televisi nasional CCTV menayangkan foto lima orang berpakaian hitam berdiri di atas gosong tak berpenghuni dengan sebuah perahu karet hitam di dekatnya. Mereka juga dilaporkan “membersihkan sampah plastik, kayu, dan puing-puing lainnya” di lokasi itu.

Sementara itu, juru bicara Penjaga Pantai Filipina, Jay Tarriela, pada hari Minggu mengatakan bahwa personel dari angkatan laut, penjaga pantai, dan kepolisian Filipina telah dikerahkan ke Sandy Cay menggunakan empat perahu karet dan “mengamati kehadiran ilegal” satu kapal Penjaga Pantai China serta tujuh kapal milisi maritim China.

Dalam unggahan video pengibaran bendera Filipina, Tarriela menyatakan: “Operasi ini mencerminkan dedikasi dan komitmen teguh pemerintah Filipina untuk menegakkan kedaulatan, hak-hak berdaulat, dan yurisdiksi negara di Laut Filipina Barat.”

China mengklaim hampir seluruh wilayah Laut China Selatan sebagai wilayah kedaulatannya, meskipun klaim ini telah ditolak oleh sejumlah negara tetangga dan juga oleh putusan hukum internasional yang menyatakan tidak ada dasar hukum atas klaim tersebut.

Pada pembukaan latihan militer bersama di Manila minggu lalu, Letnan Jenderal Korps Marinir AS James Glynn mengatakan bahwa latihan ini menunjukkan bukan hanya niat untuk menegakkan perjanjian pertahanan bersama yang telah ada sejak 1951, tetapi juga kemampuan yang kuat untuk melakukannya.

“Tidak ada yang lebih cepat membangun ikatan selain melalui kesulitan bersama,” ujarnya, tanpa menyebutkan ancaman bersama yang dimaksud.

Beijing menyebut latihan militer itu sebagai tindakan yang “mengganggu stabilitas strategis regional” dan menuduh Manila “berkolusi dengan negara-negara luar kawasan”.

Sumber: Agence France-Presse

Artikel Lainnya