Jakarta, INDONEWS.ID – Di tengah krisis lingkungan dan darurat sampah yang membelit Jawa Barat, seorang perempuan dari Desa Kertamulya, Padalarang, muncul sebagai pelita perubahan.
Dia adalah Ema Suranta, nasabah PNM Mekaar yang berhasil mengubah tumpukan sampah menjadi sumber harapan dan ketahanan lingkungan lewat Bank Sampah Bukit Berlian.
Atas kiprah dan konsistensinya, Ema dianugerahi penghargaan Local Ace in Organic Waste Transformation, sebuah pengakuan yang menempatkannya sejajar dengan tokoh dan brand besar nasional.
Perjalanan Ema bermula dari kegelisahan yang dipicu oleh tragedi memilukan di TPA Leuwigajah tahun 2005, ketika gunungan sampah setinggi 60 meter meledak dan longsor, menewaskan 157 orang. Lokasinya hanya sekitar 20 km dari kediaman Ema. Tragedi itu kemudian menginspirasi peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) setiap 21 Februari.
Namun bencana kembali terjadi pada Agustus 2023, saat TPA Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat terbakar hebat, menyebabkan krisis sampah yang dijuluki “Bandung Lautan Sampah”. Peristiwa itu mengubah cara pandang Ema terhadap sampah: bukan hanya ancaman, tapi juga peluang untuk bergerak.
Ema memulai perubahan lewat langkah sederhana: mengumpulkan sampah anorganik dan menukarnya dengan produk rumah tangga untuk mendorong partisipasi warga. Strategi itu berhasil: dalam waktu singkat, 83 perempuan bergabung. Namun Ema tak berhenti di situ. Ia sadar, sampah organik jauh lebih dominan. Maka dimulailah eksperimen pengolahan sampah organik lewat budidaya maggot dan lele.
Bank Sampah Bukit Berlian pun bertransformasi dari sekadar tempat menukar limbah jadi pusat edukasi dan inovasi pengelolaan sampah organik.
Langkah Ema mendapatkan “bahan bakar” baru ketika bergabung dengan PNM Mekaar, program pembiayaan dan pembinaan ekonomi keluarga sejahtera dari PT Permodalan Nasional Madani (PNM). Pinjaman awal Rp3 juta digunakan Ema untuk membeli 10 biopond maggot. PNM lalu membangun kandang maggot senilai Rp35 juta (2023) dan Rp100 juta (2024), serta membuka akses pelatihan di perusahaan maggot profesional, Biomagg.
Kini, Ema menyimpan mimpi besar: mengekspor maggot hasil karya lokal dari desanya ke luar negeri.
Direktur Utama PNM, Arief Mulyadi, memberikan apresiasi tinggi kepada Ema. "Sosok Ema membuktikan bahwa perempuan prasejahtera bisa menjadi motor perubahan. PNM bangga bisa menjadi bagian dari perjalanan ini,” ujar Arief.
Kiprah Ema dan emak-emak Bukit Berlian juga sejalan dengan visi Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), yang menyebut Jawa Barat tengah mengalami darurat sampah, khususnya di wilayah Bandung Raya. Dalam pernyataannya, KDM menekankan pentingnya menyelesaikan persoalan sampah dari hulu, bukan sekadar memperluas tempat pembuangan akhir.
Ema Suranta, dengan gerakan komuniternya, menjadi contoh nyata bahwa perubahan bisa dimulai dari desa. Dari kegelisahan, muncul gerakan. Dari limbah, tumbuh harapan.*