Internasional

Mencari "Leviathan" dalam Perang AS-Israel Versus Iran

Oleh : very - Rabu, 25/06/2025 17:35 WIB


Diskusi perang Iran versus Israel dan AS. (Foto: hasil tangkap layar)

Jakarta, INDONEWS.ID Ketegangan geopolitik Timur Tengah semakin memanas. Serangan udara yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah target strategis di wilayah Iran memicu kecaman dunia. Ketakutan akan konflik global pun merebak.

Dunia kini harap-harap cemas, terhadap keberlanjutan perang tersebut. Apakah ini awal dari perang berskala besar?

Walau AS telah mengumumkan gencatan senjata, tapi tetap muncul dugaan bahwa ”jangan-jangan gencatan senjata itu hanya cara AS untuk menghentikan sementara perang”.

Bagaimana pula Indonesia harus menyikapi perang tersebut?

Untuk mendiskusikan hal tersebut, program ”Rakyat Bersuara” dengan host Aiman Witjaksono, pada Selasa malam (24/6) menghadirkan para narasumber antara lain, Ulil Abshar Abdalla-Ketua PBNU, pengamat politik Rocky Gerung, dan Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia, Islah Bahrawi.

 

Potensi Iran Keluar dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Ulil Abshar Abdalla atau akrab disapa Gus Ulil membeberkan bahaya Israel menyerang Iran. Bahkan, campur tangan Amerika Serikat dalam penyerangan terhadap Iran.

"Ketika Iran saat ini diserang Israel, salah satu bahayanya adalah potensi Iran keluar dari NPT (Non-Proliferasi Nuklir), perjanjian NPT. Karena dia diserang, kalau Iran keluar NPT, dia bisa menjadi negara yang mengembangkan nuklir tanpa pengawasan Internasional, justru ini berbahaya," ujarnya dalam diskusi yang bertajuk ”Iran Diserbu AS-Israel, Dunia Diambang Perang?” tersebut.

Menurutnya, sebelum berbicara soal kemungkinan perluasan konflik militer Israel-Iran menjadi konflik bersifat global, semuanya harus kembali pada basic-nya dahulu.

Dasar dari tindakan Israel menyerang Iran dengan alasan ”preemptive strike” atau serangan untuk preemptive karena Israel khawatir jika Iran memiliki senjata nuklir, maka itu akan membahayakan keamanan Israel.

"Sebelum senjata nuklir ini berhasil dikembangkan oleh Iran, dia harus diserang terlebih dahulu, itulah namanya preemptive strike. Ini persis seperti yang dilakukan Israel pada tahun 1981, ketika itu Israel juga pernah menyerang reaktor nuklir Irak dan pada saat itu keluar resolusi PBB nomor 487 yang isinya menyatakan unilateral Israel tuk menyerang Irak, menyerang reaktor Irak ini, ini tak bisa dibenarkan, sama sekali dianggap sebagai tindakan ilegal," tuturnya.

Dia menerangkan, semua harus tahu Israel selama ini belum pernah mengakui secara terbuka dia memiliki senjata nuklir, padahal Israel juga memilikinya.

Israel, kata Ulil, sudah mengembangkan nuklir sejak tahun 1960-an, di era Presiden AS Kennedy. Tapi Israel sampai saat ini tak pernah mengaku secara terbuka sebagai negara yang memiliki senjata nuklir.

"Jelas pelanggaran karena di dalam dunia ini ada suatu perjanjian unilateral namanya NPT, The Non-Proliferation Treaty (Perjanjian Nonproliferasi Nuklir). Perjanjian antarnegara tuk membatasi pengembangan nuklir. Itu sudah ada, nah sekarang sampai saat ini tak pernah menjadi party atau pihak yang menandatangi NPT ini," tuturnya.

Gus Ulil menjabarkan, bahayanya sebuah negara yang tak menandatangani perjanjian NPT itu adalah negara tersebut tak bisa dikontrol. Ada lembaga multilateral bernama IAEA, lembaga itulah yang bertugas menginspeksi semua negara yang mengembangkan program nuklir dan sampai sekarang Israel tak pernah menjadi bagian dari NPT sehingga dia tak bisa diinspeksi.

Dia memaparkan, ketika Iran diserang Israel, salah satu bahayanya adalah potensi Iran keluar dari NPT, meski hingga kini Iran belum menyatakan keluar dari NPT. Namun, saat Iran tak menjadi bagian dari perjanjian NPT, Iran bisa menjadi negara yang mengembangkan nuklir tanpa pengawasan Internasional.

"Jadi ini menurut saya hal basic harus diketahui publik, serangan Israel pada Iran justru membahayakan prospek pengawasan pengembangan nuklir oleh Iran oleh lembaga multilateral bernama IAEA itu. Ini berbahaya sekali," paparnya.

Terlebih, tambahnya, campur tangan AS dalam konflik Israel dengan Iran itu justru berpotensi mengakhiri rezim NPT tersebut. Padahal, NPT satu-satunya lembaga internasional yang bisa mengontrol dan mengawasi pengembangan sebuah negara atas nuklir.

"Campurnya Amerika di dalam konflik ini dengan menyerang Iran berbahaya sekali karena mengakhiri rezim NPT. NPT ini penting karena NPT inilah perjanjian multilateral yang bisa mengontrol sehingga tak semua negara tak kembangkan nuklir," katanya.

 

Gaza Menang dari Sisi Opini Global

Ulil mengatakan bahwa sejak meletusnya perang antara Palestina dan Israel pada 7 Oktober 2023 lalu, simpati warga dunia terhadap Palestina semakin meningkat, bahkan di Amerika Serikat (AS) dan Eropa.

"Saya mengatakan bahwa secara militer orang-orang Palestina di Gaza kalah, tetapi secara opini global mereka menang," katanya.

Tak hanya Palestina, sentimen terhadap pro-Iran dinilai Gus Ulil juga sama derasnya. Ia menilai bukan karena faktor bentuk negara Iran yang teokratis, melainkan tindakan Israel yang selama ini semena-mena.

"Memang di satu sisi Palestina lemah sekarang ini, tapi dari sudut moral standing mereka tinggi sekali dan begitu juga Iran sekarang ini kita melihat dukungan moral dunia kepada Iran itu hampir menurut saya menguasai media sosial," katanya.

Di satu sisi, Gus Ulil memandang, gelombang protes mendukung Palestina di AS memaksa Presiden AS Donald Trump mengeluarkan kebijakan yaitu berupaya pembersihan perguruan tinggi dari orang-orang yang simpati kepada Palestina.

Melihat awal kepemimpinan Trump, Gus Ulil berkomentar bahwa sebetulnya Trump tidak memiliki keinginan dalam kebijakan luar negerinya untuk berperang, melainkan melalui diplomasi dan perdagangan seperti yang dikatakan Trump saat di Riyadh, Saudi Arabia.

"Saya melihat hal itu sebagai sesuatu yang cukup menjanjikan, saya melihat sampai sekarang ini Trump masih pada track ini," katanya.

Menurut Gus Ulil, di balik Trump ada dua kubu yang bersaing. Salah satunya adalah kubu MAGA (Make America Great Again) yang menganut prinsip America First.

Kubu ini terdiri dari pendukung fanatik Trump dan berpandangan bahwa Amerika harus didahulukan, serta tidak perlu terlibat dalam petualangan global seperti era Obama.

"Tetapi faktanya di balik Trump ada kubu lain, kubu yang kepingin juga tetap mendukung Israel dan mereka ini jumlahnya memang tidak sebesar kubu MAGA, tetapi mereka juga cukup penting pengaruhnya," katanya.

Gus Ulil menyebut Trump sebenarnya agak enggan menyerang Iran. Mengutip beberapa analis, ia menilai serangan itu bersifat teatrikal karena AS bahkan sempat memberi tahu Iran soal serangan itu.

Serangannya pun terbatas, dan citra satelit menunjukkan Iran memindahkan hulu ledak nuklir dari Fordo, Isfahan, dan Natanz. "Jadi ketika Pesawat B2 itu sampai di lokasi sebetulnya sudah nggak ada barangnya itu. Itu menurut spekulasi, kita juga tidak tahu sebenarnya seperti apa?," terangnya. 

 

Rusia Akan Ikut Turun Tangan?

Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia Islah Bahrawi mengatakan bahwa Rusia diprediksi akan turut turun tangan dalam perang Israel-Iran. Hal itu jika Selat Hormuz ditutup oleh Iran, karena lokasi tersebut strategis dalam pengiriman minyak dan gas dunia.

"Rusia bangkit kalau Selat Hormuz ditutup pasti akan bangkit. Itu jalur utama dan parlemen Iran sudah menyetujui itu, dan kalau itu ditutup itu Indonesia akan jadi korban," kata dia.

Ia menjelaskan, alasan Rusia bergerak saat Selat Hormuz ditutup karena trading traffic oil miliknya dipengaruhi oleh selat tersebut. Sebab, lokasinya sangat vital bagi semua transaksi minyak global.

"Selat Hormuz kan dipakai Rusia untuk traffic oil trading mereka, dan Selat Hormuz sangat vital bagi semua negara untuk transaksi minyak," ujarnya.

Oleh karena itu, menurut Islah banyak semua orang mengetahui kecanggihan sebuah negara bernama Iran. Sebab, ada banyak hal yang akhirnya terungkap dari momen ini.

"Menurut saya, semua orang menjadi tahu betapa vitalnya fungsi negara bernama Iran dengan kecanggihan teknologi, kebangkitan teknologi, embargo, blokade puluhan tahun, tapi justru negara-negara di dunia tidak bisa mendeteksi improvement teknologi mereka," kata Islah.

 

Trump Tak Punya ”Promethean Ethics”

Sementara itu, pengamat politik, Rocky Gerung menyebutkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump tak bisa dipercaya. Hal itu karena perjanjian nuklir yang seharusnya damai justru digunakan untuk perang.

"Trump tak bisa dipercaya lagi," ujarnya.

Rocky memulai pembahasannya dengan mengutip filsuf Jerman, Günther Anders yang berupaya membaca sejarah dari perspektif kegagalan manusia untuk berimajinasi tentang kehidupan di depan. Dalam tesis Günther dibahas tentang “Promothean Shame”.

"Rasa malu Prometheus itu manusia. Prometheus artinya bertanya, ‘Who am i, anyway’. Gue ini siapa sebetulnya karena gagal membayangkan imajinasi tentang humanity itu. Kita membaca itu juga hari-hari ini, Who am i. Harusnya, Donald Trump bertanya begitu, kalau dia punya semacam Promethean Ethics tuh, tapi dunia ini dirusak oleh Trump," tuturnya.

Rocky lantas menyinggung tentang Donald Trump yang seharusnya bertanya pada dirinya sendiri `Who Am I` jika memang dia memiliki moral sebagaimana dalam Promethean Ethics dimaksud filsuf Jerman tersebut.

Lebih jauh, Trump dinilai tak memiliki “habits of the heart” sebagaimana dibahas oleh Alexis de Tocqueville, yang membuat Trump tampil seperti Adolf Hitler.

"Belum pernah ada seorang Presiden yang dengan sadar merusak demokrasi di negerinya sendiri. Sebar rasisme, usir imigran, padahal Amerika itu negeri imigran. Apa yang dibayangkan oleh Tocqueville, demokrasi adalah ’habits of the heart’, bagi Donald Trump nggak penting. Jadi ada satu individu yang sekarang seperti Hitler," ungkap dia.

"You mau kutuk dia, ya segitu maksimalnya, kita mau bilang lho kok Trump masuk dalam jebakan kedunguannya sendiri. Mungkin dikutuk oleh sejarah tuh," ujar Rocky yang suka mengucapkan kata ”dungu” tersebut.

Rocky juga membahas pemikiran Thomas Hobbes tentang konsep Leviathan. Meski Donald Trump saat ini memimpin negara Amerika Serikat yang disebut-sebut sebagai negara adidaya, tapi Donald Trump tak bisa dipercaya.

"Dirumuskan oleh Thomas Hobbes akhirnya manusia takut mati karena itu dia cari Leviathan tuk mengasuransikan rasa amannya itu timbulah seorang Leviathan, di mana rasa takut saya saya serahkan pada dia. Kita mau cari sekarang siapa Leviathan kita di dunia? ungkapnya.

"Trump tak bisa dipercaya lagi. Setelah Perang Dunia II, Amerika menjaminkan tak boleh ada senjata nuklir, Amerika akan jamin. Jepang tak boleh punya nuklir, Eropa tak boleh punya nuklir. Sekarang Trump masih dalam posisi yang sama, tapi mengizinkan Israel punya nuklir, melarang Iran, melarang Prancis, melarang Inggris, dalam perjanjian nonproliferasi tadi (NPT). Kan itu yang orang bilang, Eropa mungkin bilang ngapain gue dukung Trump, dia bilang mau jamin kita dengan payung nuklir dia itu, tapi Ukraina akhirnya lolos," kata Rocky. *

 

Artikel Lainnya