Jakarta, INDONEWS.ID - Bonus demografi Indonesia yang digadang-gadang menyediakan jumlah tenaga kerja produktif hingga 70% akan menjadi malapetaka jika tidak diperhatikan secara serius.
Yang terjadi saat ini adalah tenaga produktif banyak, tapi ketiadaan lapangan pekerjaan. Karena itu, menjadi pekerjaan rumah (PR) utama Indonesia saat ini adalah menciptakan lapangan pekerjaan.
Demikian dikatakan pengusaha Kamar Dagang dan Industri, Arsjad Rasjid dalam acara Universitas Paramadina – Meet The Leaders dengan tema, Bertemu, Terinspirasi, Menjadi, ‘’Driving Inclusive Growth: Innovation, Industrialization And Energy For Job Creation’’ di Kampus Paramadina, Sabtu (19/7/2025). Acara ini juga menghadirkan Prof. Didik J. Rachbini, Ph.D. yang memberikan sambutan dan host program, Wijayanto Samirin, MPP.
Arsjad Rasjid mengatakan, untuk menciptakan lapangan pekerjaan, dia mengusulkan pendekatan 3G. ”Pendekatan 3G sebagai pilar utama dalam strategi terstruktur untuk pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan, perlu dicoba yaitu Grow People, Gear Up Industry dan Go Green,” ujarnya.
Pertama, Grow People, diartikan sebagai membangun manusia Indonesia sebagai talenta global. ”Jadi, bukan hanya untuk bekerja, tapi juga untuk memimpin dan berinovasi. Hari ini hanya 10% lulusan S1, selebihnya adalah lulusan SMA-SMK dan SMP dan SD. Kebanyakan angkatan kerja kita malah lulusan SMP dan SD saja. IQ Indonesia juga saat ini diketahui turun,” katanya.
Kedua, Gear Up Industri yaitu mendorong reindustrialisasi berbasis nilai tambah dan pemerataan sebagai motor pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja. Langkah strategisnya adalah dengan melakukan tiga hal berikut yaitu, hilirisasi mineral dan manufaktur strategis, reindustrialisasi (dengan nilai tambah hingga USD 25 miliar ke PDB), dan perluas industri ke luar Jawa, dengan melibatkan UMKM.
Ketiga, Go Green yaitu menjadikan transisi energi sebagai peluang pertumbuhan ekonomi baru. Langkah strategis yang dilakukan dengan re-skilling pekerja sektor tinggi emisi, mendorong pembiayaan hijau untuk UMKM, dan melibatkan masyarakat lokal dalam proyek transisi energi.
Arsjad mengatakan, situasi internasional saaat sedang berubah. Perubahan tersebut membawa dampak secara tidak langsung kepada Indonesia, khususnya di bidang ekonomi.
”Peristiwa di Timur Tengah, Trump Effect, perang Ukraia – Rusia, dll membuat semuanya bergerak ke arah perubahan. China saja sebagai negara yang pertumbuhan ekonominya kemarin terus naik, saat ini cenderung turun,” jelasnya.
Dia mengatakan, fokus saat ini yang harus diperhatikan serius bukan hanya soal economic growth yang hanya 4,7 persen, tapi adalah daya beli masyarakat yang terus menurun. Masyarakat boleh dikatakan tidak punya uang karena itu daya beli turun.
Tantangan serius lain adalah jumlah pengangguran yang naik menjadi 7,28 juta orang. Tingkat pengangguran terbuka memang turun 4,7 % tetapi jumlah pengangguran justru naik menjadi lebih dari 7,28 juta orang.
Yang lebih memprihatikan lagi adalah fakta bahwa hampir 60% angkatan kerja kita masih berada di sektor informal. Menjadi pertanyaan besar adalah apakah lapangan kerja mencukupi untuk memperbaiki keadaan.
Hanya Ada Dua Sumber Pendapatan Masyarakat
Dia mengatakan, cara pandangnya simpel saja. Saat ini di Indonesia hanya ada dua sumber pendapatan masyarakat. Pertama, berdagang yang mendapat laba dari usahanya. Kedua, pekerja yang mendapat upah, bonus, dan lain-lain. ”Jika dua sumber itu tidak lagi ada, maka growth economy tidak akan ada lagi, pasti menurun tajam,” ujarnya.
”Jadi jelas, yang lebih urgent dalam menjadi tantangan saat ini adalah lapangan pekerjaan, dan pengangguran,” imbuhnya.
Untuk melihat data lapangan pekerjaan, katanya, hanya ada dua sumber data yakni investasi, yang dapat menciptakan lapangan kerja. Namun itupun penuh tantangan. Sumber investasi yang masuk lebih pada capital intensive daripada labour intensive.
Untuk menciptakan investasi, baik investasi kecil ataupun besar, tantangannya banyak sekali. Mulai dari soal tanah, preman, permitt, izin-izin dan segala macam persoalan.
Dari persoalan lapangan kerja, beberapa tahun terakhir, katanya, kita menyaksikan terjadinya migrasi yang cukup signifikan dari para tenaga terampil Indonesia ke luar negeri. Mulai dari perawat, ahli IT sampai insinyur.
Hal tersebut, katanya, bukan karena mereka tidak cinta negara ini, tapi di luar negeri upah yang diterima bisa 5-8 kali lebih besar dari jumlah upah di dalam negeri. Career path (jejang karir) dan akses ke jaminan sosial yang lebih baik.
”’’Kabur Dulu Aja’ itu adalah fakta, karena memang jumlah lapangan pekerjaan di dalam negeri yang sangat kurang. Hal itulah yang kini menjadi pertanyaan apa yang akan dilakukan dengan realitas yang ada seperti sekarang,” pungkasnya. *