Oleh: KH. Ahmad Dasuki / Babah Das, Wakil Ketua PWNU Provinsi Jawa Barat.
Jakarta, INDONEWS.ID - Rencana pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35 pada Agustus 2026 menjadi momentum penting bagi jam’iyah untuk tidak hanya menentukan arah organisasi ke depan, tetapi juga meneguhkan kembali akar sejarah, tradisi keilmuan, dan basis peradaban NU. Dalam konteks tersebut, Cirebon layak dipertimbangkan secara serius dan objektif sebagai tuan rumah Muktamar NU ke-35.
Pemilihan lokasi muktamar tidak semata soal teknis dan geografis, melainkan juga menyangkut nilai historis, simbolik, sosiologis, dan strategis bagi perjalanan Nahdlatul Ulama. Jika ditelaah secara mendalam, Cirebon memiliki legitimasi historis dan kultural yang sangat kuat untuk menjadi episentrum Muktamar NU mendatang.
1.Cirebon: Kota Wali dan Kota Santri yang Belum Pernah Menjadi Tuan Rumah Muktamar NU
Cirebon memiliki identitas yang sangat khas dalam sejarah Islam Nusantara. Kota ini merupakan pusat dakwah Sunan Gunung Jati, salah satu anggota Wali Songo yang memiliki pengaruh besar dalam proses Islamisasi Jawa bagian barat dan pesisir utara. Dari Cirebon, tradisi Islam yang moderat, akomodatif terhadap budaya, dan berorientasi pada dakwah sosial tumbuh dan menyebar ke berbagai wilayah Nusantara.
Secara sosiologis, karakter Islam Cirebon sangat dekat dengan watak Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah: religius, toleran, berbasis pesantren, serta menjaga harmoni antara syariat, budaya, dan kebangsaan. Karena itu, secara simbolik, penyelenggaraan Muktamar NU di Cirebon akan menjadi bentuk penghormatan terhadap mata rantai sejarah Islam Nusantara yang menjadi fondasi lahirnya NU.
Yang menarik, meskipun memiliki posisi penting dalam sejarah Islam dan tradisi pesantren, Cirebon belum pernah menjadi tuan rumah Muktamar NU. Padahal banyak daerah lain telah beberapa kali memperoleh kesempatan tersebut. Dengan demikian, penunjukan Cirebon akan menghadirkan rasa keadilan historis sekaligus pengakuan terhadap kontribusi besar ulama-ulama Cirebon terhadap NU dan bangsa.
- Kontribusi Ulama Cirebon dalam Sejarah Awal Nahdlatul Ulama
Cirebon bukan sekadar wilayah dengan banyak pesantren, tetapi juga tanah kelahiran dan perjuangan para ulama besar NU. Salah satu figur penting adalah KH. Abbas Abdul Jamil atau Kyai Abbas Buntet, ulama kharismatik yang menjadi bagian dari generasi awal NU.
Kyai Abbas dikenal bukan hanya sebagai ulama pesantren, tetapi juga pejuang kemerdekaan yang berperan dalam Resolusi Jihad dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pesantren Buntet menjadi salah satu basis penting penguatan tradisi keilmuan dan nasionalisme santri.
Jejak perjuangan tersebut diteruskan oleh KH. Abdullah Abbas yang dikenal luas sebagai ulama sepuh NU dengan pengaruh moral dan keilmuan yang sangat besar. Kehadiran figur-figur tersebut menunjukkan bahwa Cirebon memiliki hubungan organik dan historis dengan denyut perjalanan Nahdlatul Ulama.
- Cirebon Memiliki Mata Rantai Keilmuan Langsung dengan Pendiri NU
Salah satu kekuatan utama NU adalah sanad keilmuan. Dalam tradisi pesantren, sanad bukan sekadar hubungan akademik, tetapi juga transmisi spiritual, moral, dan metodologi dakwah.
Dalam konteks ini, Cirebon memiliki posisi sangat penting karena menjadi tempat lahir dan berkembangnya ulama-ulama yang memiliki hubungan langsung dengan KH. Hasyim Asy`ari.
- Solihin dari Babakan Ciwaringin adalah salah satu murid langsung KH. Hasyim Asy’ari yang turut mengalami masa penahanan pada era penjajahan Jepang. Ini menunjukkan kedalaman relasi ideologis dan perjuangan antara ulama Cirebon dengan pusat lahirnya NU di Jombang.
Selain itu, KH. Idris Kamali yang merupakan menantu KH. Hasyim Asy’ari juga berasal dari Cirebon. Fakta ini memperlihatkan bahwa hubungan Cirebon dengan NU bukan hubungan periferal, tetapi hubungan inti dalam jaringan ulama pesantren Nusantara
- Keterhubungan Genealogis dengan Syaikhona Kholil Bangkalan
Dalam sejarah lahirnya NU, Syaikhona Kholil Bangkalan memiliki posisi sentral sebagai guru spiritual KH. Hasyim Asy’ari dan para pendiri NU lainnya.
Perlu diketahui ada hubungan genealogis antara Syaikhona Kholil dengan Cirebon, beliau dikenal ada jalur dzuriyah Sunan Gunung Jati Cirebon.
Keterhubungan ini memiliki makna simbolik yang mendalam. Artinya, Cirebon bukan hanya penting secara geografis, tetapi juga menjadi bagian dari mata rantai spiritual dan genealogis ulama-ulama besar yang melahirkan NU.
Menyelenggarakan Muktamar NU di Cirebon sama artinya dengan mengembalikan NU kepada salah satu simpul utama sejarah dan ruh peradaban pesantren Nusantara.
- Basis Pesantren Tua dan Peradaban Santri yang Sangat Kuat
Cirebon dan wilayah sekitarnya memiliki ekosistem pesantren yang sangat kuat dan telah hidup selama ratusan tahun. Beberapa pesantren besar dan berpengaruh antara lain: Buntet Pesantren, Pesantren Babakan Ciwaringin, Pesantren Kempek, Pesantren Gedongan dll.
Pesantren-pesantren tersebut bukan hanya lembaga pendidikan, tetapi pusat pembentukan tradisi intelektual, dakwah, dan budaya Islam Nusantara. Banyak ulama nasional lahir dari kawasan ini.
Dari perspektif akademik, keberadaan pesantren tua menunjukkan bahwa Cirebon memiliki “modal sosial-keagamaan” yang kuat untuk menjadi tuan rumah kegiatan berskala nasional seperti Muktamar NU. Infrastruktur sosial masyarakat santri di Cirebon telah terbentuk secara alami dan berakar kuat.
- Aspek Geografis, Infrastruktur, dan Aksesibilitas Sangat Mendukung
Selain nilai historis dan kultural, Cirebon juga memenuhi syarat strategis dan teknis sebagai tuan rumah muktamar nasional.
Secara geografis, Cirebon berada di titik penghubung Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DKI Jakarta. Posisi ini menjadikan Cirebon mudah diakses dari berbagai daerah di Pulau Jawa maupun luar Jawa.
Ketersediaan: jalan tol Trans Jawa, jalur kereta api utama, fasilitas hotel dan penginapan, pusat pertemuan, serta dukungan kawasan pendidikan dan pesantren, menjadi modal penting bagi penyelenggaraan muktamar yang diperkirakan menghadirkan puluhan ribu peserta.
Di sisi lain, kultur masyarakat Cirebon yang religius dan terbiasa menerima tamu-tamu besar keagamaan juga menjadi nilai tambah tersendiri dalam menjamin kenyamanan dan kondusivitas pelaksanaan muktamar.
- Momentum Menguatkan Islam Nusantara dan Peradaban Pesantren
Muktamar NU bukan hanya forum organisasi, tetapi juga panggung peradaban. Menempatkan Cirebon sebagai tuan rumah akan mempertegas komitmen NU dalam menjaga tradisi Islam Nusantara yang berbasis pesantren, sanad keilmuan, dakwah kultural, dan warisan Wali Songo.
Cirebon merupakan representasi nyata titik temu antara: tradisi pesantren, dakwah wali, budaya Nusantara, nasionalisme santri, dan Islam moderat.
Nilai-nilai tersebut merupakan identitas utama Nahdlatul Ulama sejak didirikan.
Penutup
Dengan mempertimbangkan aspek historis, genealogis, keilmuan, sosiologis, strategis, dan infrastruktur, maka Cirebon memiliki legitimasi yang sangat kuat untuk menjadi tuan rumah Muktamar NU ke-35.
Cirebon bukan hanya layak secara teknis, tetapi juga pantas secara historis dan simbolik. Menyelenggarakan Muktamar NU di Cirebon berarti menghadirkan kembali ruh pesantren, jejak para wali, dan mata rantai ulama pendiri NU ke tengah perjalanan jam’iyah di abad kedua Nahdlatul Ulama.
Karena itu, sudah sepatutnya Panitia Muktamar dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mempertimbangkan Cirebon sebagai pilihan utama penyelenggaraan Muktamar NU ke-35 demi memperkuat kesinambungan sejarah, tradisi, dan peradaban Nahdlatul Ulama.
Wallāhul Muwaffiq ilā Aqwamit tharieq.
Babah Das
KBB, 21 Mei 2026.