Opini

Kwik Kian Gie Pergi, Indonesia Kehilangan Sosok Ekonom Pro Rakyat

Oleh : luska - Selasa, 29/07/2025 09:50 WIB


#OBITUARI:

oleh: ReO Fiksiwan

Ketika lanskap politik dan ekonomi Indonesia yang kerap bergolak, nama Kwik Kian Gie berdiri sebagai mercusuar integritas dan keberanian intelektual. 

Ia bukan sekadar ekonom atau politisi. Ia,  suara nurani  tak kenal lelah,  yang selalu mengingatkan bangsa akan pentingnya keadilan, kedaulatan, dan keberpihakan pada rakyat. 

Lahir sebagai keturunan Tionghoa di Juwana, Pati, pada 11 Januari 1935, Kwik tumbuh dalam masyarakat yang sering kali memandang etnisnya dengan prasangka. 

Namun, alih-alih menjauh, ia justru mendekap Indonesia dengan cinta yang tak bersyarat—sebuah nasionalisme yang tak dibatasi oleh darah gen keturunan, melainkan oleh komitmen terhadap kebenaran dan kemanusiaan universal.

Kwik bukan tipe politisi yang nyaman dalam kompromi. Ia bergabung dengan PDI Perjuangan bukan untuk mencari kekuasaan, melainkan untuk memperjuangkan idealisme yang ia yakini. 

Ketika menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Ekonomi dan kemudian Kepala Bappenas, ia tidak segan mengkritik kebijakan ekonomi yang menurutnya merugikan kepentingan nasional. 

Ia menolak penjualan aset negara secara serampangan, menentang intervensi lembaga asing yang menggerus kedaulatan ekonomi, dan berani menyuarakan bahwa utang luar negeri Indonesia telah menjadi ladang korupsi. 

Dalam sidang CGI, ia bahkan bertanya secara terbuka: “Apakah utang-utang itu juga dikorupsi?”—sebuah pertanyaan yang mengguncang, bukan hanya karena keberaniannya, tetapi karena kejujurannya yang langka di panggung kekuasaan.

Sebagai ekonom, ia bukan sekadar teknokrat. Ia pendidik sekaligus pendiri Institut Bisnis dan Informatika Indonesia (kini,  Kwik Kian Gie School of Business), dan penulis yang konsisten menyuarakan analisis tajam di media massa. 

Ia percaya bahwa ekonomi bukan sekadar angka, melainkan alat untuk membebaskan manusia dari ketidakadilan. 

Kritiknya terhadap neoliberalisme dan privatisasi bukan didorong oleh ideologi semata, tetapi oleh empati terhadap rakyat kecil yang kerap menjadi korban dari kebijakan elitis.

Ke-Tionghoa-an Kwik tidak pernah menjadi penghalang dalam perjuangannya. Justru dari identitas itu, ia menunjukkan bahwa nasionalisme tidak mengenal ras. 

Ia membuktikan bahwa seorang Chinese Indonesian bisa menjadi penjaga kepentingan bangsa, bukan musuhnya. 

Dalam masyarakat yang kerap terbelah oleh isu identitas, Kwik adalah jembatan—pengingat bahwa Indonesia adalah rumah bagi semua anak bangsa, tanpa kecuali.

Kini, setelah ia berpulang pada 28 Juli 2025 di usia 90 tahun, bangsa ini kehilangan salah satu pemikir paling jernih dan berani yang pernah dimilikinya. 

Namun warisan Kwik tidak mati. Ia hidup dalam gagasan-gagasan yang terus menginspirasi, dalam keberanian untuk berkata benar meski sendirian, dan dalam semangat untuk mencintai Indonesia dengan cara yang paling tulus: dengan berpihak pada rakyat.

Dalam hidupnya yang penuh prinsip, Kwik Kian Gie tak hanya meninggalkan jejak sebagai ekonom dan politisi, tetapi juga sebagai pemikir dan pendidik yang membentuk generasi baru Indonesia. 

Ia menulis sejumlah buku yang menjadi warisan intelektual bangsa, di antaranya Analisis Ekonomi Politik Indonesia (1995), Gonjang Ganjing Ekonomi Indonesia (1998), Kebijakan Ekonomi Politik dan Hilangnya Nalar (2006), Nasib Rakyat Indonesia dalam Era Kemerdekaan, dan Pikiran yang Terkorupsi. 

Buku-buku ini bukan sekadar analisis, melainkan refleksi tajam atas kebijakan ekonomi yang menurutnya telah kehilangan arah dan keberpihakan.

Di balik sosok publik yang tegas, Kwik adalah suami dari Dirkje Johanna de Widt, perempuan asal Rotterdam yang menemaninya sejak masa studi di Belanda. 

Mereka membesarkan tiga anak: Kwik Ing Hie, Kwik Mu Lan, dan si bungsu Kwik Ing Lan yang lahir di Indonesia.

Keluarga ini menjadi cerminan dari keberanian Kwik untuk menjembatani dua dunia—Timur dan Barat—tanpa kehilangan akar dan komitmen terhadap tanah air.

Legasi Kwik bagi Indonesia melampaui jabatan dan tulisan. 

Ia mendirikan Institut Bisnis dan Informatika Indonesia, yang kini dikenal sebagai Kwik Kian Gie School of Business —sebuah lembaga pendidikan yang ia harapkan menjadi tempat lahirnya pemikir-pemikir ekonomi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berintegritas. 

Ia juga turut mendirikan SMA Erlangga di Surabaya dan Institut Manajemen Prasetiya Mulya, menunjukkan bahwa pendidikan adalah medan perjuangan yang tak kalah penting dari politik.

Namun mungkin warisan terbesarnya adalah keberanian untuk tetap berpikir merdeka. 

Di tengah arus liberalisasi dan dominasi lembaga asing, Kwik berdiri tegak membela kedaulatan ekonomi Indonesia. 

Ia menolak tunduk pada kekuasaan yang tidak berpihak pada rakyat, dan memilih jalan sunyi intelektual yang sering kali membuatnya sendirian. 

Tapi dari kesendirian itu, lahir suara yang jernih dan tak tergantikan.

Kwik Kian Gie telah pergi, tapi gagasannya tetap hidup. 

Ia adalah pengingat bahwa menjadi nasionalis bukan soal asal-usul, melainkan soal keberpihakan.

Dalam banyak hal, Kwik ia telah berpihak pada Indonesia dengan raga, jiwa dan sepenuh hati.

Selamat jalan, Pak Kwik. Terima kasih telah mengajarkan bahwa idealisme bukan utopia, melainkan kompas moral yang harus dijaga, bahkan ketika dunia memilih jalan yang lebih mudah, pragmatis.

*Ditulis dalam perjalanan riset BRIN ke Gorontalo, 29 Juli 2025

TAGS : Kwik kian gie

Artikel Lainnya